Posted by: Qodarian Pramukanto | 9th Jul, 2021

WEBINAR HLHD 2021

WEBINAR HLHD 2021
Bekantan (Nasalis larvatus) Habitat Restoration & How to make Sustainable Post Mining Landscape
.
.
Keynote Speaker:
Fajri Hairannoor Y.
SHE Superintendent
PT Arutmin Indonesia
Site Asamasam

Pembicara 1:
Amelia Rezeki, S.Pd, M.Pd.
Founder Sahabat Bekantan
Indonesia Foundation

Pembicara 2:
Ir Qodarian Pramukanto, MSi
Dosen Dept. Arsitektur Lanskap
IPB University

Moderator:
Kukuh Widodo
Environment SPV
SHE Dept. AI-ASM

Pembawa Acara:
Wuri
Reclamation Team
PT Nasa

.
.
.
.
.
Posted by: Qodarian Pramukanto | 28th Jun, 2021

ARL315 LANSKAP AGROWISATA

TUGAS PAPER DAN PRESENTASI ARL315 LANSKAP AGROWISATA

.
.

.

     
 .    
KELOMPOK I: PENGEMBANGAN LANSKAP AGROWISATA GUNUNG MAS, JAWA BARAT
Azizah Fauzi (A44180065), Herlinda Anggie Yuliana (A44190017), Siti Khairunnisa Najla (A44190034), Alyaa Jihan Nabiila Azzahra (A44190054), Rizki Widiyanto (A44190073), Maulydia Ayu Ningrum (X1004202046)
.
Link to paper: [pdf]
.  
KELOMPOK II: POTENSI DESA KANEKES DALAM PENGEMBANGAN LANSKAP AGROWISATA UNTUK MENINGKATKAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT BADUY
Alifia Putri Prameswari (A44180071), Ika Wulandari (A44190018), Yudyastri Retnogumi (A44190036), Amanda Puti Jasmine (A44190055), Hetta Charvina Padang (A44190077), Mega Oktavia Gunawan (X1004202047)
.  
Link to paper: [pdf]
.  
KELOMPOK III: PENGEMBANGAN POTENSI AGROWISATA DI WARSO FARM BOGOR
M Afdhalul Ikhsan (A44180072), Istianatul Mahiroh (A44190019), Muhammad Daffa Nandaniko (A44190038), Panggitha Putra Alviandiarto (A44190056), Muhammad Firdaus (A44190078), Muhammad Wafiq Umri (X1004202048)
.  
Link to paper: [pdf]
.
KELOMPOK IV: KAMPUNG ADAT KUTA, CIAMIS
Khalishah Yumna Malinda   (A44180092), Joti Kurniawan (A44190020), Aulia Fathiarahmah (A44190039), Adhie Prasetya Atmaja (A44190057), Meilinda Nurhayati (A44190079), Nasya Afra Rosalifa (X1004202049)
.
Link to paper: [pdf]
.
KELOMPOK V: POTENSI PENGEMBANGAN LANSKAP AGROWISATA KAMPUNG ADAT KASEPUHAN SINAR RESMI, DESA SINAR RESMI, KECAMATAN CISOLOK, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT
Yulianus Goo (A44180093), Kamila Nursyahfitri (A44190021), Fathimah Zahra Hardi Kirani (A44190040), Aghnina Rahmatika (A44190058), Qanita Ciesa (A44190081), Nazla Kamilah Azzahra (X1004202050)
.
Link to paper: [pdf]
.
KELOMPOK VI: PENGEMBANGAN LANSKAP AGROWISATA DESA ADAT KASEPUHAN CIPTAGELAR
Alfi Afiyah Adzanni (A44190002), Lewio Perdana S. Z. (A44190022), Muhammad Faig Hanif (A44190041), Shabrina Muntazhirah A. (A44190059), Adinda Fadia Adila Ali S. (A44190084), Raja Bonar Lubis (X1004202051)
.  
Link to paper: [pdf]
.
KELOMPOK VII:  PENGEMBANGAN LANSKAP AGROWISATA TAMAN BUAH MEKARSARI
Alika Ikhsani Ade Putri  (A44190003), Muhamad Al Hafizh Kamil H.( A44190023), Ghina Akbarinaldi (A44190043), Sarah Salsabila (A44190060), Hasna Nurfaiza Ariani (A44190090), Sarah Alya (X1004202053)
.  
Link to paper: [pdf]
.  
KELOMPOK VIII:  TAMAN BUNGA NUSANTARA, CIPANAS
Annisa Berliana Linardi (A44190006), Muhammad Dzikry Aulia S (A44190024), Muthia Pratiwi Sonjaya (A44190044), Tiarie Nursya’bani Putri (A44190061), Sayyidah Khairunnisa (A44190091), Saripah (X10042020540)
.  
Link to paper: [pdf]
.  
KELOMPOK IX:  POTENSI PENGEMBANGAN LANSKAP KEBUN TEH KAYU ARO SEBAGAI KAWASAN AGROWISATA
Annisa Fathiya Rizky (A44190007), Nadya Septryano (A44190025), Divanda Nadinta (A44190045), Yola Rahma Sabila (A44190062), Maoulani Wima Arovah (A44190092), Septian Cahya Azhari (X1004202055)
.  
Link to paper: [pdf]
.  
KELOMPOK X:  PENGEMBANGAN AGROWISATA KAWASAN KEBUN KURMA BLANG BINTANG
Ardisia Fichsandari (A44190008), Nathavia Arzha Meirizka Putri (A44190026), Arif Japan (A44190047), M. Innal Mahaputra Arifin (A44190050), Eurico Pratama Rachmanto (A44190063), Siti Afifah Mawaddah (X1004202056)
.  
Link to paper: [pdf]
.  
KELOMPOK XI:  EVALUASI PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN AGROWISATA KAMPUNG WISATA SITU GEDE BOGOR
Cindya Fauzyah Hayati (A44190010), Nurrizka (A44190027), Indria Zhafirah Akbar (A44190048), Intan Alifia (A44190065), Jesica (X1004202040), Susilawati (X1004202057)
.  
Link to paper: [pdf]
.  
KELOMPOK XII:  PENGEMBANGAN SEKTOR AGROWISATA DI KAMPUNG NAGA
Dinda Nur Khofifah (A44190012), Nyi Putri Siti Sondari (A44190028), Raisa Imani Sujatmoko (A44190049), Muhammad Abdussyakur Matoha (A44190068), Anderson Sitorus (X1004202041), Tia Rahmawati (X1004202058)
.  
Link to paper: [pdf]
.  
KELOMPOK XIII:  PENGEMBANGAN AGROWISATA LANSKAP SUBAK VILLAGE BALI
Farhan Mahfudz Fakhruddin (A44190013), Rahmat Akhirul Amin (A44190029), Muhammad Shafwan Hairuddin (A44190051), Rana Fitri Amalia (A44190069), Arief Hidayat (X1004202042), Wahyuni Ma’rufah (X1004202059)
.  
Link to paper: [pdf]
.  
KELOMPOK XIV:  PENGEMBANGAN AGROWISATA PADA DESA WISATA TULUNGREJO KECAMATAN BUMIAJI KOTA BATU
Fitria Khoerunisa (A44190014), Ratu Fitria (A44190030), Fathiya Nayla N F (A44190052), Jennifer Louise (A44190070), Jamilah (X1004202044)
.  
Link to paper: [pdf]
.  
KELOMPOK XV:  PENGEMBANGAN AGROWISATA SAWAH LODOK DI KABUPATEN MANGGARAI, NUSA TENGGARA TIMUR
Frisma Aulia Ardhana (A44190015), Reza Hekal Zakiyah (A44190031), Ridho Tri Darmawan (A44190053), Adnan Lagute (A44190072), Kurnia Auli Rahmi (X1004202045)
.  
Link to paper: [pdf]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 24th Jun, 2021

