Posted by: Qodarian Pramukanto | 27th Oct, 2016

FESTIVAL BADUY 2016

Pemberitahuan:

Festival Baduy 2016 yang semula dijadwalkan tanggal 28 – 30 Oktober 2016 DIUNDUR menjadi tanggal 4 – 6 November 2016.

festival-baduy-2016_20161014_094307

Posted by: Qodarian Pramukanto | 27th Oct, 2016

THE 2ND INTERNATIONAL SYMPOSIUM FOR LANDSCAPE DEVELOPMENT

isld_2nd flyer

Posted by: Qodarian Pramukanto | 31st Aug, 2016

TAMAN EKOLOGI KILDONG: ALAM TERKEMBANG MENJADI GURU

| Qodarian Pramukanto | Departemen Arsitektur Lanskap |  Fakultas Pertanian | Institut Pertanian Bogor |

Setelah berjalan kaki sekitar 1.5 km dari stasiun subway di subdistrik Kildong, bagian timur kota Seoul, tibalah kami di daerah lembah berawa yang rimbun dipadati tumbuhan air.  Pada lahan sekitar 24 000 pyong atau kira-kira sepuluh kali luas lapangan sepak bola ini terdapat bagian rendah tempat bermuara parit-parit kecil dan beberapa mata air yang keluar dari daerah agak berbukit di sekitarnya.  Tapak ini menjadi terkenal sejak dibangunnya taman ekologi yang berfungsi sebagai laboratorium alam oleh pemerintah kota metropolitan Seoul.

Kildong Saengtae Kongwon adalah nama Korea untuk taman ekologi ini.  Taman kota yang menjadi salah satu taman pendidikan lingkungan yang terbaik dari beberapa taman sejenis yang ada di Seoul adalah hasil restorasi dan perlindungan atas sumberdaya yang ada di kota.  Taman ini berfungsi mengakomodasi berbagai kegiatan ilmiah dalam bentuk pengamatan tumbuhan, satwa dan lingkungan alam.

Wujud taman yang mengemban misi khusus tersebut, sangat berbeda dengan lazimnya taman kota atau ruang publik lainnya.  Gambaran akan keramaian pengunjung, kesibukan penjaja makanan dan sovenir tidak tampak sama sekali, kecuali hanya segelintir orang serta satu dua mobil terparkir di muka pintu gerbang.  Suasana ini dapat dirasakan saat tiba di pintu gerbang taman (Gambar 1).

Gambar-1

 

Gambar-2

Meskipun pada hari libur, pengunjung yang datang hanya sekelompok kecil rombongan keluarga yang terdiri orang tua dengan dua atau tiga anak (Gambar 2). Padahal untuk berkunjung ke taman ini terbuka bagi siapa saja dan tanpa dipungut biaya, namun hal itu hanya dapat dilakukan setelah mendaftar  minimal sepekan sebelumnya.  “Biasanya reservasi kunjungan pada akhir pekan dan hari libur selalu penuh”, kata petugas pengelola taman.  “Dan pada waktu tersebut kunjungan dikhususkan bagi pengunjung umum yaitu keluarga dan peorangan.  Bagi pelajar atau pakar kunjungan hanya pada hari kerja”, lanjut petugas tersebut.

Pengunjung yang terdaftar akan dikategorikan kedalam kelompok umum dan khusus.  Kategori umum adalah pengunjung yang datang sekedar memanfaatkan taman tanpa memiliki latar belakang pengetahuan ekologi.  Sedangkan kelompok khusus berkunjung dengan tujuan untuk mengamati …. continue reading

