Posted by: Qodarian Pramukanto | 9th Oct, 2020

Site Plan dan DED Community Learning Center, PT Borneo Indobara (BIB)

Kegiatan Penyusunan Site Plan dan Detail Engineering Design (DED)
Community Learning Center (CLC) merupakan kerjasama PT Primakelola IPB University dengan PT Borneo Indobara (BIB). CLC merupakan program yang dikembangkan oleh Divisi CSR dan Enviro PT BIB dalam rangka pemberdayaan masyarakat yang dilakukan secara paralel dalam periode kegiatan exploitasi masih berjalan (Pro Mining Activities) dan sekaligus menyiapkan capacity building
masyarakat pada periode kegiatan penambangan telah berakhir (Post Mining Activities). Program CLC dikembangkan pada tapak sekitar 28 ha dituangkan berupa Dokumen Site Plan dan DED. Program yang dikembangkan mencakup: Pelatihan, Inkubasi Teknologi, Inkubasi Bisnis dalam bidang kewirausahaan,
agribisnis (ternak, sapi, ayam, kambing, hortikultur sayuran, hortikultur buah, perikanan, hijauan pakan ternak, industri atsiri, jamur, koleksi tumbuhan ex-situ dan agrowisata).
Keluaran dari kegiatan ini dituangkan berupa dokumen, yang terdiri atas:
1.  Zonasi Community Learning Center
2. Site Plan Community Learning Center
3. Rencana Penanaman (Planting Plan) Community Learning Center
4. Rencana Elemen Keras (Hardscape Plan) Community Learning Center
5. Rencana Sirkulasi Community Learning Center
6. Detail Engineering Design Community Learning Center
7. Ilustrasi model 3D

KONSEP TRANSFORMASI TATA RUANG COMMUNITY LEARNING CENTER

ZONASI COMMUNITY LEARNING CENTER
SITE PLAN COMMUNITY LEARNING CENTER
PLANTING PLAN COMMUNITY LEARNING CENTER
HARDSCAPE PLAN COMMUNITY LEARNING CENTER
RENCANA SIRKULASI COMMUNITY LEARNING CENTER

.
ILUSTRASI MODEL TAPAK COMMUNITY LEARNING CENTER

Gerbang Tapak CLC Kebun Sereh Wangi dan Reservoir
Instalasi Biogas (Biodigester) Instalasi Biourine Fermentation
Hall Mess

 

Bank Planting Sereh Wangi Kebun Lada & Vanili
Posted by: Qodarian Pramukanto | 8th Oct, 2020

K-06 ARL331: SURVEI UNTUK PELESTARIAN LANSKAP SEJARAH DAN BUDAYA

Link Bahan Kuliah [LMS]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 8th Oct, 2020

K-06-ARL511: PERENCANAAN LANSKAP LANJUT

Link Bahan Kuliah ARL511/510 K-06 [LMS]
Link Bahan Praktikum ARL511/510 P-06 [LMS]
Link Group Praktikum ARL511/510 P-06 [LMS]
Link Resources Praktikum ARL511/510 P-06 [LMS]

 

PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Distrik Tapanuli Selatan berkomitmen untuk mengelola daerah Ampolu dan Muara Upu dengan sistem tata kelola yang sesuai dengan kriteria untuk pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Aspek pelestarian lingkungan adalah dasar utama yang digunakan dalam pengelolaan sumberdaya lahan. Berdasarkan hasil penelitian oleh Pusat Penelitian Sumberdaya Alam dan Bioteknologi LPPM IPB pada tahun 2012, beberapa daerah bernilai konservasi tinggi (KBKT) yang diidentifikasi di wilayah Ampolu yaitu: (1) Parit Aek Sibirong, (2) Area Gambut Dalam, (3) Bukit Simulak Anjing, (4) Area Perlindungan Nephentes. Sementara itu di perkebunan area Muara Upu terdapat KBKT: (1) Sempadan Sungai Batang Toru, (2) perbatasan alur parit blok D, dan (3) Blok D + Area Rawa E (BLI).

