Posted by: Qodarian Pramukanto | 14th Mar, 2019

STUDI BANDING AGROWISATA & EDUKASI EPTILU GARUT

cover_agrowisata_eptilu

Kawasan Agrowisata & Edukasi EPTILU Garut

24-epilu-signage1

Signage kawasan Agrowisata & Edukasi

Kawasan Ago-Edu-Wisata EPTILU yang berada di Jl Raya Cikajang KM 24,
Kampung Leuwiereng, Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Garut, Jawa
Barat ini dikembangkan pada lahan agribisnis komoditas jeruk siam asal
Garut.  Kegiatan agribisinis pada lahan seluas 1.2 ha dengan populasi
tanaman
sekitar 1000 batang tanaman jeruk mempunyai produktivitas antara 5
hingga 10 kg per tanaman per tahun.  Pengembangan agribisnis komoditas
jeruk yang dilakukan oleh Rizal Fahreza, S.P (alumni Departemen Agronomi
dan Hortikultur, Fakultas Pertanian IPB) ini menyertakan petani-petani
sekitar di banyak kecamatan sebagai mitra kerja.  Adanya sinergi antar
petani ini akan mampu meningkatkan kapasitas agribisnis menjadi
agroindustri komoditas jeruk.

01-1

Lanskap Agrowisata & Edukasi EPTILU Garut

Berdasarkan aktivitas agribisnis ini dikembangkan bentuk pemanfaatan
sumberdaya pertanian berdasarkan konsep wisata yang berbasis pada
pemanfaatan jasa agribisnis (agro-based services) dalam bentuk
agrowisata.  Konsep pengembangan juga tidak semata-mata berorientasi
pada agribisnis dan agrowisata, tetapi juga pengembangan kawasan dalam
bentuk memfasilitasi aspek-aspek edukasi.  Aspek edukasi yang
dikembangkan tidak hanya mencakup edukasi yang berkaitan teknologi
budidaya pada petani (mitra) yang akan mengembangkan agribisnis jeruk,
tetapi juga memfasilitasi kegiatan penelitian, studi banding (benchmarking)
bagi mahasiswa, maupun bentuk-bentuk aktivitas edukatif bagi siswa
sekolah. Objek dan daya tarik agrowisata (ODTW) dikembangkan berdasarkan
komponen dalam sistem agribisnis, yaitu agribisnis off-farm hulu, agribisnis
on-farm dan agribisnis off-farm hilir.  Bentuk aktivitas wisata off-farm hulu
dikembangkan berupa aktivitas pemilihan bibit, cara okulasi, pengetahuan
tentang varietas jeruk. Bentuk daya tarik aktivitas wisata on-farm mencakup
aktivitas menyiapkan lubang tanam dan menanam.  Sedangkan aktivitas
wisata off-farm hilir berupa wisata petik jeruk yang mengedukasi cara yang
benar untuk memetik yang bedampak dalam peningkatan produktivitas.
Rangkaian aktivitas wisata dari off-farm hulu, on-farm hingga off-farm hilir ini
menjadi dasar dalam mengkonsepkan nama kebun, yaitu EPTILU.
EPTILU   merupakan akronim dari F3 (Fresh From Farm) yang dilafalkan
dengan lidah orang Garut dan umumnya orang Sunda menjadi EPTILU
(ep=f dan tilu=tiga).
 

 

OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA

01-1

Objek dan daya tarik agrowisata berupa kebun, fasilitas gathering, meeting, saung,mushola, toilet, dapur, menara observasi, gerbang dan jalur sirkulasi

04-ODTW

Objek wisata frut court buah dan produk turunan

05-ODTW

Objek wisata kebun buah dengan aktivitas permainan untuk anak

06-ODTW

Objek wisata kebun buah dengan aktivitas saung untuk meeting, istirahat, menikmati kuliner lokal (“ngeliwet”)

07-ODTW

Objek wisata kebun buah dengan aktivitas memetik buah

08-ODTW

Fasilitas pendukung berupa jalur sirkulasi wisata

09-ODTW

Fasilitas pendukung berupa jalur sirkulasi wisata

10-ODTW

Objek agrowisata ternak kelinci hias dan pedaging

gerbang_ok

Fasilitas pendukung berupa gerbang kawasan agrowisata dan edukasi EPTILU

01-signage

Fasilitas pendukung berupa rambu (signage) informasi, arah, pemberitahuan,  peringatan.