PROYEK AKHIR ARL316 PERENCANAAN LANSKAP

POSTER PROYEK AKHIR PRAKTIKUM ARL316 PERENCANAAN LANSKAP
PERENCANAAN LANSKAP TEMATIK: “TRANSFORMASI LANSKAP BERBASIS MITIGASI & RESPON (ADAPTASI ) DI ERA NEW NORMAL”
.
.
.
.
.
.
KELOMPOK I
1. Perencanaan Lanskap Taman Inklusi Bandung.  Izzatul Fadhilah (A44180036)
2. Perencanaan Lanskap Taman Inklusi Bandung.  Muhammad Ali Mustar (A441800070)
3. Perencanaan Lanskap Taman Inklusi Bandung.  M. Naufal Arista (A44180010)
4. Perencanaan Lanskap Taman Inklusi Dan Taman Maluku Sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) Inklusi Di Kota Bandung.  Chairunnisa Afrianti (A44180022)
5. Perencanaan Lanskap Taman Inklusi Terhadap Penerapan New  Normal.  Alifia Putri Prameswari.  (A44180071) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
6. Perencanaan Lanskap Taman Inklusi Bandung.  Dimas Prayoga (A44180073)
KELOMPOK II
7. Perencanaan Lanskap Kawasan Ekowisata Desa Tetebatu, Tn Gunung Rinjani Berbasis New Normal.  Stefanus Rio Ridwan (A44180062)
8. Perencanaan Lanskap Kawasan Ekowisata Desa Tetebatu, Tn Gunung Rinjani Berbasis New Normal.  Anisa Dwitama Graduita (A44180009)
9. ECO-SPECIALIST: Perencanaan Lanskap Kawasan Ekowisata Desa Tetebatu, Tn Gunung Rinjani Berbasis New Normal.  Reza Nurfadhil (A44180032) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
10. Perencanaan Lanskap Kawasan Ekowisata Desa Tetebatu, TN Gunung Rinjani Berbasis New Normal.  Fiskianda Fadhilla (A44180040)
11. Perencanaan Lanskap Kawasan Konservasi Dan Ekowisata Desa Tetebatu, TN Gunung Rinjani Berbasis New Normal.  Mia Wirda Kurniawati (A44180069)
KELOMPOK III
12. Perencanaan Taman Singaraja Berbasis Prinsip Tri Hita Karana Untuk Merespon Pandemi Covid-19.  Fikri Cahyo Nugroho (A44180082)
13. Perencanaan Lanskap Taman Singaraja Berbasis Prinsip Tri Hita Karana Untuk Merespon Pandemi Covid-19.  Gema Febri Alfarisi  (A44180021) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
14. Perencanaan Taman Singaraja Berbasis Prinsip Tri Hita Karana Untuk Merespon Pandemi Covid-19.  Khalishah Yumna Malinda (A44180092)
15. Rencanaan Lanskap Taman Singaraja.  Arina Wahyuni (A44180083)
16. Perencanaan Taman Singaraja Berbasis Prinsip Tri Hita Karana Untuk Merespon Pandemi Covid-19.  Nada Nadilla Syasita (A44180003)
KELOMPOK IV
17. Rencana Ruang Terbuka Hijau Sebagai Area Rekreasi yang Inklusif di Era Pandemi.  Savira Permata Putri (A44180018) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
18. Perencanaan Taman Menteng Sebagai Ruang Publik Inklusif.  Dimas Kurnia (A44180085)
19. Perencanaan Lanskap Ruang Terbuka Inklusif dan Adaptif Pandemi Covid 19.  Rima Arianti (A44180005)
20. Perencanaan Ruang Publik Inklusif dan Adaptif Covid-19, Taman Menteng Jakarta Pusat.  Herfiana Anggun Mustika Dewi (A44180020)
21. Perencanaan Lanskap Taman Menteng sebagai Ruang Terbuka Inklusif.  Aulia Rizkita (A44180087)
KELOMPOK V
22. Rencana Lanskap Ekowisata pada Era Pandemi Covid-19, Desa Muara, Tanggerang.  Wulan Qintania Indiputeri (A44180046) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
23. Rencana Lanskap Kawasan Mangrove Desa Muara Sebagai Kawasan Ekowisata.   Putri Indhira Nuryuniarti (A44180049)
24. Rencana Lanskap Kawasan Mangrove Desa Muara, Teluk Naga Sebagai Kawasan Ekowisata.   Qatrunnada Justitia Yumna (A44180050)
25. Rencana Lanskap Ekowisata Mangrove Desa Muara, Kabupaten Tangerang pada Masa Pandemi Covid-19.  Aushafa Dyazra (A44180055)
26. Rencana Lanskap Kawasan Mangrove Desa Muara Sebagai Kawasan Ekowisata Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang.  Ahsan Wildan (A44180047)
KELOMPOK VI
27. Perencanaan Lanskap Taman Balekambang, Solo Berbasis Kebudayaan dengan Menerapkan Prinsip New Normal.  Prima Jelita Rahmaningtyas (A44180030)
