Posted by: Qodarian Pramukanto | 22nd Nov, 2017

ARL 310 – ANALISIS TAPAK

K-8: ANALISIS USER
COVER K-08 ARL 310 ANALISIS USER-1

 

 

 

 

 

 

 

Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 22nd Nov, 2017

K-09: ARL 310 ANALISIS TAPAK

K-09: ANALISIS IKLIM & KENYAMANANCOVER K-09 ARL 310 ANALISIS IKLIM & KENYAMANAN-ok

 

 

 

 

 

 

 

Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 11th Nov, 2017

Chulalongkorn University (CU) Centennial Park, Bangkok, Thailand

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB |
cu100_1
CU Centennial Park merupakan taman kota seluas 30-rai  atau sekitar 4.4 ha yang diresmikan tanggal 26 Maret 2017 oleh Ratu Maha Chakri Sirindhorn.  Karya ini merupakan bentuk inisiatif yang dipersembahkan oleh Universitas Chulalongkorn (CU) untuk menjedi oase di kawasasn jantung kota Bangkok dengan mengubahnya menjadi ruang terbuka hijau bagi warga Bangkok dan masyarakat sekitar yang ingin menghabiskan waktu luang yang berkualitas di lingkungan yang indah dan menyenangkan.  Sesuai dengan namanya, CU Centennial Park, peresmian taman yang bertepatan dengan hari jadi ke 100 tahun universitas tertua di negeri Gajah Putih ini, menjadi tonggak sejarah, tidak saja dalam melihat kipah universitas di masa lampau, tetapi juga dalam menentukan visi dan kontribusi bagi masyarakat pada kurun 100 tahun ke depan.  Desain lanskap taman yang digubah oleh Architectural Studio Landprocess, mengusung konsep melihat masa depan Bangkok dan dunia dalam 100 tahun ke depan, dan  tantangan yang akan kita hadapi, seperti perubahan iklim, untuk kemudian mengevaluasi kembali peran Chulalongkorn dalam berkiprah di masa depan.

Orientasi desain lanskap tidak hanya berkenaan dengan  memilih vegetasi yang tepat atau memberi  keindahan kota, tetapi lebih pada perancangan lingkungan baru yang sebagai kawasan retensi kota, yang mengandalkan adanya rain garden, lahan basah, kolam retensi dan detention lawn…..[Continue reading]

 

Posted by: Qodarian Pramukanto | 13th Sep, 2017

K-01 APLIKASI KOMPUTER UNTUK ARSITEKTUR LANSKAP (ARL 302)

K-01 PENDAHULUAN 
COVER K-01 PENDAHULUAN
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB |

FOCUS  GROUP DISCUSSION (FGD) “PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN EKOWISATA/WANA WISATA“ Studi Kasus Kawasan Ekowisata Nongko Ijo dan Selo Gedong, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, 23 -25 Agustus 2017.
 
 cover fgd-1a
 

fgd

 

Tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk memberikan wawasan, menggali permasalahan, mencari solusi dan implementasinya bagi seluruh pemangku kepentingan dalam mengembangkan Kawasan Ekowisata/Wana Wisata di Kabupaten Madiun, khususnya di kawasan Nongko Ijo, Desa Kare, Kecamatan Kare dan Selo Gedong Desa Bodag, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun.

Kegiatan dilakukan dalam bentuk FGD (Focus  Group Discussion) dengan fokus pada Pengembangan Kawasan Ekowisata/Wana Wisata/Agrowisata (Agro-eko-wisata) melalui Perencanaan dan Pengelolaan serta Implementasi-nya dalam rangka penyusunan Site Plan Ekowisata.  Penyusunan Site Plan difokuskan pada kawasan percontohan, yaitu Ekowisata/Wana Wisata Nongko Idjo dan Selo Gedong.  Selain kegiatan FGD, dilakukan peninjauan lapang ke kedua kawasan ekowisata.  Berdasarkan hasil FGD dan tinjauan lapang disusun konsep pengembangan yang akan dituangkan ke dalam site plan untuk kedua kawasan tersebut.

Kegiatan  ini terselenggara atas kerjasama Lembaga Pengabdian Kepada Masyrakat (LPPM)  Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Pemerintah Kabupaten Madiun pada tanggal 23 -25 Agustus 2017.  