Posted by: Qodarian Pramukanto | 23rd Aug, 2016

RELUNG TERCIPTA DIANTARA DUA KONFLIK: FENOMENA BIOREGION DMZ, KOREA

| Qodarian Pramukanto | Departemen Arsitektur Lanskap |  Fakultas Pertanian | Institut Pertanian Bogor |

dmz

DMZ Map

Bioregion merupakan suatu konsep yang mengusung filosofi bahwa fenomena bioregion nampak jelas, khusunya konsep reinhabitation yang di kumandangkan oleh Berg (1978). Kehadiran unggas liar di kawasan segment perbatasan (border) dua Korea dan sekitarnya mengilustrasikan fenomena bioregion bagi satwa liar tersebut. Tersedianya areal sumber pakan (feeding ground) bagi satwa tersebut berupa lahan persawahan serta areal tempat beristirahat di malam hari pada areal semak-semak berawa di dalam benteng perbatasan pemisah merupakan domain bagi ruang hidup satwa tersebut  continue reading

Posted by: Qodarian Pramukanto | 15th Aug, 2016

Greenbelt Bandung Raya: Revitalisasi Jejaring Ruang Terbuka Hijau Regional

| Qodarian Pramukanto | Departemen Arsitektur Lanskap |  Fakultas Pertanian | Institut Pertanian Bogor |

Menyimak pengarahan almarhum Letjen TNI (Purn.) Mashudi —saat menjabat gubernur Jawa Barat, seperti ditulis Tjitroseowarno (Pikiran Rakyat anggal 25 Juni 2005), “Mashudi, Korbankan Kepalanya yang Botak”— mengenai fungsi ekologi hutan dan kawasan hijau sebagai pegendali bencana longsor dan banjir sangat
menarik.  Peragaan demonstratif yang beliau lakukan, seperti dikisahkan, dengan menuangkan segelas air di atas kepala beliau yang gundul mencerminkan kepedulian beliau yang tinggi terhadap permasalahan lingkungan.  Besaran akibat yang akan terjadi apabila pohon di gunung ditebang dan hutan digunduli menyebabkan air hujan yang jatuh tidak dapat “ditahan” namun langsung mengalir ke bawah menimbulkan banjir seperti meluncurnya air yang dituang di atas kepala beliau.

Kini, empat puluh tahun kemudian, apa yang beliau khawatirkan saat itu telah terbukti.    Musibah tanah longsor dan banjir merupakan berita yang kerap kita dengar dan saksikan.    Namun ironisnya, kerap pula kita dengar dan saksikan berita penebangan pohon, penggundulan hutan, perubahan kawasan lindung dan penyangga menjadi budidaya, kawasan budidaya menjadi kawasan
terbangun (permukiman, industri, kota dan jalan raya), serta peruntukan lain yang menyalahi fungsi dan melampaui kapasitas ekologi.  Sampai kapan ketidakpedulian ini terus terjadi ? Disadari atau tidak secara perlahan tapi pasti kita sama-sama sedang melakukan apa yang oleh J.O. Simonds … continue reading

Posted by: Qodarian Pramukanto | 9th Aug, 2016

Location Matters ! Using GIS in decission making process

General Lecture

By Canserina Kurnia
Solution Engineer, ESRI Global Asia Pasific

| Saturday 13nd August 2016 | 10.00 – 12.00 | Aula Ahmad Baehaqie | Center for Regional System Analysis, Planning and Development | P4W-IPB |
Kampus IPB Baranangsiang, Jl. Raya Pajajaran, Bogor


Location is important! Many decission are made based on locations, even day-to-day decissions laike “where to go for lunch?”.  Geographic Information Systems (GIS) connects people with locations, through maps and apps that are accessible to anyone, anywhere, anytime on various devices.  Attend this presentation and learn modern Web GIS and how the technology is used in various sector, such as natural resources, landscape planning, emergency management and commercial.

Posted by: Qodarian Pramukanto | 26th Jul, 2016

PUNGSU: GEOMANSI LANSKAP KOREA

Microsoft Word - TATANAN_GEOMANSIF_LANSKAP_SEOUL.DOC

Geomansi Korea

ABSTRACT
Geomancy is form-recognized art of earth’s ki energy interaction with community
culture. Ki and its existence in a place can be identified because its linked to geographical
features of landscape. In Korea, this spatial perception and thought about geographical
environment is the pungsu. Pungsu is geomancy that examines and determines
the sites that favorable for town, village, house or tomb. There are two approaches
are applied in pungsu, i.e. compass school and form school. The compass school is developed from the basic idea/theory, while form school developed from systematic structure theory. This paper explain and discuss both approaches.