28. Taman Balekambang: Perencanaan Wisata Sejarah & Budaya Prinsip New Normal.  Callista Nabila Alessandra (A44180053) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
29. Perencanaan Lanskap Taman Balekambang Solo Berbasis Kebudayaan pada Aktivitas Pengunjung di Era Pandemi Covid-19. Reynaldi Yamahoki (A44180027)
30. Perencanaan Lanskap Taman Balekambang, Solo Berbasis Kebudayaan dengan Menerapkan Konsep New Normal.  Fabian Khalaf Sultansyah (A44180048)
31. Perencanaan Taman Balekambang Surakarta Berbasis Kebudayaan dengan Menerapkan Prinsip New Normal.  Dimitriane Ignacia Fedora (A44180054)
KELOMPOK VII
32. Rencana Ekowisata Mangrove di Desa Tongke-Tongke dengan Pendekatan Era New Normal.  Mila Cornelia Sukandar (A44180058)
33. Perencanaan Lanskap Ekowisata Hutan Mangrove Tongke-Tongke Berbasis Pendekatan Era New Normal Covid-19.  Anisah Ulfa (A44180084)
34. Perencanaan Pengembangan Lanskap Ekowisata Mangrove Tongke-tongke di Era-New normal.  Fani Nurul Fathia (A44180031) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
35. Perencanaan Lanskap Ekowisata Hutan Mangrove Tongke-Tongke.  Rofi’ul Jannah (A44180011)
36. Perencanaan Lanskap Hutan Mangrove Tongke-Tongke Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai.  Muhammad Amirul Hakim (A44180064)
KELOMPOK VIII
37. Perencanaan Taman Wisata Kum Kum Palangka Raya Sebagai Taman Wisata Riverfront Berbasis Mitigasi dan Respon Di Era  New Normal.  Gloria Agustina (A44180077) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
38. Perencanaan Taman Wisata Kum Kum Palangka Raya Sebagai Taman Wisata Riverfront Berbasis Mitigasi dan Respon Di Era  New Normal.  Rizka Zhafarina (A44180063)
39. Perencanaan Lanskap Taman Wisata Kum Kum.  Nani Tri Utami (A44180033)
40. Perencanaan Taman Wisata Kum Kum Palangka Raya Sebagai Wisata Alam Berbasis Mitigasi dan Respon Di Era  New Normal.  Mutiara Dewi (A44180029)
41. Rencana Taman Wisata Kumkum Palangka Raya Berbasis Mitigasi dan Respon Di Era New Normal.  Claudio Amaeda Benarrivo (A44180017)
KELOMPOK IX
41. TAMAN WADUK PLUIT SEBAGAI TAMAN RAMAH AIR BERBASIS MITIGASI COVIID-19.  Yulianus Goo (A44180093)
43. PERENCANAAN TAMAN KOTA INTERAKTIF BERBASIS REKREASI WADUK DI ERA NEW NORMAL.  Alliza Syafira Rahmawati (A44180024)
44. PERENCANAAN TAMAN WADUK PLUIT DI JAKARTA UTARA SEBAGAI SALAH SATU ATRIBUT KOTA HIJAU BERBASIS MITIGASI COVIID-19.  Azizah Fauzi (A44180065)
45. Perencanaan Lanskap Taman Waduk Pluit Berbasis Mitigasi dan Respons era New Normal.  Tasep Miftah Farid (A44180014)
46. Perencanaan Lanskap Taman Waduk Pluit Berbasis Mitigasi dengan Konsep New Normal.  Felix Davin Marcellino (A44180066)
47. Perencanaan Lanskap Taman Waduk Pluit Berbasis Mitigasi dan Respons di Era New Normal.  Vivanti Aulia (A44180051) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
KELOMPOK X
48. Perencanaan Lanskap Kawasan Jalur Hijau Dan Perumahan Menteng, Jakarta Pusat Berbasis Mitigasi & Respon (Adaptasi) di Era New Normal.  Clara Ornella Gultom (A44180019)
49. Perencanaan Lanskap Permukiman Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat Berbasis New Normal.  Ahmad Pawetyo Putro (A44180060)
50. Perencanaan Urban Green Connector pada Lanskap Kawasan Permukiman Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat Dalam Upaya Mitigasi Pandemi Covid-19.  Berlianti Wijaya (A44170010) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
51. Perencanaan Greenbelt Pada Lanskap Bantaran Sungai Wilayah Kelurahan Menteng Jakarta Pusat.  Adinda Chalista Khairunisa (A44180042)
52. Perencanaan Lanskap Jalur Hijau dan Ruang Terbuka Hijau Menteng, Jakarta Pusat Di Era New Normal.  Talia Noviyanti (A44180079)