 

Beberapa Obyek dan Daya Tarik Ekowisata Kawasan Nongko Ijo dan Selo Gedong, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun:

NI  

 

Hutan pinus sebagai obyek dan daya tarik kawasan ekowisata  Nongko Ijo melalui pola kemitraan dengan Perhutani

nongko ijo  

 

 

 

Fasilitas eksisting kawasan ekowisata Nongko Ijo

hutan pinus  

 

 

Pemandangan pegunungang, sebagai salah satu daya tarik ekowisata Nongko Ijo

puncak selo gedong  

 

 

Pemandangan ke arah puncak Gunung Wilis dari Selo Gedong (1045 m dpl)

sunset latar belakang puncak gunung lawu  

 

 

Sunset dengan latar belakang Pegunungan Lawu dari Selo Gedong (1045 m dpl)

kota madiun  

 

 

Pemandangan kota Madiun dari Selo Gedong (1045 m dpl)

air terjun selampir  

 

 

Obyek Air Terjun Seweru atau Serondo atau Kedung Malam, yang potensial dikembangan sebagai obyek dan daya tarik ekowisata di wilayah perkebunan kopi, Dusun Seweru, Desa Kare, Kec. Kare, Kab. Madiun

 

Link to download: [pdf] [ppt] [link]

MEDIA NOTICE

MADIUN,RI – Bappeda Gelar Forum Diskusi Untuk Pengembangan Pariwisata Kabupaten Madiun Radar Indonesia Agustus 31, 2017

sisdikasus
Link: [html] [jpg] [pdf]
 
RADAR MEJAYAN, Sabtu, 23 September 2017
Pengembangan Kawasan Selingkar Wilis
BERITA RADAR MEJAYAN
Link: [html] [pdf]
harus aktif munculkan hal baru
Link: [html] [jpg] [pdf]
radar_mejayan_23September2017
Link: [html] [jpg] [pdf]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 12th Jul, 2017

Transformasi Ekologi Ruang Terbuka Hijau Kota: Metamorfosis dari Seoul

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB |

Tapak 30 Hektar
Kota sebagai lingkungan binaan mengokupasi bentang alam untuk memenuhi kebutuhan manusia.  Sementara beban atas dominasi manusia tersebut  “dipikul” oleh lingkungan.  Evolusi penguasaan lahan kota ini, pada awalnya dicirikan oleh tingkat intervensi yang biasanya masih rendah, sehingga kota tersebut masih layak disebut “city in nature”.

Namun eskalasi pembangunan ini lama-kelamaan makin menanjak.  Okupasi lahan kota dengan peruntukan lain, yang menyalahi fungsi dan melampaui kapasitas ekologi sering kali terjadi.  Sampai akhirnya mengancam keberadaan relung-relung alam yang tersisa.  Bahkan “monster” pembangunan ini tidak mustahil melalap habis sumberdaya tersebut tanpa sisa.

Kecenderungan perubahan tatanan alam —ruang terbuka hijau dan kawasan alami— yang radikal tersebut kerap diberitakan dimedia masa.  Kita ketahui juga bahwa peran komponen alam tersebut dalam meremediasi lingkungan perkotaan yang bersifat tidak dapat digantikan itu tidak perlu diperdebatkan lagi.

Dengan keterbatasan lahan, keberadaan “nature in the city” di tengah kepungan hutan beton dan aspal tetap diperlukan.  Oleh karena itu komposisi ruang terbangun dan ruang terbuka hijau dalam porsi yang proporsional sangat penting peranannya —tidak saja bagi manusia tetapi juga— bagi kelestarian lingkungan hidup dengan memelihara keseimbangan lingkungan.

Sehingga untuk kota yang “sehat” kehadirannya mutlak diperlukan.  Bahkan lebih dari itu, seharusnya bisa menjadi barometer untuk mengukur seberapa besar tingkat kelestarian pembangunan yang dilakukan di perkotaan.

Menyadari akan pentingnya infrastruktur alam ini, upaya memulihkan dan mengembalikan tatanan ekosistem yang terganggu atau hilang sudah saatnya dilakukan.   Menghadirkan kembali betuk-bentuk ruang terbuka hijau dan relung-relung alami kota berarti menjamin keseimbangan ekologi kota.  Menguatnya fungsi kawasan “hijau” ini dapat medukung hadirnya organisme lain yang berasosiasi dengannya.  Sehingga kehadiran aneka jenis organisme tersebut akan meningkatkan keanekaragaman hayati kota (urban biodiversity).

Banyak cara untuk mempertahankan unsur alam di kawasan perkotaan ini.  Mulai upaya konservatif mempertahankan fungsi RTH dengan dukungan perangkat hukum yang tegas, merehabilitasi yang rusak sampai upaya radikal  membangun kembali (restore) tapak alami di kota.  Untuk yang terakhir disebut, kasus kelahiran kembali (re-born) kawasan Nanjido di Seoul, ibu kota Korea Selatan, patut untuk disimak.