02-signage

Fasilitas pendukung berupa rambu (signage) informasi, arah, pemberitahuan, peringatan.

01-observation tower

Fasilitas pendukung berupa saung/menara pengamatan (observation tower)

Link: [html]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 8th Mar, 2019

“PLANNING & DESIGN IN DISASTER MANAGEMENT & MITIGATION SYSTEM”

Planning-design-disaster-management-mitigation-system-ok

Planning and Design in Disaster Management and Mitigation systems – Seminar IALI

Planning-design-disaster-management-mitigation-system-ok1

Planning and Design in Disaster Management and Mitigation systems – Schedule IALI

Berkenaan dengan akan diselenggarakan kegiatan Pameran,
Seminar dan Pelatihan yang diselenggarakan oleh Pengurus
Nasional IALI pada tanggal 20 – 24 Maret 2019, bagi mahasiswa
Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian IPB,
khususnya yang sedang mengikuti mata kuliah Perencanaan
Lanskap (ARL 316) diwajibkan untuk berpartisipasi dalam
kegiatan di atas, terutama pada acara Seminar 23 Maret 2019.
Kepesertaan dalam seminar (Sabtu, tgl 23 Maret 2019) akan
diperhitungkan sebagai kehadiran dalam perkuliahan dengan
topik sejenis, yaitu:
Perencanaan Lanskap untuk Mitigasi Bahaya
Lanskap 
(Landscape Hazard).    [link to LMS IPB]
Pendaftaran dilakukan secara online ke alamat:
http://bit.ly/FormPendaftaranSeminardanPelatihanIALI
Biaya pendaftaran: Mahasiswa Rp. 50 000,-,  Umum Rp. 100 000,-
Posted by: Qodarian Pramukanto | 6th Mar, 2019

IGU-UGI 2019 Thematic Conference

first circular_26_07_2018_EN-1
 
TRANSFORMATION OF TRADITIONAL CULTURAL LANDSCAPES

Cultural landscapes are multifunctional landscapes which reflect a complex correlation between natural, historical, political, and cultural factors. Traditional cultural landscapes are shaped by traditional land management practices. The loss of these management practices leads to ecosystem change, which successively is likely to lead to the loss of important biological or cultural values. The extent of integration between environmental (ecological) and socio-economic functions of the landscape depends on the patterns and intensities of land use. Land use is a basic human activity that shapes socio-economic development and modifies structures and processes in the environment. Traditional land use is disappearing due to the intensification of agricultural production on the one hand and the retreat of agriculture from unfavourable areas on the other hand. Sustainable development and the conservation of biodiversity and landscape diversity depend on the continuation of human intervention. In this way the traditional and highly valued landscapes can be maintained whilst also assisting economic and social sustainable development. Unsuitable management practices could be the cause of increased soil erosion and natural disasters. Appropriate policies should be applied to decrease such negative impacts on cultural landscapes. The role of landscape parks, as areas with high conservation value and high development appeal, is also important. They can be promoted as specific development areas while contributing to the maintenance of the cultural landscapes and biodiversity. The study of the links between landscape features and regional development is relevant for the development of policies related to land use and regional development, such as agricultural policies, regional policies and spatial planning policies. Cultural interpretation and significance of landscape can be also of controversial and object of disputes under circumstances of conflicts and political struggles. They can turn out in ‘urbicide’ like it was in the Balkans or ‘archeocide’ like in Syria to cancel tracks of cultural elements as it happens in the Mediterranean Basin in recent years. Thus issues of fair perception and valorisation of cultural heritage can be of special significance for geographical studies. Due to the location of the conference part of the sessions will be devoted to the Mediterranean cultural landscapes.