KELOMPOK XI
53. Perencanaan Lanskap Kawasan Permukiman Padat Penduduk Kelurahan Mulyoharjo, Pemalang Berbasis Adaptasi Pandemi Covid-19.  Muhammad Khairul Fahmi (A44180061) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
54. Perencanaan Lanskap Kawasan Permukiman Berbasis Eco-Settlement di Era New Normal, Studi Kasus Kelurahan Mulyoharjo, Pemalang, Jawa Tengah.  Kania Puspita Dewi (A44180023)
55. Perencanaan Lanskap Kawasan Permukiman dan Kawasan Kumuh Kelurahan Mulyoharjo, Pemalang.  Endang Oktaviani (A44180013)
56. Perencanaan Lanskap Kelurahan Mulyoharjo, Kecamatan Pemalang dengan Konsep Relokasi dan Revitalisasi Lingkungan.  Salwa Salsabila Harraz (A44170085)
57. Perencanaan Lanskap Permukiman Kelurahan Mulyoharjo, Pemalang dengan Konsep Eco-Settlement Berbasis New Normal. Leny Mauliya (A44180002)
KELOMPOK XII
58. Perencanaan Hutan Kota Srengseng Sebagai Healing Forest pada Era New  Normal.  Nidaa Aditya Aziizah (A44180016) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
59. Perencanaan Hutan Kota Srengseng Sebagai Healing Forest pada Era New  Normal.  Elsadira Calista Suciana (A44180056)
60. Perencanaan Hutan Kota Srengseng Sebagai Healing Forest pada Era New  Normal.  Sultan Abit Berutu (A44180074)
61. Perencanaan Hutan Kota Srengseng Sebagai Healing Forest pada Era New  Normal.  Alysa Zahra (A44180012)
62. Rencana Healing Forest Di Hutan Kota Srengseng dengan Konsep Forest Bahting pada Era New  Normal.  Mukti Teguh Wijaya (A44180026)
KELOMPOK XIII
63. Perencanaan Lanskap Ekowisata Berbasis Konservasi Biodiversitas, Hutan Kota Ranggawulung.  Anita Septiani (A44180037)
64. Perencanaan Lanskap Ekowisata Berbasis Konservasi  Di Hutan Kota Ranggawulung Pada Era New Normal.  Dalila Helmy Nadhifa (A44180039)
65. Perencanaan Lanskap Hutan Kota Ranggawulung sebagai Kawasan Ekowisata berbasis Konservasi Keanekaragaman Hayati.  Azis Machpudin (A44180059) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
66. Rencana Lanskap Pada Kawasan Hutan Kota Ranggawulung Sebagai Ekowisata Berbasis Konservasi Biodiversitas.  Muhammad Arif Ramadhan (A44180034)
67. Rencana Lanskap Ekowisata Berbasis Konservasi Di Hutan Kota Ranggawulung Dalam Era New Normal.  Shafira Maharani Wahono (A44180086)
KELOMPOK XIV
68. Perencanaan Lanskap RTH Inklusi Era New Normal di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.  Khansa Luthfia Raihana (A44180045)
69. Perencanaan Lanskap Ruang Terbuka Inklusi Adaptif New Normal di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.  Syarifah Nurhasni Firrasyida      A44180038
70. Perencanaan Ruang Terbuka Sebagai Area Rekreasi  yang Inklusif Fan Adaptif Pandemi Covid-19 di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.  Tsabitah Sri Irwanto (A44180015)
71. Rencana Lanskap Taman Langsat Dengan Konesp Inklusi.  Alif Alghifari (A44180035)
72. Konsep Inklusi Lansia Dalam Rencana Lanskap Taman Langsat Jakarta Selatan.  Luthfi Nur Ilman (A44180028) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3] [Poster-4]
KELOMPOK XV
73. Perencanaan Lanskap Aberbasis Konsep Equilibrium Di Era New Normal: Alun-Alun Purworejo.  Nazun Thousan (A44180041)
74. Rencana Lanskap Rekreasi Berbasis Mitigasi Covid-19 & Respon Di Era New Normal Alun-Alun Purworejo.  Anna Mira Kartika (A44180004)
75. Perencanaan Rth Pada Alun-Alun Purworejo Sebagai Mitigasi Dan Respon Di Era New Normal.  Deviana Rosalia (A44180080)
76. Perencanaan Lanskap Alun-Alun Purworejo.  Dhimas Setoyudho Anggoro Raharjo (A44180081) [Poster-1] [Poster-2] [Poster-3]
77. Perencanaan Lanskap Alun-Alun Purworejo Berbasis Konsep Equilibrium.  Cintia Crolina (A44180008)
Posted by: Qodarian Pramukanto | 18th Jun, 2021