Nanjido lama —merupakan salah satu dari beberapa pulau yang berada pada dataran banjir di hilir sungai Han— sesuai dengan namanya berarti pulau anggrek dan keranjang jamur.  Selain dikenal dengan dua komoditas tersebut, kawasan lahan basah yang ada di sekitarnya merupakan relung bagi hidupan liar jenis unggas —seperti itik liar, raja udang, kuntul dan ibis—baik yang menetap (resident) dan pengembara musiman (migratory bird).

Sejak 1978, lahan seluas 272 ha ini diokupasi sebagai landfill sampah kota.  Namun aktivitas penimbunan dengan teknik non-sanitary yang mencemari lingkungan dan merusak ekosistem ini dihentikan setelah lima belas tahun beroperasi.  Melalui ”Landfill Recovery Project”, pemerintah metropolitan Seoul mentransformasi kawasan tersebut menjadi dua bukit kembar menyerupai piramid berpuncak datar setinggi lebih 90 meter (Pramukanto, Kompas, 30 April 2005).

Kehadiran dua bukit piramid tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Nanjido baru.  Menyadari kekeliruan kebijakan masa lampau yang merusak lingkungan, pemerintah Seoul menetapkan bukit Haneul —salah satu dari dua bukit piramid tersebut— untuk dikembangkan sebagai Taman Ekologi (Ecological Park).

Desain tapak pada bukit seluas dua puluh empat kali lapangan sepak bola (19.2 hektar) disusun berdasarkan konsep pendekatan ekosistem.  Pendekatan ini sejalan dengan kerangka kerja yang diamanatkan dalam konferensi “The Parties of the Convention on Biological Diversity” (UNESCO-MAB, 2000).

Setelah melalui prosedur standar proses reklamasi timbunan sampah —yang dilakukan melalui pengendalian aliran air lindi (leachate) dengan barrier pelindung vertikal, pengolahan limbah terkontaminasi, ekstraksi dan pengelolaan gas beracun, penutupan permukaan lapisan tanah, cut and fill, stabilisasi lereng dan pembentukan lahan— bukit piramid yang terbentuk menjadi awal dalam metamorfosis pembangunan taman ekologi tersebut.

Gagasan original dalam konsep desain taman ekologi ini menyebutkan, untuk  membangkitkan ekosistem alami ini diterapkan stimulasi minimal pada fase awal.  Untuk itu berbagai rekayasa lingkungan yang bersifat artifisial sebagaimana umumnya diterapkan dalam pembangunan taman harus dihindari.  Penerapan teknik persiapan lahan, pengolahan tanah, pemupukan, pemberantasan hama penyakit, bahkan penanaman tumbuhan tidak dilakukan.

Sesuai dengan fungsinya, konsep pembangunan struktur taman ini berusaha menerapkan prinsip-prinsip ekologi.  Rantai ekologi dibangkitkan dengan cara hati-hati dan sealamiyah mungkin.  Keterlibatan manusia —baik secara langsung dalam membangkitkan sistem ekologi, maupun tidak langsung dalam mengendalikan arah perkembangannya— dilakukan seminimal mungkin.  Bentuk intervensi dilakukan sejauh bersifat sebagai katalisator untuk terbentuknya cikal bakal relung-relung ekologi.  Perkembangan selanjutnya dibiarkan berjalan sendiri secara alami.

10214158
Sebagai kawasan restorasi, kehadiran taman ekologi ini diharapkan mampu menciptakan dan menarik “kembali” organisme tumbuhan dan satwa ke lingkungan kota.  Proses ini merupakan indikasi terbentuknya ekosistem di bukit piramid tersebut.  Tercipta hubungan dinamis baik antar kerabat organisme yang sama, antar jenis berbeda, maupun antar jenis dengan lingkungan abiotik, termasuk interaksi dengan komponen fisik dan kimia.

Proses ini memperlihatkan perspektif terjadinya restorasi bentang alam  ditengah-tengah kepungan hutan beton dan aspal perkotaan.  Berbagai faktor lingkungan dan kondisi sekitar secara alami berperanan sebagai “driving forces” dalam perubahan ekosistem yang dinamis di bukit piramid tersebut, “….the park isn’t fixed nature, but changing nature”.

Dinamika metamorfosis ini merupakan “big picture” yang sarat dengan tema-tema ekologi.  Medium tanah eksisting hasil reklamasi dan lingkungan sekitar secara alami akan menyeleksi kehadiran organisme yang sesuai dengan kondisi dan keterbatasan yang ada.