 
Continue read [html] [pdf]
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Posted by: Qodarian Pramukanto | 6th Mar, 2019

International Symposium, ISIESCL: 17~19 October 2019

CFP ISIESCL 17-19 Oct'19 U-Gorakh 5-Feb-19 4-p
Preamble and the Focal Sub-Themes

Most of the ancient cultures, especially the Asians in the ancient past ordered the natural world on cosmological principles and shaped harmonious relation with natural environment. Mountains and springs, plains and rivers, were sites and channels of sacred power from historical events and timeless sacred forces. And, geographical features were inscribed by human hands to mark their surroundings environment in the frame of built structures of cultural landscape.  Environment and sustainability’ is a worldwide multidisciplinary concern which covers many points of view of the common impacts of socio-economic-cultural planning wellbeing and related advancement. Concerned with the complex interactions between development and environment, its reason is to see for ways, paths and implies for framing sustainability in all human activities aimed in such a march of advancement. This Symposium will examine the role current environmental burning issues, sustainability and consequential emerged issues in the context of UN-SDGs and associated cultural and sacred landscapes with emphasis on awakening the deeper cultural sense in harmonizing the world, drawing upon the perspectives of multi-disciplinary and cross-cultural interfaces, beyond the world of Asia.

* The five broad themes are chalked out; of course any related themes will also be taken care of:-

(A) Environment, Development and Landscape:
Interfaces and interrelationships between Environment, Development and Landscape: Moral Ethics, Human Behaviour; Environment Quality and Health Issues: Cultural and scientific issues; Urbanisation and Environment; Environment Pollution, Hazards and Disaster: Management and Sustainable Plans; Global
Warming: Concern, Vulnerability and Threat Management, and
related themes of cultural  landscapes.

(B) Sustainability, Global Understanding and UN-SDGs: Sustainability in Economic, Social and Cultural Context, Sustainability Policy and Practice, Sustainability in Education, Gender and Development, Energy for Sustainable Development, Inclusive Growth and Sustainable Development, Agricultural Suitability, Sustainable Development Goals in Indian Perspective, and other related themes of Landscape and Culture; Modelling Sustainability and the Cultural wholes.

(C) Cultural Landscape, Ritual Landscape & Cosmogram: Ritual landscape and sacredscapes: ritualisation process, cosmogram and complexity; cosmic geometry and cultural astronomy: geometry of time, travel genre and circulation network, hierarchy and patterns, sacred functionaries & sacred systems of network; sacred city and cosmic order, representation and
identity between cultural (religious) landscape and heritage landscape, archetypal representation, cosmogony and geomantic
framing, cross-cultural comparison, and other topics related to the
theme.

(D) Heritage Cities, Religious notions & making of Harmonious World:
‘Interfaces’ and cultural interaction: sharing the experiences of different groups from different parts of the world, role of NGOs in mass awakening, deep ecology, defining and identifying cultural heritage, religion and cultural tourism management; planning for sacred places: heritage preservation and conservation, dynamics of change and ethical issues, social-cultural implications and public
participation; spatial dimension of heritage cities; envisioning the role of religious heritage sites and cultural landscapes in sustainable tourism; inclusive heritage development.

(E) Places of Religion: Sacrality, Spatiality and Sustainability:
Role of places of religion in human civilization; Religious heritage and sacredscapes; Gorakshnath Pith and its associated sacred sites: spatial arrangement, socio-cultural characteristics, sacred happenings, awakening the masses; Sacredscapes of religious groups: Hinduism, Islam, Christianity, Judaism, Buddhism,
Sikhism, and others; Multi-religious sites; Ritualscapes- sacrality, myths and designs; Faithscapes; role of sacrality in space, time and function; archetypal representation, and planning holy-heritage cities; Monastic traditions and emergence of socio-cultural landscapes; the Buddhist Sacredscapes: Historicity, cultural identity, dispersal and adaptation, inter-religious discourses, interfacing sacrality and spatiality, cross-cultural interfaces; Asian religious places and their role in planning and sustainability; Comparative Study of Cultural Links and Ritual Landscapes between Gaya (Korea) and India.

Structure

2-days Symposium and keynote addresses (17~19 October 2019), and 1-day field trip (19 October 2019) to experience the Buddha’s life incidence sacred sites nearby to Gorakhpur, like Lumbini (birth, 104 km), Kapilvastu (childhood, 40 km), Kushinagar (death, 53 km), and several other sites.