RICE ESTATE FARMING

.

Desain Persawahan di Desa Ujung Padang, Kecamatan
Aek Natas, Kabupaten Labura, Provinsi Sumatera Utara

Design Of Paddy Wet Field In Ujung Padang Village, Aek Natas Sub-District,
Labura District, North Sumatera Province
Gatot Pramuhadi*, Roh Santoso Budi Waspodo** dan Qodarian Pramukanto***
*Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fateta, IPB Kampus Darmaga, Bogor
**Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fateta, IPB Kampus Darmaga, Bogor
***Departemen Arsitektur Lanskap, Faperta, IPB Kampus Darmaga, BogorPenulis Korespondensi, Email: gpramuhadi@yahoo.com
.
ABSTRAK
Dalam rangka meningkatkan produktivitas padi sesuai dengan program pangan
nasional (intensifikasi dan diversifikasi), perlu dikembangkan metode budidaya padi
dan palawija yang modern dan mengurangi ketergantungan pada alam, serta dikelola secara scientific. Upaya seperti ini diharapkan akan dapat menarik minat investor dalam negeri dan dapat digunakan untuk menekan impor. Tujuan penelitian ini adalah membuat desain persawahan di Desa Ujung Padang, Kecamatan Aek Natas, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Provinsi Sumatera Utara, Indonesia yang secara geografis terletak pada 99.25.00 o – 100.05.00 o Bujur Timur dan 01 o 58’00’’ – 02 o 50’00’’ Lintang Utara. Areal lahan seluas +/- 300 ha di Aek Natas tersebut akan diubah menjadi areal lahan persawahan yang dikelola dengan model sistem pertanian mekanisasi penuh (full mechanized farming system) dan dapat diwujudkan menjadi suatu model “Rice Estate Farming” di kawasan tersebut sehingga bisa digunakan sebagai acuan untuk pengembangan (scaling-up) ke luasan yang lebih besar lagi. Penelitian dilaksanakan pada 11 Juni 2011 hingga 15 Maret 2012. Metode penelitian yaitu survey, kompilasi data primer hasil survey, studi pustaka, kompilasi data sekunder, digitasi peta asli, dan analisis. Hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa lokasi penelitian tersebut sangat cocok untuk budidaya tanaman padi dan palawija. Tanah di lokasi penelitian
bertekstur liat (kandungan fraksi pasir 16-38%, fraksi debu 12-32%, dan fraksi liat 4254%) dan mempunyai nilai tahanan penetrasi tanah sebesar 0.67 kgf/cm2 – 3.90 kgf/cm2 (kondisi kering) sehingga bisa dilumpurkan dan sesuai untuk aplikasi mesin-mesin, seperti bulldozer dan excavator, untuk mengembangkan areal ini menjadi rice estate. Di lokasi penelitian terdapat aliran air Sungai Kualuh yang sangat baik untuk irigasi dengan nilai SAR 1.89 (kelas sangat bagus), debit aliran air sungai cukup pada saat musim kering (kemarau), dan curah hujan bulanan rata-rata sebesar 151.4 mm (minimum pada bulan Februari) hingga 372.8 mm (maksimum pada bulan September).
Hasil analisa lapangan menunjukkan bahwa sistem budidaya padi dan palawija yang
tepat (ekonomis) di areal persawahan ini adalah multikultur dan rayonisasi (90
ha/rayon). Pola tanam “padi – padi – palawija” sangat sesuai di lokasi rice estate
tersebut, tanpa tergantung pada curah hujan. Rice estate ini diharapkan menjadi suatu model budidaya tanaman padi dan palawija modern dengan tingkat produktivitas tanaman yang tinggi sehingga dapat menjadi percontohan bagi petani-petani padi di sekitarnya.Kata kunci: pangan, padi, palawija, sawah, dan rice estate
.
ABSTRACT
In framework to increase paddy productivity that appropriate with national food program (intensification and diversification), so it was necesarry developed modern cultivation method of paddy and secondary crops, and to decrease nature independence, as well as it was scientifically managed. This effort was wished to attract national investor interest and it could be used to suppress import. The objective of the research was to design paddy wet field in Ujung Padang Village, Aek Natas Sub-district, Labuhanbatu Utara (Labura) District, North Sumatera Province, Indonesia that it was geographically located on 99.25.00 o– 100.05.00 o East Longitude and 01 o 58’ 00’’ – 02 o 50’ 00’’ North Latitude. The land area of +/- 300 ha in the Aek Natas District will be converted to become paddy wet field area that it will be managed with full mechanized farming system and it will be realized to be a “Rice Estate Farming” model in this area so that it can be used as a reference for scaling-up to be a greater area. The research was held on June 11, 2011 until March 15, 2012. Research method were field survey, compilation of primary data from field survey, library study, secondary data compilation, original map digitation, and analysis. The field research results showed that the research location was very suitable to cultivate paddy and secondary crops. Soil texture of the land in the research location was clay (sand fraction of 16-38%, silt fraction of 12-32%, and clay fraction of 42-54%) and it had soil penetration resistence of 0.67 kgf/cm2 – 3.90 kgf/cm2 (dry condition) so that it can be puddled and suitable for machines applications, such as bulldozer and excavator. It can be developed to be a rice estate area. In the research location existed of water stream of Kualuh River which was very good to irrigate the land area with SAR value of 1.89 (very good class), water stream debit was sufficient on dry season, and monthly average precipitation of 151.4 mm (minimum on February) up to 372.8 mm (maximum on September). Field analysis results showed that economically exact paddy and secondary crops cultivation system were multicultural crops and rayon systems (90 ha/rayon). Crop pattern of “paddy – paddy – secondary crop” was very suitable to apply in the rice estate area without any reliance from precipitation. The rice estate was wished to be a modern paddy and secondary crops cultivation model with a high crop productivity level so that it can be an example for paddy farmers in the around area.Key words: food, paddy, secondary crops, wet field, and rice estate

Key words: food, paddy, secondary crops, wet field, and rice estate.

.
PENDAHULUAN
Dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan yang meningkat seiring dengan
meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia, maka perlu ditingkatkan
produksi bahan pangan pokok nasional, seperti padi dan palawija. Apabila kebutuhan bahan pangan pokok nasional dapat terpenuhi maka ketahanan pangan nasional akan dapat terwujud. Untuk itu perlu upaya-upaya yang mengarah ke peningkatan produksi pangan nasional.
Upaya-upaya yang mengarah ke peningkatan produksi padi/beras dan peningkatan
pendapatan nasional perlu digalakkan, salah satunya adalah Rice Estate Farming.
Menurut Ruthenberg (1976) estate farming dapat didefinisikan sebagai sejumlah areal, baik yang terdiri dari satu maupun lebih hamparan (kawasan) pertanian dalam skala besar, yang dikelola secara profesional dengan sistem korporasi, baik yang berstatus milik swasta maupun yang berstatus milik negara. Estate farming lebih cenderung untuk menggunakan pola usaha monokultur dibandingkan dengan mengusahakan dua atau lebih komoditas.Estate farming harus dikembangkan dan dibudayakan dengan mendapat dukungan dari semua pihak serta ketersedian prasarana dan sarana produksi pertanian. Saat ini kebijakan pemerintah belum sepenuhnya terintegrasi secara utuh untuk mendukung usaha pertanian tersebut, terutama untuk tanaman padi dan palawija, seperti ….. [pdf-1] [pdf-2]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 15th Jun, 2021