Pada awalnya kehadiran organisme dipelopori oleh beberapa jenis tumbuhan spontan (spontaneous vegetation) sebagai pionir di lingkungan yang baru.  Kehadiran jenis vegetasi perintis ini akan diikuti oleh vegetasi lain, sampai akhirnya terbentuk suksesi alami dilingkungan tersebut.  Keberadaan komunitas vegetasi tersebut memberi resonansi pada kehadiran satwa kecil —seperti cacing dan serangga— pemakan tumbuhan (herbivora).  Kemudian resonansi ini berlanjut dengan kehadiran satwa pemangsa serangga (karnivora), seperti reptil dan ampibi yang mulai berbagi tempat tinggal pada kawasan tersebut.  Dan seterusnya mengundang berbagai jenis karnivor pemangsa serangga, reptil dan ampibi —seperti burung hantu, elang dan gagak— yang ikut bergabung menjadi penghuni di kawasan ekologi tersebut.

Setiap organisme di atas menempati posisinya dalam level rantai makanan dan energi yang membentuk piramida ekologi.  Piramida ini menggambarkan kelimpahan populasi organisme —sebagai sumber makanan dan energi— dimana semakin tinggi levelnya semakin sedikit jumlahnya pada puncak piramida.

Piramida rantai makanan tersebut secara sederhana dimulai dari tumbuhan —sebagai produsen tingkat pertama yang menempati level terbawah dengan populasi yang “berlimpah”—yang menjadi santapan herbivor yang berada di level atasnya.  Herbivor ini menjadi mangsa dari karnivor tingkat pertama (pemakan daging)  yang ada di atasnya.  Seterusnya mengerucut pada level teratas ditempati oleh top carnivore dan akhirnya jasad dari organisme mati akan diurai bakteri pengurai (decomposer).

Jika scenario metamorfosis —mulai dari organisme “spontan” sampai terbentuk lingkungan alami— dalam taman ekologi tersebut berjalan lancar, keberhasilan tersebut dapat dibuktikan berdasarkan representasi tipe-tipe piramida ekologi yang terbentuk.   Bentuk, ukuran dan jumlah level rantai makanan piramida tersebut menjadi indikasi kekhasan yang komponen-komponen organisme yang membangun piramida ekologi di kawasan tersebut.

Apabila diteropong, proses okupasi oleh anggota hidupan liar tersebut merupakan “lembar catatan” yang perlu ditulis dan dilaporkan secara berkala perkembangannya.  Bentuk response alam yang terjadi di kawasan tersebut menjadi media pembelajaran ekologi kawasan terganggu (disturbed area) di kota.

Fenomena ekologi yang tersaji di taman tersebut merupakan topik kajian menarik berbagai kalangan, mulai dari murid taman kanak-kanak, sekolah dasar, pelajar sekolah menengah, mahasiswa, peneliti, termasuk masyarakat umum, pemerintah dan pengelola untuk terlibat dalam berbagai aktivitas.  Berbagai kegiatan mulai yang bersifat rekreatif, pengenalan dan apresiasi alam, studi, pengamatan, pemantauan sampai penelitian merupakan agenda kegiatan yang sangat penting, ”…nature is your best teacher”.

Walaupun dalam perkembangannya, pembangunan taman ekologi bukit piramid Haneul ini mengalami modifikasi dan beberapa penyimpangan dari konsep awalnya, namun setidaknya gagasan yang diusung patut menjadi pemikiran untuk diterapkan pada kasus serupa di tanah air.  TPA Bantar Gebang, TPA Leuwi Gajah atau tapak lainnya dapat dijadikan model percontohan serupa.

Semoga dalam metamorfosis tapak landfill menjadi taman ekologi ini terbentang pemahaman atas strukur dan fungsi ekologi yang melekat pada RTH sebagai kawasan alami.  Rentangan proses-proses dibalik fungsi dan struktur RTH tersebut merupakan topik pembelajaran atas pentingnya kehadiran organisme hidupan liar sebagai penyeimbang lingkungan.  Tidak mustahil wabah penyakit di kota —seperti ledakan nyamuk vektor deman berdarah— disebabkan oleh hilangnya musuh alami yang mengontrol populasi serangga ini.  Oleh karena itu sudah selayaknya kita galakan program “from city in nature to nature in the city” di perkotaan tanah air.