Keywords: Geomancy, pungsu, ki energy, compass school, form school, Korea

Pramukanto, Q. 2013. Pungsu: Geomansi lanskap Korea. J. Lanskap Ind., 4(2): 9 – 17. [pdf] [link]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 26th Jul, 2016

Geospatial dalam Pelestarian Lanskap Budaya dan Sejarah

poster seminar geospasial

Geospatial lanskap budaya dan sejarah

Abstrak:
Lokasi geografis merupakan informasi yang penting dalam disiplin ilmu geografi, perencanaan kota dan disiplin ilmu keruangan lainnya, termasuk arsitektur lanskap, antara lain dalam aktivitas pelestarian lanskap budaya/sejarah. Informasi spatial (geospatial) ini merupakan acuan bagi pemahanan terhadap apa, dimana dan kapan suatu interaksi alam dan budaya yang membentuk entitas lanskap budaya/sejarah terjadi.
Untuk memahami interaksi fenomena alam dan gejala budaya tersebut diperlukan tafsir (interpretation) terhadap aspek tempat (place), waktu (time) dan arti (meaning) dari entitas lanskap budaya/sejarah tersebut. Lanskap budaya berkaitan dengan tempat (dimana), sedangkan lanskap sejarah berkaitan dengan waktu (kapan). Selanjutnya pemahaman lanskap budaya dan sejarah dilakukan berdasarkan interpretasi terhadap arti (meaning) terhadap aspek tempat dan waktu tersebut.
Untuk memahami aspek place, time dan meaning dalam lanskap budaya dan sejarah, informasi geospatial mempunyai peranan yang berbeda-beda. Data geospatial dapat langsung digunakan untuk menafsirkan abstraksi obyektif atas suatu realitas fisik (tangible), seperti setting lanskap, tata letak dan spatial pattern. Namun tidak, untuk representasi yang bersifat simbolik subyektif (intangible), berupa nilai-nilai (values), ide, konsep, naratif dan filosofis. Untuk lebih memahami karakteristik data geospatial dalam Pelestarian Lanskap Budaya dan Sejarah diuraikan ilustrasi penerapan data geospatial tersebut dalam identifikasi dan analisis, implementasi tindakan pelestarian dan pemantauan.

Keyword: geospatial, place, time, meaning, abstraksi obyektif realitas fisik, simbolik subjektif, lanskap budaya, lanskap sejarah, interpretasi budaya.

Pramukanto, Q. 2015. Geospatial dalam Pelestarian Lanskap Budaya dan Sejarah. Seminar Teknologi Geospasial Dalam Pengembangan Bidang Arsitektur Lanskap.  Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), Bogor, 28 Maret 2015.  [pdf][ppt] [link]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 18th May, 2016

TATA RUANG DALAM PERSPEKTIF ARSITEKTUR LANSKAP

Kuliah Umum Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Pembicara:  Qodarian Pramukanto/Dept. Arsitektur Lanskap IPB
Waktu       :  Selasa, 17 Mei 2016
Pukul        :  10.00 – 12.00
Tempat     :  Ruang Al Bathoni, Fakultas Teknik UMJ
Topik        :  TATA RUANG DALAM PERSPEKTIF ARSITEKTUR LANSKAP

Arsitektur Lanskap


Link: [pdf]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 1st Mar, 2016

John Ziesel is keynote speaker at EDRA47Raleigh

THE ENVIRONMENTAL DESIGN RESEARCH ASSOCIATION (EDRA)

EDRA’s 47th Annual Conference, Raleigh, North Carolina on May 18-20, 2016 

John Zeisel, Ph.D., author of Inquiry by Design, founder and president of Hearthstone Alzheimer Care and the I’m Still Here Foundation will provide the keynote address to close to 500 architects, landscape architects, urban planners, designers, social ecologists, environmental psychologists, and urban anthropologists from around the world as they gather in Raleigh, North Carolina on May 18-20 for EDRA’s 47th Annual Conference.