PENGEMBANGAN EKOWISATA DESA KONSERVASI

 

KAMPUNG SUKAGALIH*

DESA CIPEUTEUY, KECAMATAN KABANDUNGAN, KABUPATEN SUKABUMI, PROVINSI JAWA BARAT
Oleh: A. Abdurahman, Herman, Indra, I. Nurjaman, dan P. Wijaya**
.
Sejarah
Sejarah dalam penamaan kampung Sukagalih, kata Sukagalih berasal  dari istilah bahasa Sunda terdiri dari 2 kata yaitu, suka yang  memiliki arti senang sedangkan galih memiliki arti hati yang paling dalam.  Dalam sejarahnya, kampung Sukagalih sebelum ditetapkan masuk dalam kawasan TNGHS, merupakan kawasan milik Perhutani. Pada saat itu masyarakat kampung Sukagalih hidup sebagai buruh perkebunan teh.

Pada tahun 1963 pihak perkebunan memindahkan permukiman warga Kampung Sukagalih ke kampung Pandan Arum yang merupakan wilayah kemandoran yang telah dihuni oleh 160 jiwa pada saat itu. Alasan pihak perkebunan memindahkan warga Sukagalih adalah agar lebih optimal dalam bekerja, karena kampung Pandan Arum daerah yang sangat dekat dengan kawasan perkebunan.

 Pada tahun 1964 mulailah warga kembali membuka atau menata kampung Sukagalih.  Warga yang membuka kembali kampung Sukagalih adalah keluarga Bapak Nim yang disebut warga kampung Sukagalih sebagai generasi pertama yang menempati kampung Sukagalih. Bapak Nim kembali membuka kampung Sukagalih bersama anaknya yang bernama Noeng dan Uneb.   Sebelummnya daerah kampung Sukagalih merupakan kawasan perkebunan teh yang ditinggalkan oleh PT. Inten Hepta.   Bapak Nim dibantu oleh kedua anaknnya dan Bapak Ajo mulai membuka lahan untuk dijadikan permukiman dan lahan pertanian. Sehingga pemerintah Desa Cipeteuy mulai menyadari adanya pembukaan lahan oleh warga tersebut, sehingga mengeluarkan surat berupa tanda pembayaran tanah atau nota pajak yang akan dikelola masuk kas desa. Kemudian pada tahun 1968 Badan Pertanahan Negara (BPN) mengeluarkan surat tanda pajak yang dikenal dengan istilah TUPI.

 Pada tahun 1972, warga yang masih mengelola perkebunan teh, tidak lagi mendapatkan permbayaran (gaji), sehingga sebagai imbalan pihak perkebunan memberikan lahan perkebunan teh tersebut kepada warga sebagai imbalan atas masa 15 tahun kerja. Sehingga BPN melakukan pengukuran ditahun tersebut untuk mengelurkan surat pemberitahuan pajak terhutang (SPPT). Dengan demikain selanjutnya warga kampung Sukagalih membuka lahan untuk dijadikan lahan garapan pertanian dan memulai bercocok tanam hingga sekarang.

Gambaran Umum Kampung Sukagalih
Kampung Sukagalih  merupakan dearah dataran tinggi karena berada di area gunung halimun dan termasuk dalam kawasan Resort Gunung Kendeng (TNGHS), sehingga memiliki iklim yang sejuk dan keindahan alam yang menawan dengan hamparan perbukitannya, dengan jenis tanah lempung baik itu sawah atau kebun. Secara administratif termasuk dalam kedusunan Pandan Arum desa Cipeteuy kec. Kabandungan Sukabumi.  Kampung Sukagalih memiliki luas permukiman sekitar 5 hektar dengan jumlah penduduk sebanyak 128 jiwa, 42 kepala keluarga (KK) dengan 40 rumah serta terdapat satu balai pertemuan.
Kondisi Sosial
Warga kampung Sukagalih masih memiliki hubungan persaudaraan antar warga yang bermukim sehingga dapat dikatakan warga kampung Sukagalih merupakan satu keluarga besar etnik suku sunda sehingga tidak wajar suasana dilingkungan sangat bersahabat dan erat dengan gotong royongnya. [….selanjutnya]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 15th Jun, 2021

PENGEMBANGAN EKOWISATA DESA KONSERVASI

Mendampingi Pengembangan Ekowisata di Kampung Sukagalih

Oleh: Arief Rahman

.
Pendampingan yang dilakukan P4W LPPM-IPB kepada Kampung Sukagalih di Desa Cipeuteuy Kecamatan Kabandungan Kabupaten Sukabumi dilakukan untuk mengoptimalkan potensi kampung ini untuk dikembangkan sebagai kampung ekowisata. Modal alam yang dimilikinya sungguh sangat mendukung bagi kegiatan ekowisata seperti sungai dengan airnya yang begitu jernih yang membelah persawahan yang produktif dan rapi, adanya hutan damar yang teduh dan nyaman  untuk trekking, hingga flora dan fauna yang unik sebagai bagian dari kekayaan hayati Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang memang bersebelahan dengan kampung ini. Dengan kata lain, Kampung Sukagalih ini memang menjadi bagian dari penyangga Taman Nasional. [……Selengkapnya]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 12th Jun, 2021

PENGEMBANGAN EKOWISATA DESA CIPEUTEUY – COMDEV P4W LPPM IPB

Divisi COMDEV, P4W-LPPM IPB:
“Program Pendampingan Masyarakat Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi”,  Bogor, Jum’at, 11 Juni 2021

 

.
I.  PERENCANAAN DESTINASI EKOWISATA
Dusun Sukgalih, Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi

.
.