Lembah Gunung Kwanak, Seoul, Juli 2005
Link to download: [pdf]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 18th Jun, 2017

K-15 AGROTOUSIM MODEL FOR CONSERVATION OF TRADITIONAL AGRICULTURE AREA

COVER K-15 ARL 315
 
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
 
 
 
Posted by: Qodarian Pramukanto | 18th Jun, 2017

K-14: PERENCANAAN LANSKAP WILAYAH BERKELANJUTAN

K-14 ARL 316 PL WILAYAH
 
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
 
 
 
Posted by: Qodarian Pramukanto | 17th Jun, 2017

Kildong Saengtae Kongwon: Alam Terkembang Menjadi Guru*

 | QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB |

 

Setelah berjalan kaki sekitar 1.5 km dari stasiun subway di subdistrik Kildong, bagian
timur kota Seoul, tibalah kami di daerah lembah berawa yang rimbun dipadati tumbuhan air.  Pada lahan sekitar 24 000 pyong atau kira-kira sepuluh kali luas lapangan sepak bola ini terdapat bagian rendah tempat bermuara parit-parit kecil dan beberapa mata air yang keluar dari daerah agak berbukit di sekitarnya.  Tapak ini menjadi terkenal sejak dibangunnya taman ekologi yang berfungsi sebagai laboratorium alam oleh pemerintah
kota metropolitan Seoul.Kildong Saengtae Kongwon (Taman Ekologi Kildong) adalah nama Korea untuk taman ekologi ini.  Taman kota yang menjadi salah satu taman pendidikan lingkungan yang terbaik dari beberapa taman sejenis yang ada di Seoul adalah hasil restorasi dan perlindungan atas sumberdaya yang ada di kota.  Taman ini berfungsi mengakomodasi berbagai kegiatan ilmiah dalam bentuk pengamatan tumbuhan, satwa dan lingkungan alam.Wujud taman yang mengemban misi khusus tersebut, sangat berbeda dengan lazimnya taman kota atau ruang publik lainnya.  Gambaran akan keramaian pengunjung, kesibukan penjaja makanan dan sovenir tidak tampak sama sekali, kecuali hanya segelintir orang serta satu dua mobil terparkir di muka pintu gerbang.  Suasana ini dapat dirasakan saat tiba di pintu gerbang taman (Gambar 1).
Gambar-1 Gambar 1
Meskipun pada hari libur, pengunjung yang datang hanya sekelompok kecil rombongan keluarga yang terdiri orang tua dengan dua atau tiga anak (Gambar 2). Padahal untuk berkunjung ke taman ini terbuka bagi siapa saja dan tanpa dipungut biaya, namun hal itu hanya dapat dilakukan setelah mendaftar  minimal sepekan sebelumnya.  “Biasanya reservasi kunjungan pada akhir pekan dan hari libur selalu penuh”, kata petugas
pengelola taman.  “Dan pada waktu tersebut kunjungan dikhususkan bagi pengunjung umum yaitu keluarga dan peorangan.  Bagi pelajar atau pakar kunjungan hanya pada hari kerja”, lanjut petugas tersebut.
Gambar-2

Gambar 2

Pengunjung yang terdaftar akan dikategorikan kedalam kelompok umum dan khusus.  Kategori umum adalah pengunjung yang datang sekedar memanfaatkan taman tanpa memiliki latar belakang pengetahuan ekologi.  Sedangkan kelompok khusus berkunjung dengan tujuan untuk mengamati dan belajar ekologi.

Pada jadwal yang ditentukan, pengunjung berdasarkan kategori kelompoknya akan dipandu oleh seorang relawan terlatih.  Prosedur kunjungan yang diskrimintif ini diterapkan dengan alasan untuk memelihara suasana alami dan “keamanan” habitat secara lestari.  Lebih dari itu dengan sistem pemanduan, disamping aktivitas pengunjung lebih terkendali juga sangat membantu dalam interpretasi dan apresiasi lingkungan.

Setelah peserta dibekali leaflet panduan, dimulailah penjelajahan taman tersebut.  Pada leaflet panduan terdapat peta rute jalur jelajah, sebaran daerah bebas untuk melakukan pengamatan (free observation area) dan daerah terbatas untuk pengamatan (restricted observation area), fasilitas pengamatan, objek pengamatan, jenis habitat, atraksi dan fenomena alam, yang disertai serangkaian pertanyaan dan instruksi terkait.  “Aktivitas kunjungan  disamping dibedakan berdasarkan jenis pengunjung (khusus/umum), juga berdasarkan karakteristik daerah pengamatan (pengamatan bebas/pengamatan terbatas)” tutur petugas pengelola.