Deadlines:

  • An abstract of mx. 200~250 words (with details of address, tel., Fax, email) by 15 March 2019.
  • Full Paper (6000-6500 words; Harvard Style of Manuel, having Abstract, Keywords (5-8),

followed with Introduction at the beginning, and Conclusion at the end, focal themes/subthemes and case studies in the text, and at the end References); by 30 July 2019.

(Strictly in the Harvard Style Manuel: citing author/s by surname/s, year: pp. in the text within parentheses, and full references at the end arranged alphabetically by surname, full initials, year, title of the paper/ book. Journal/Book, Publishers, Place); Details will be provided later on.

link detailed Circular, CFP [pdf]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 5th Mar, 2019

ARL 315 : AGROTOURISM LANDSCAPE 2019

K- 06.  SPATIAL ARRANGEMENT OF AGROTOURISM
              LANDSCAPE
COVER ARL 315 K-06 2019
Penataan Ruang untuk Agrowisata merupakan upaya untuk
mengarahkan pemanfaatan ruang secara fungsional. Ruang-
ruang fungsional berperan dalam memfasilitasi aktivitas/
program agrowisata yang dikembangkan. Pengembangan
dilakukan berdasarkan konsep yang diformulasikan. Penataan
lanskap agrowisata dituangkan ke dalam zona yang dibagi
ke dalam ruang-ruang yang dikembangkan untuk memfasilitasi
dan berdasarkan spesifikasi aktivitas yang dibutuhkan dan
mengacu pada fungsi yang dikembangkan.  Konsep
pengembangan zonasi (ruang) dilakukan baik berbasis
sumberdaya eksisting (resource-based) maupun berbasis
aktivitas (activity-based).
 Link to handout [html]

COVER_OK

Site Plan Report Cover

Penyusunan dokumen SITE PLAN TOKATINDUNG REFERENCE OF INTEGRATED ECO FARMING DEVELOPMENT (TRIED) di Desa Rinondoran, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara  ini dibuat dalam rangka memfasilitasi penyelenggaraan program Corpotrate Social Responsibility Departement,  PT. Meares Soputan Mining (MSM) – PT Tambang Tondano Nusajaya (TNT).  Tapak seluas 5.4 ha ini dikembangkan dengan tujuan sebagai sarana penerapan inovasi teknologi secara kreatif dan terintegrasi berupa praktek Good Agriculture Practice (GAP) yang diselenggarakan secara ramah lingkungan dalam rangka mendukung dan menciptakan kewirausahaan di masyarakat untuk membentuk kehidupan hari ini dan masa depan yang lebih baik.

Berdasarkan dokumen ini diharapkan dapat dioptimalkan dan menjadi acuan serta panduan utama dalam pelaksanaan pembangunan tapak.  Semoga dengan tesusunnya Site Plan TRIED ini dapat menjadi salah satu bentuk inisiasi untuk mewujudkan penguatan ekonomi masyarakat lokal dan  kewirausahaan masyarakat melalui pengembangan sistem  pertanian berkelanjutan.

Pada kesempatan ini disampaikan terima kasih pada Corpotrate Social Responsibility Departement,  PT. Meares Soputan Mining – PT Tambang Tondano Nusajaya atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan untuk menyusun dokumen Site Plan ini.  Semoga dokumen ini dapat mendukung dalam mewujudkan program CSR yang bermanfaat, tidak saja bagi perusahaan,  tetapi juha masyarakat, pemerintah daerah, maupun pihak terkait lainnya.

PERSPECTIVE-S

Perspective of TRIED Site Plan

[html] [link movie animation]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 5th Mar, 2019

Site Plan dan DED Fasilitas Industri Berbasis Kelautan, Buli, Haltim

cover2
 
Halamahera Timur merupakan kabupaten yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi oleh perairan laut Halmahera dan Samudera Pasifik.  Perairan yang berada kawasan pesisir Buli, Kecamatan Maba ini  kaya akan hasil perikanan laut.  Data produksi perikanan pada tahun 2016 mencapai 12.036,60 ton dengan jumlah rumah tangga perikanan tangkap sebanyak 1.447 (BPS, 2017).  Ikan teri merupakan salah satu komoditas ikan yang melimpah di wilayah tersebut.  Komoditas ini cukup banyak diperdagangkan di pasar Buli, pasar Ternate, dan bahkan telah tersebar sampai pada beberapa wilayah di Indonesia antara lain Manado, Makasar, Surabaya dll.