II.  DAYA DUKUNG KAWASAN EKOWISATA
Dusun Sukgalih, Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi

.
.
DOKUMENTASI KEGIATAN
.
.
.
.
.
JADWAL KEGIATAN
.
Posted by: Qodarian Pramukanto | 3rd Jun, 2021

MENGGAMBAR PETA BIOREGIONAL KOTA BOGOR

MENGGAMBAR PETA BIOREGIONAL KOTA BOGOR*

.
Qodarian Pramukanto**
.
.
Bogor, seperti juga kota-kota lainnya, saat ini sedang bergiat memacu pembangunan kotanya. Aktivitas pembangunan kota ini pada hakekatnya bisa kita ikuti melalui representasi ragam bentuk dan pola garis yang dapat tergambar di peta. Berbagai bentuk pembangunan, baik itu suatu panambahan, pengurangan atau perubahan yang terjadi pada elemen dan ruang-ruang kota apabila dipetakan akan menyajikan gambaran yang kompleksitas yang ada.

Peta kota, sebagaimana peta lainnya, mempunyai arti penting lebih dari sekedar sebagai informasi keruangan (spatial), seperti petunjuk sebaran ruang-ruang kota, orientasi lokasi suatu tempat, posisi relatif suatu tempat terhadap tempat lain, dan jarak dari satu tempat ketempat lain. Namun peta juga menyajikan gambaran atas tatanan lanskap dari suatu kota, tatanan aktivitas yang menyertainya, serta mengandung berbagai makna penting atas suatu tempat (place meaning) bagi masyarakat kota yang bersangkutan. Peta memberi gambaran bagaimana manusia membagi-bagi lahan untuk berbagai peruntukan, menunjukan dimana batas awal dan akhir dari suatu tanah milik, batas dari suatu komunitas masyarakat kota, dimana jalan terdekat untuk mencapai suatu tempat tujuan tertentu, sampai pada menentukan dimana anak-anak kita dapat bersekolah. Selain itu melalui peta terungkap nuansa yang mencerminkan berbagai qualitas dalam bentuk harapan, keinginan, kehendak, kenyamanan, keamanan sampai kecemasan, kekhawatiran, kegelisahan dan kekecewaan masyarakat kota.

Ungkapan-ungkapan tersebut tersajikan berupa mosaik dan garis peta sebagai simbol berbagai bentuk struktur bangunan, rumah, gedung, jalan, jembatan penyebrangan, terowongan, tempat parkir, taman yang kita bangun. Namun tidak selalu garis yang tergambar di peta terinterpretasikan sebagai sesuatu yang diinginkan, harmonis, aman atau bermanfaat bagi kehidupan dan lingkungan sekitar kita, karena kerap hal sebaliknya yang terjadi. Tidak jarang ragam nuansa garis “merah” lebih mendominasi dari yang “hijau”.

Dalam setiap tarikan garis-garis peta tersebut ada banyak pihak terkait dengan berbagai kepentingannya masing-masing. Kehendak sebagian dapat saja tidak sejalan dengan hal yang seharusnya. Suatu keinginan bisa menjadi ancamam bagi pihak lain. Dan tidak jarang suatu bentuk pembangunan dapat mengganggu privacy dan juga hak milik pribadi. Bahkan kerap juga kita terpaksa atau dipaksa untuk menarik garis dengan menggunakan pena “merah” yang sengaja didatangkan dari luar wilayah kita. Sehingga gambar peta yang tersaji terlihat tidak saja tampak nuasa yang tidak diinginkan, out of place, tetapi juga terjadi tumpang tindih satu garis dengan garis lain, serta terdapat saling silang garis batas yang sarat dengan muatan konflik kepentingan.

Munculnya beragam batas-batas domain yang membingungkan ini sering tidak dapat dilihat secara visual (invisible) di lapangan, terkadang tumpang tindih dan jarang saling berkaitan serta tidak mengacu pada batas-batas alam atau tatanan geografi kota yang jelas, serta jauh dari pencerminan jati diri dari suatu tempat. Sehingga tidak jarang ditemukan rangkaian mosaik jejaring peta kota yang komplek dan abstrak. Dimana tanpa kita sadari seolah-olah batas-batas jurisdiksi ini sengaja dibuat untuk memisahkan kita dari belahan bumi yang kita pijak. Hal ini jelas memperlihatkan adanya kesenjangan titik pandang, dimana semakin menjauhnya kerangka acuan (frame of reference) yang memandu kita untuk selalu berfikir bahwa kita sendiri (baca: masyarakat kota) adalah bagian dari sistem kehidupan dimana kita tinggal. Padahal paradigma atas adanya keterkaitan antara tempat dimana kita hidup serta nilai-nilai sosial-budaya yang ada tidak perlu disangsikan lagi. Nampaknya kita perlu mendapatkan cara menata garis-garis batas mosaik peta kota kita, baik secara sosio-budaya, biologis dan geografis ke dalam satuan-satuan wilayah yang dapat dikelola (manageable).

Upaya untuk menata fenomena konflik keruangan (spatial) yang muncul di atas dapat dijelaskan berdasarkan konsep bioregion. Menurut Thayer (2003), bioregion berasal dari kata bio (=hidup) dan region (=territory), yaitu tempat hidup (life place), suatu lingkungan khas dimana batas-batasnya lebih ditentukan oleh tatanan alam (dari pada faktor politis) serta mampu mendukung keunikan aktivitas komunitas makhluk hidup di dalamnya. Satuan (unit) bioregion ini merupakan ukuran berskala manusia yang tepat untuk mengorganisir tatanan alam dan komunitas manusia secara simultan dan lestari. Bentuk dan cakupan wilayah aktivitas komunitas dalam bioregion tersebut antar lain dapat meliputi ruang tempat tinggal, ruang tempat mencari nafkah, ruang untuk berekreasi dan sebagainya. Sehingga batas wilayah ini tidak lagi definisikan berdasarkan hal-hal yang berkenaan dengan daerah kepemilikan, pelayanan dan administrasi, seperti batas tanah milik, batas RT/RW, batas kelurahan, batas kecamatan, batas kota, batas kode pos, batas pelayanan kepemerintahan, dan sebagainya.