Untuk kelompok umum aktivitas pengamatan terpandu dibatasi hanya pada daerah yang telah ditentukan saja.  Sedangkan kelompok pengunjung khusus dapat melakukan berbagai aktivitas termasuk pada daerah pengamatan terbatas.  Tampaknya inilah yang membedakan taman ekologi dengan taman lain pada umumnya.  Pada taman-taman umum kegiatan dapat dilakukan secara bebas dengan suasana rekreatif lebih menonjol dibandingkan nuansa pendidikan yang serius seperti pada taman ekologi ini.

Pagi itu, saat matahari mulai beranjak bangkit, tampak sekelompok pengunjung pelajar tengah bersiap untuk mengawali rute jelajah berpola sirkulasi melingkar (looping) searah jarum jam.  Kehadiran “peneliti-peneliti” kecil bertopi dan tas gendong yang dilengkapi teropong, buku catatan dan alat tulis ini disambut kesejukan udara pagi musim panas yang berhembus dari kerimbunan pepohonan sekitar serta suara gemericik air mengalir pada parit-parit kecil.  Kenyaman serta jauh dari bising kota semakin memperkuat kesan nuansa alam tapak tersebut.  Dengan semarak iringan konser alam dari sinfoni tonggérét yang bersautan, derik jangkrik, kepak kupu-kupu, denging serangga kecil, sesekali senandung katak dan kicau burung merupakan sajian yang jauh dari gambaran suasana perkotaan.  Kunjungan pagi hari itu sungguh merupakan golden prime time, karena kebanyakan satwa bergiat di pagi hari, dan gerak geriknya menurun pada tengah hari.  Menurut pemandu, ramainya puncak kehidupan di pagi hari ini semakin memudar setelah lewat tengah hari.

Setiap titik pengamatan dilengkapi rambu (sign board) dan papan informasi.  Dengan bimbingan pemandu setiap peserta melakukan berbagai aktivitas apresiasi lingkungan secara terprogram.  Di awali dengan penyampaian informasi di ruang terbuka, dengan peraga berupa poster dan panel-panel specimen tumbuhan dan hewan, sampai pada pengamatan (observation) satwa, pengenalan berbagai bentuk ekosistem, baik di darat, padang rumput, hutan maupun perairan tidak luput dari kajian.

Di lokasi ekosistem rawa, misalnya, peserta diajak mengamati metamorfosis dalam siklus hidup aneka serangga (kupu-kupu, capung, kepik) dari telur, larva, kepompong, sampai menjadi serangga dewasa (Gambar 3).  Bahkan pada periode tertentu terdapat atraksi menarik berupa booming beberapa jenis serangga, seperti kupu-kupu dan capung yang telah menyelesaikan fase akhir dari metamorfosisnya.  Demikian juga pada saat yang lain, “tersaji kerlap-kerlip kunang-kunang menghiasi langit taman tersebut di malam hari”, ujar pemandu melengkapi informasinya.

Gambar-3a

Gambar 3

Aktivitas mengintai burung dilakukan pada shelter pengamatan atau menggunakan teropong (binokuler) yang diarahkan pada sasaran tertentu.  Target pengamatan adalah daerah rawa berlumpur yang menjadi tempat unggas mengais pakan (feeding ground), bersarang, atau sekedar beristirahat, renang dan bermain-main.  Apabila beruntung beberapa jenis unggas air (water fowel) seperti bebek, raja udang (king fisher) dan aneka jenis bangau sering tampak di perairan yang ditumbuhi cattail (Typa sp) geligi (Phragmites karka), padi liar (Oryza rufipogon) dan rumput liar (Paspalum sp) ini.  Perairan lahan basah seluas setengah lapangan bola ini merupakan tempat berbagi hunian antara unggas yang berstatus penghuni tetap dengan unggas pendatang musiman (Gambar 4).
Gambar-4a

Gambar 4

Berbagai bentuk sarang, baik yang alami dari serasah atau jerami maupun buatan
sebagai inisiasi dan stimulasi awal, untuk mengundang kehadiran satwa, kerap dijumpai disepanjang rute jelajah.  Mulai dari tumpukan serasah organik (mulsa) bagi sejenis kumbang kayu (Gambar 5), potongan kayu glondongan (woodpile) yang dilubang-lubangi untuk penggerek batang, sampai rumah lebah dengan bentuk yang unik (Gambar 6), sarang burung alami atau nest box (Gambar 7) dan rumah kelelawar yang digantung di dahan pohon merupakan kediaman yang nyaman bagi satwa-satwa tersebut.  Berdasarkan ragam model sarang ini, terdapat salah satu pertanyaan unik pada leaflet panduan yang membandingkan model sarang buatan dari dua satwa bersayap, yaitu unggas dengan kalelawar, satu-satunya hewan menyusui yang bersayap.  “Mengapa letak lubang pintu pada rumah kalelawar berada di bagian bawah, sedangkan burung umumnya berlubang pintu di samping ?”.
Gambar-5 Gambar-6 Gambar-7