Pengembangan komoditas berbasis kelautan, khususnya ikan teri ini sangat potensial jika dipusatkan di wilayah Buli.  Selain didukung oleh potensi tenaga kerja yang banyak, wilayah ini juga didukung oleh fasilitas terutama akses pasar yang lebih terbuka.  Oleh sebab itu perlu dilakukan identifikasi potensi, sumberdaya dan jaringan pemasaran untuk pengembangan industrialisasi ikan teri dan produk turunan.

Sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat, PT. ANTAM Tbk. yang bekerjasama dengan LPPM IPB mewujudkan program industrialisasi komoditas ikan teri dalam bentuk membangun fasilitas pengolahan teri dan turunannya.  Fasilitas ini mengakomodasikan aktivitas pengolahan bahan baku teri kering dan teri basah menjadi produk olahan dengan kemasan yang mengusung brand lokal.    Salah satu kegiatan tersebut adalah penyusunan dokumen Site Plan dan Detail Engineering Design (DED) Fasilitas Pengolahan Teri.  Dokumen Site Plan dan DED ini dituangkan berupa gambar rencana (Zonation, Site Plan, Building/Structure Plan, Sirculation Plan, Planting Plan) dan gambar rencana teknis (Denah Lantai, Tampak, Potongan, Rencana Atap, Rencana Pondasi, Rencana Pola Lantai, Denah Pembalokan, Rencana Air Bersih, Rencana Utilitas, dan Rencana Listrik).

 
Model
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Posted by: Qodarian Pramukanto | 3rd Mar, 2019

Master Plan Ekowista Bahari Kawasan Pantai Pulisan

COVER
Pantai Pulisan di desa Pulisan, kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara merupakan kawasan pesisir yang kaya sumberdaya alam baik terestrial maupun aquatik. Kualitas sumberdaya alam terestrial dan akuatik kawasan pantai Pulisan mempunyai spektrum dari yang sensitif (fragile) hingga yang tidak sensitif.  Beberapa kawasan sensitif antara lain lokasi selam (diving site), formasi terumbu karang, formasi padang lamun dan kawasan hulu sungai atau saluran drainase alami. Sedangkan kawasan yang tidak sensitif, antara lain merupakan bagian tertentu dari pantai (beach) yang tidak terdapat formasi terumbu karang atau padang lamun.

Keberadaan sumberdaya alam dengan kualitas dan nilai intrinsict tersebut merupakan potensi yang dapat dikembangkan dalam bentuk pemanfaatan jasa lingkungan (wisata) dengan arahan yang sesuai dengan karakteristiknya. Pengembangan ekowisata yang berorientasi pada potensi sumberdaya alam (supply side) ini harus dilakukan secara hati-hati. Karakteristik sumberdaya ekowisata ini menjadi penentu dalam pengembangan objek dan daya tarik ekowisata. Oleh karena itu bentuk pengalaman berwisata yang akan diperoleh pengunjung sangat tergantung pada pada karakteristik sumberdaya ekowisata dan juga karakteristik wisatawan.

Studi yang dituangkan berupa dokumen Master Plan Kawasan Ekowisata Pantai Pulisan, Desa Pulisan, Kecamatan Likupang, Kabupaten Minahasa Utara ini terlaksana atas kesempatan dan dukungan dari Corpotrate Social Responsibility Departement, PT. Meares Soputan Mining – PT Tambang Tondano Nusajaya.  Ucapan terima kasih kami dihaturkan atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan untuk menyusun dokumen.  Semoga kajian yang dilakukan sebagai salah satu dari sekian banyak upaya pengembangan program lainnya yang dilakukan oleh PT MSM-PT TTN ini dapat menjadi acuan dan arahan dalam pengembangan wisata pantai kawasan Pulisan, sehingga dapat bermanfaat bagi perusahaan, masyarakat, pemerintah daerah, maupun pihak terkait lainnya.