Oleh karean itu setiap konflik keruangan yang mengindikasi terabaikannya batas-batas satuan (unit) bioregion dari komunitas masyarakat perlu mendapat perhatian serius. Karena setiap unit bioregion bersifat unik dan khas, pembangunan di suatu bagian kota tidak dapat disamaratakan untuk seluruh kawasan, akan tetapi harus disesuaikan dengan karakteristik bioregion yang bersangkutan. Sebagai contoh kekhasan suatu tempat dalam wujud “jatidiri tempat” (sense of place). Untuk kota Bogor hal ini hadir dalam berbagai bentuk. Ada kawasan yang kuat dengan nuansa “kolonial” bangunan yang bergaya Indische Architecture seperti di sekitar Jalan Pangrango, Jalan Sudirman, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan Semboja. Di bagian lain terdapat keunikan rancangan ruang luar pada taman lingkungan yang simetris di kawasan permukiman seperti taman Kencana atau taman ala Inggris di kompleks Istana-Kebun Raya. Disamping aset-aset sejarah kota ini, perlu diperhitungkan juga kehadiran tatanan etnis lainnya seperti kawasan pecinan dengan deretan ruko di penggalan jalan Suryakencana, kawasan kauman di sekitar alun-laun Empang, serta berbagai tatanan fungsi kota lainnya, seperti pusat perkantoran, lembaga penelitian dan pusat-pusat pelayanan.

Nampaknya orientasi pembangunan berdasarkan konsep bioregional di perkotaan relevan untuk diterapkan karena bertumpu pada permasalahan pokok dari unit bioregion yang bersangkutan. Oleh karenanya sajian garis-garis batas yang diharapkan muncul pada peta adalah berupa himpitan garis yang setangkup atau setidaknya sebangun. Hal ini berbeda dengan orientasi pembangunan lainnya yang bersifat sektoral, dimana sering muncul konflik keruangan berwujud tumpang tindih dan saling silang garis-garis batas peta. Penyebabnya adalah orientasi pembangunan sektoral yang kerap kali lebih mengusung misi sektor yang diembannya dan biasanya kurang memperhatiakan sektor lainnya.

Sejalan dengan dinamikan pembangunan, kebutuhan untuk menggambarkan garis-garis mosaik peta kota kita tidak dapat dihentikann. Sehingga ungkapan yang dikemukakan Beach (1999) patut kita simak, Life like art. You have to draw the line somewhere. Maknanya apabila kita ingin mempunyai peta dengan mosaik dan komposisi warna serta dominasi nuansa garis yang diinginkan, keterlibatan kita tidak dapat dielakan, atau minimal ada pihak-pihak yang mau menggambarkan garis-garis yang sesuai keinginan, relevan dengan kebutuhan, serta untuk kemaslahatan bersama masyarakat Bogor. Sehingga tidak muncul garis dalam nuansa wujud yang tidak dikehendaki, seperti jembatan penyeberangan yang tidak digunakan, kawasan permukiman berubah menjadi hotel, outlet-outlet, perkantoran, bank, ruang terbuka hijau (RTH) menjadi tempat parkir atau areal perkerasan lain, pedestrian jadi areal gelaran PKL, okupasi pemandangan oleh billboard iklan, arus lalu lintas macet karena jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan, terjadi traffic conjunction, termasuk juga berbagai bentuk penjarahan ruang publik, serta munculnya daerah-daerah kupat (kumuh padat) dan kumis (kumuh miskin).

Menyadari akan pentingnya keterlibahtan berbagai steakholder dalam mendelineasi peta kota kita, maka sudah saatnya dibangun mekanisme kelembagaan yang mengorganisasir potensi-potensi penggerak pembangunan kota. Masyarakat harus diberdayakan dan berperanserta dalam pembangunan kota, dimana kebijakan atau rencana yang tertuang benar-benar mencerminkan kehendak atau aspirasi masyarakat itu sendiri. Sehingga kebijakan top-down tidak lagi mewarnai tarikan garis di peta kota. Masyarakat Bogor, para pakar, perguruan tinggi, LSM, pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya perlu terlibat dengan peran masing-masing pada setiap tarikan garis dalam menyusun gambar peta masa depan kota kita.

__________________

*   Posting ulang artikel dari link: [html]
** Staf pengajar pada Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB University

.

 

Posted by: Qodarian Pramukanto | 3rd Jun, 2021

The 6th ISSLD

The 6th International Symposium for the Sustainable Landscape Development

.
.
Dear Colleagues,
We are very glad to invite you to join and submit abstract:The 6th International Symposium for the Sustainable Landscape Development (The 6th ISSLD).

SAVE THE DATE
15-16 September 2021VIRTUAL MEETING BY ZOOM

IMPORTANT DATES
Abstract Submission Deadline on 30 June 2021
Abstract Acceptance Announcement on 7July 2021
Full Paper Submission Deadline on 30 July 2021
Early Bird Registration before 30 July 2021
Final Registration and Payment on 30 August 2021
The 6th ISSLD Webinar on 15-16 September 2021

REGISTER NOW
arl.faperta.ipb.ac.id/symposium/register

More info
Website: arl.faperta.ipb.ac.id/symposium

For queries and technical support, do not hesitate to contact Symposium Secretariat:
seminar_arl@apps.ipb.ac.id
+62812-8616-9805 (Irma)

All accepted paper will be published in one of publications below:
IOP Earth and Environmental Science (EES), Scopus indexed,
Indonesian Landscape Journal (Jurnal Lanskap Indonesia), peer reviewed journal, SINTA indexed, ISSN 1907-3933, e-ISSN 2087-9059

 

We look forward to welcoming you.
Sincerely,

The 6th ISSLD Committee (Department of Landscape Architecture, Faculty of Agriculture, IPB University, Indonesia, in collaboration with Chiba University)

Link: [Website]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 3rd Jun, 2021

ARL315 LANSKAP AGROWISATA

KELOMPOK ASSIGMENT PRESENTASI DAN PAPER  – ARL315

.
.
Link : [LMS]

Older Posts »

Categories