Gambar 5

Gambar 6

Gambar 7
Keragaman biologi yang hadir pada taman ini semakin diperkaya oleh aneka jenis flora,
baik vegetasi darat (terrestrial), epfifit maupun, vegetasi air.  Mulai dari tumbuhan tingkat rendah, seperti lumut, alga, dan jamur, sampai tumbuhan tinggi (macrophyte), seperti aneka jenis rerumputan, herbaceous, semak, sampai pohon membentuk suatu campuran yang unik.  Tercatat sekitar 31 000 individu pohon dan vegetasi rambat yang terdiri atas 64 species serta tumbuhan herbaceous dan semak liar sekitar 188 000 individu yang mewakili 138 species sebagai penghuni resmi taman ini.Dinamika sajian alam yang hadir tidak terbatas pada pentas satwa, tetapi juga pada aneka ragam vegetasi.  Mulai dari corak bentuk daun yang memanjang, bulat, oval, hati, dan menjari, sampai warna warni perubahan daun yang menyertai perubahan musim.  “Mengapa dedaunan berubah warna ?” merupakan salah satu pertanyaan dalam panduan yang menjadi kunci dalam memahami femomena alam dalam bentuk tanggap vegetasi terhadap perubahan lingkunganSebagian dari areal taman ini diperuntukan juga sebagai display aneka jenis pakan (feeding ground).  Petakan-petakan lahan yang ditanami jagung, jawawut, sorgum, barley dan padi sawah merupakan lumbung pakan bagi satwa pemakan biji-bijian (Gambar 8).  Pohon-pohon oaks yang tumbuh menjadi keranjang buah bagi beberapa satwa pemakan acorn.  Tidak ketinggalan aneka tumbuhan berbunga sebagai sumber nektar, sampai sumber selulose berupa bonggol-bonggol kayu.
Gambar-8

Gambar 8

Dengan bahasa sederhana serta disesuaikan dengan kapasitas peserta, pemandu memberikan arahan atas pertanyaan-pertanyaan kunci atau instruksi dalam leaflet panduan.  Jawaban atas misteri akan terungkap setelah melalui suatu produr ilmiah sederhana.  Dimulai dengan pertanyaan atau instruksi, pendugaan, serangkaian pengamatan atau melakukan tindakan tertentu yang disertai penalaran akan diperoleh kesimpulan sebagai jawabannya (Gambar 9).
Gambar-9a

Gambar 9

Diskusi interaktif antar peserta atau dengan pemandu selalu mewarnai nuansa ilmiah di setiap titik pengamatan (Gambar 10).  Beberapa bentuk pertanyaan dan instruksi lain yang tertulis pada panduan misalnya: “Coba cari dimana suatu jenis satwa bersembunyi?”, “Kalau buah kacang tanah berada di dalam tanah, pada saat berbunga dimana letak bunganya?”, “Apa fungsi perubahan warna kulit atau bulu yang terjadi pada hewan pada waktu-waktu tertentu?”, “Tunjukan ciri hewan pemakan ikan!”, “Mengapa cendawan disebut sebagai pembersih alam dalam rantai ekosistem?”, atau “Perhatikan perbedaan bentuk cendawan pada habitat yang berbeda !”.
Gambar-10

Gambar 10

Setelah menjelajah lebih dari dua jam dengan diselingi istirahat ditengah jelajahan tidak terasa tibalah di titik akhir jalur interpretasi alam.  Tempat yang dilengkapi dengan pergola dengan keteduhan kanopi tumbuhan rambat ini menjadi akhir dari rangkaian interpretasi alam.  Di tempat ini, sambil istirahat melepas lelah, pemandu mempersilahkan peserta untuk mengajukan pertanyaan atau hal-hal yang perlu penjelasan lebih lanjut, serta meminta kesan, saran, harapan dan komentar dari peserta.

Dari uraian di atas tampak adanya perhatian serius atas pentingnya kehadiran unsur alam di perkotaan.  Pembangunan tidak semata-mata membangun unit hunian serta fasilitas pendukung bagi masyarakat kota, tetapi juga mempertahankan dan menciptakan relung-relung habitat bagi hidupan liar dalam bentuk taman ekologi yang berdiri berdampingan.