01_Bukit Pulisan-3
Pemandangan perairan dari bukit Pulisan sebagai Selfie spot
02_Pantai Pulisan
Aktivitas wisata dan rekreasi di Pantai Pulisan
03_VIew Bukit Pulisan-s
Pemandangan pesisir Pantai Pulisan
04_VIew pantai_Pulisan-s
Pantai pasir putih di bagian Timur Pantai Pulisan
05_Pantai Peteluran Penyu-2
Pantai Pulisan habitat penyu bertelur
07_Dive Site-2-s
Batu Mandi, salah satu dari lima titik penyelaman (dive spot) di perairan pantai Pulisan
08-GATE_PULISAN_VILLAGE-s
Gerbang Desa Pulisan, sebagai akses masuk menuju kawasan wisata bahari Pantai Pulisan
12_view_tanjung_pulisan-s
Tanjung Pulisan, ujung “tanduk” semenanjung pantai Pulisan
13_view_tanjung_pulisan-s
Tanjung Pulisan
16_Dive Site-3-s
Diving site Batu Pendita, kawasan Pantai Pulisan
20_View_pantai_pulisan-s
View beberapa semenanjung di kawasan pesisir Pantai Pulisan
Posted by: Qodarian Pramukanto | 2nd Mar, 2019

KONSEP PENGEMBANGAN AGROTEKNOPARK – AGROWISATA KERINTJI

COVER
Pengembangan Agroteknopark dan Agrowisata dengan
model multifunctional landscape berbasis perkebunan
kopi lokal dan perikanan (ikan semah) di kawasan
Bukit Khayangan, Kota Sungai Penuh, Kabupaten
Kerinci, Provinsi Jambi.
Rencana kegiatan ini mencakup: penyusunan konsep
pengembangan kawasan Agroteknopark dan Agrowisata,
penyusunan site plan kawasan, dan penyusunan
action plan.
00-gerbang1 Gerbang kawasan wisata
Bukit Khayangan, Kota
Sungai Penuh, Karinci,
Jambi
01-SUNGAI Sungai sebagai habitat
ikan semah.  Keberadaan
ikan semah menjadi
indikator kualitas perairan,
karena habitat ikan semah
di sungai dengan kualitas
perairan yang baik.
03-KOPI1 Proses grading  Coffee Bean
04b-KOPI Salah satu brand
kopi lokal
 ikan semah lima setengah kg Ikan semah 5.5 kg hasil
tangkapan nelayan di
Sungai Batang Merahu.
 01-kopi Tanaman kopi jenis
lokal di dalam tapak
pengembangan
agroteknopark dan
agrowisata, kawasan
Bukit Khayangan
05-KOPIa Kopi lokal jenis robusta
 02-Casia_vera Kulit Manis merupakan
(Casia vera) komoditas
andalan yang menjadikan
Kerinci sebagai penghasil
kulit manis terbesar di
Indonesia
 03- sungai di tapak pegembangan agrotchnopark-agrotourism Sungai jernih sebagai
habitat ikan semah,
melintas di dalam tapak pengembangan
agroteknopark dan
agrowisata, kawasan
Bukit Khayangan
Posted by: Qodarian Pramukanto | 2nd Mar, 2019

Grammatophyllum speciosum

01-Gramma_speciosa Rumpun sympodial yang
berukuran raksasa dengan
helai daun yang melekat pada pseudobulb bulat dan panjang
dan menyerupai batang dan
daun tebu rumpun tinggi
rumpun dapat mencapai
sekitar tiga meter
03-Gramma_speciosa Mahkota dan kelopak bunga mempunyai ukuran sekitar
10 cm dengan warna pucat
kuning kehijau-hijauan dan
bercorak bintik-bintik merah
gelap hingga merah maron
dapat berjumlah antara 40
hingga 80 pada satu tangkai
bunga
polinator Aroma bunga disukai oleh
serangga (polinator) seperti
lebah kelulut (Aphis trigona)

Grammatophyullum speciosum ecotype Balikpapan, setelah sekitar 10 tahun baru memasuki fase generatif dengan munculnya dua spike.  Mempunyai rumpun sympodial yang berukuran raksasa dengan helai daun yang melekat pada pseudobulb bulat dan panjang dan tinggi rumpun dapat mencapai sekitar tiga meter. UKuran rumpun yang besar dan tinggi ini menyebabkan anggrek ini dikenal sebagai anggrek raksasa. Psudobulb [continue reading]

Older Posts »

Categories