The roster of keynote and plenary speakers are as follows:

1. Ming Kuo, Ph.D., University of Illinois Urbana-Champaign

Title: The Science of Nature and Health:  Discoveries and Design Recommendations from the Frontier

Summary: In recent years, progress in the science of nature and human health has been nothing short of spectacular.  The array of health outcomes tied to exposure to nature is frankly staggering.  We now know far more about what “doses” or forms of nature are needed and the magnitude of their effects on health.  And we even have a surprisingly rich and powerful conception of why and how contact with nature may promote health.
Perhaps just as exciting as these advances in basic science are their ramifications for design, policy, and practice. As we begin to grasp the specific mechanisms underlying the nature-health relationship, the implications for design become increasingly powerful and sophisticated.  The cumulative work in this area shows how great basic science can shape great environmental design.

2. John Zeisel, Ph.D., Hearthstone Alzheimer Care, Ltd.

Title: From Paradigm to Action in Environment-Behavior Research/Design
Summary: How a simple conceptual leap (the radical concept of environment-behavior) moved over half a century from pure concept to a national action agenda; the example of designing for Alzheimer’s and how partnering with the neurosciences has led to advances in both science and action.
 
At the first edra meeting, actually at a pre-edra edra meeting at MIT we were all searching for a definition of what we all—architects, psychologists, sociologists, designers, government officials, professors, students—intuitively knew was a yet undefined field.  Concepts, curricula, actions, and just a few designs were presented.  Over the years since then we have continued to search for relevance, and have often found it in application of e-b research to architecture, planning, landscape, and interiors. Today we are on the threshold of even greater relevance and application through partnering with other fields of science and action.

3. Catharine Ward Thompson, Ph.D., The University of Edinburgh

Title: Innovation, collaboration and cross-disciplinary working: shifting the ground of environmental design evidence
Summary: Policy-makers’ renewed interest in environmental design reflect its potential to help address current health crises that are issues not just for the developed and westernized world but, increasingly, for countries across the globe: cardio-vascular disease, rising levels of obesity, Type 2 diabetes, mental illness, etc. In addition, there are concerns about growing inequalities in health and wellbeing within, as well as between, countries. In this context, this presentation explores what kinds of approaches are needed if environmental design as health-enhancing (salutogenic) and reducing of health inequalities (equigenic) is to be taken seriously by public health policy-makers and planners. It considers the importance of working across and between disciplines, often in large-scale collaborative ventures, to research the implications of planning, design and management decisions for public open space and the outdoor environment. Innovative methods involving biomarkers of wellbeing or stress and neuroscience techniques will be considered. The particular challenges involved in longitudinal studies to research design interventions, and the opportunities that natural experiments offer, will also be explored. The presentation draws on research examples that consider all ages and life stages. It also shows examples of ways in which such research can feed into policy, from World Health Organization initiatives to Scottish Government and national health service programs with local communities.

4. Robin Moore, DiplArch, MCP, Hon. ASLA, NC State University College of Design

Title: Evidence-based design: Driver of social investments in early childhood environments
Summary: Prevalence of sedentary lifestyles has increased awareness about the importance of environments that children experience everyday, especially those where they spend significant time away from home. Thus, childcare centers have become a focus of research regarding indoor and outdoor design. The development of evidence-based projects is crucial to guide adequate design decision-making, support new environmental policies, and to attract funding to carry out interventions. Meanwhile, socially minded organizations are looking to support the development of sustainable programs whose impact is measurable. Responsible social investments and evidence-based programs are indissolubly connected by shared values of researchers, practitioners, and funders.

5. Nilda Cosco, Ph.D., NC State University College of Design

6. Jennifer Zuckerman MacDougall, MS, Blue Cross Blue Shield Foundation of North Carolina

Read more 

Older Posts »

Categories