Kehadirannya tidak saja menjadi media pendidikan lingkungan dengan menggali pengalaman langsung dari alam, tetapi juga menghadirkan ruang publik dengan prinsip-prinsip ekologi, yaitu ikut memperbaiki kualitas lingkungan kota, menciptakan relung hidupan liar dan meningkatkan keragaman biologi kota yang lestari.  Konsep taman ekologi ini sangat sesuai dan patut untuk diterapkan pada kawasan perkotaan di tanah air.  Sekedar menyebutkan, beberapa kawasan di ibu kota Jakarta seperti lahan rawa Kemanyoran, hutan kota Pesanggrahan, danau Sunter dan masih banyak lagi lahan basah yang potensial untuk dikembangkan taman sejenis ini.  Sehingga bagi masyarakat pada umumnya dan secara khusunya pelajar serta ilmuwan, kehadiran taman ekologi ini dapat dimaknai sebagai jendela untuk meneropong lingkungan alam di kota, seperti pepatah Minang yang menyebutkan “alam terkembang menjadi guru”.  Semoga gambaran yang melekat sebagai ”…nature is your best teacher” pada taman tersebut benar-benar terwujud tidak saja bagi masyarakat kota Seoul tetapi juga kota-kota serupa di tanah air kita.

*  Lembah Gwanak-San, Kampus SNU, Seoul, 22 Februari 2005

.
Download: [pdf]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 15th Jun, 2017

Gususan Pulau-Pulau Kecil Perairan Tual Nan Mempesona

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB |

baer-4 baer-10
baer-6 baer-8
 baer-9  baer-11
 
 
 baer-3a  baer-1a
Pulau Baer dengan pulau-pulau karang diantara kejernihan perairan dan ragam biota
karang
.
Aktivitas tektonik yang mengangkat lempeng benua di Banda tidak saja memunculkan
pulau-pulau kecil yang membentuk busur Banda (Banda Arc), namun juga
menenggelamkan palung laut hingga kedalaman 4500 m.  Gejala alam yang terbentuk karena aktivitas tektonik tersebut dapat kita saksikan di Tual.  Kota pesisir di tepian Pulau Kei Kecil yang berada di Kabupaten Maluku Tenggara ini kaya akan ragam sumberdaya perairan laut.   Salah satu yang menjadi daya tarik adalah gugusan pulau kecil berupa  pulau-pulau karang.   Pulau karang dan perairannya menjadi rumah bagi berbagai biota akuatik dan terestrial.  Asosiasi antara formasi terestrial vegetasi pulau karang dan biota aquatik perairan menjadikan kawasan semakin eksotik.  Fenomena alam dan aktivitas masyarakat menjadikan kawasan laut Banda semakin menarik sebagai destinasi wisata.Pulau Baer merupakan salah satu destinasi perairan yang kaya akan biota aquatik.  Gugusan pulau-pulau “kecil” situs Baer ini, tidak saja obyek selam dan snorkeling, tetapi juga journey melintasi celah-celah pulau karang dari atas speedboat.
kja1a rumput laut-1
Budidaya ikan karang (kerapu) dengan karamba jaring apung (KJA) dan bentangan long-line rumput laut di perairan

Selain menjadi lumbung ikan bagi nelayan tangkap dan budidaya perairan dan kerang mutiara, laut Banda merupakan kawasan yang kaya akan obyek dan daya tarik wisata.  Ragam biota terumbu karang yang oleh masyarakat lokal menjadi lahan buru biota karang, menjadi salah satu atraksi bagi wisatawan pendatang.  Demikian juga dengan rumput laut dan kerang mutiara yang dibentang di perairan merupakan daya tarik wisata bahari.  Kegiatan pengeringan ikan, pengolahan kerang mutiara, dan termasuk kuliner ikan laut menjadi pengalaman tersendiri bagi penikmat hidangan laut.

 

BAGAN BAGAN-2
Bagan apung sebagai platform penangkapan jenis-jenis ikan fototaksis (suka cahaya),
seperti cumi-cumi dan teri, pada malam hari dengan sumber penerangan lampu petromaks
atau sumber cahaya listrik (genset)
BUDIDAYA KERANG MUTIARA-1 BUDIDAYA KERANG MUTIARA-2
Pemeliharaan cangkang tiram mutiara dari organisma yang melekat pada cangkang
BUDIDAYA KERANG MUTIARA-6 BUDIDAYA KERANG MUTIARA-3
Pemasukan inti mutiara bulat pada cangkang di dalam matel tiram mutiara

Older Posts »

Categories