Saat ini, kondisi lahan di wilayah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal baik untuk aktivitas ekologis ataupun penggunaan lainnya dengan nilai pendidikan atau ekonomi yang berkaitan dengan lingkungan berkelanjutan. Oleh karena itu diperlukan studi/penelitian terkait penggunaan lahan di area ini.

Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Melakukan penilaian pemanfaatan lahan untuk menjaga keberlanjutan lahan dan 2. Memberikan rekomendasi untuk pengembangan lahan dan program manajemen pemanfaatan di wilayah studi.

Luaran dari penelitian ini adalah dokumen perencanaan pengembangan dan pemanfaatan lahan berupa zonasi pada tapak Simulak Anjing (Ampolu), Muara Upu dan Koridor Penghubung Tapak Simulak Anjing dan Muara Upu.  Pengembangan kawasan/tapak dilakukan dengan berorientasi pada aspek ekologi, pendidikan, sosial, dan ekonomi yang tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Zonasi Tapak Simulak Anjing (Ampolu)
Zonasi Tapak Muara Upu
Zonasi Connecting Corridor (Simulak Anjing, Ampolu – Muara Upu)
Posted by: Qodarian Pramukanto | 7th Oct, 2020

SITE PLAN TAMAN HERBAL PT SOCFINDO

 

PENGANTAR
Site Plan  disusun sebagai kebun/taman koleksi untuk tanaman obat baik ex-situ untuk tanaman obat asli Indonesia dengan prioritas difokuskan pada jenis-jenis tanaman, baik yang belum dimanfaatkan, sudah dan mulai ditinggalkan maupun pada pada spesies yang terancam dan langka.

Penantaan tanaman koleksi yang merupakan kerjasama antara Fakultas Pertanian IPB University dan PT Socfindo ini dituangkan pada tapak dengan memperhatikan kebutuhan ekologis, mofologi tanaman, unsur estetika dan kenyamanan taman.
Site Plan dituangkan ke dalam ruang-ruang berupa sub-sub taman tematik dan juga ruang fungsional (service, penyangga, dan welcome).

Site Plan disususn oleh Tim Fakultas Pertanian IPB University yang terdiri atas Dr Dewi Sukma, SP, MS (Ketua Tim & Tenaga Ahli Tanaman Hias), Prof. Dr Ir Sandra A. Aziz, MS (Tenaga Ahli Tanaman Obat), Dr Ani Kurniawati, SP, MS (Tenaga Ahli Tanaman Obat), Ir Qodarian Pramukanto, MSi (Tenaga Ahli Arsitektur Lanskap).  Tim juga dibantu oleh beberpa asisten, yaitu Linda Wulandari (Asisten Arsitektur Lanskap), Freta Kirana Balladona (Asisten Tanaman Obat), Chindy Merysa (Asisten Tanaman Obat) dan Muhammad Fito Bayubaskara (Asisten Tanaman Obat).  Hasil Site Plan Taman Herbal selain dituangkan berupa laporan tertulis, juga gambar Site Plan dan gambar tematik, juga berupa animasi video, yaitu:

a. Konsep Transformasi Tata Ruang Taman Herbal
b. Zonasi Taman Herbal
c. Site Plan Taman Herbal
d. Rencana Penanaman (Planting Plan)
e. Rencana Elemen Keras/Struktur (Hardscape Plan)
f. Rencana Sirkulasi
g. Video Animasi movie Taman Herbal (Zona Utama) [Link mp4]

DOKUMEN SITE PLAN
a.  Konsep Transformasi Tata Ruang  Taman Herbal
b.  Zonasi  Taman Herbal
c.  Site Plan Taman Herbal
d.  Planting Plan Taman Herbal
e.  Hardscape Plan Taman Herbal
f.  Rencana Sirkulasi Taman Herbal
f.  Zonasi Taman Herbal
     Zonasi Taman Herbal (Lanjutan)
     
  
ILUSTRASI
Screenshot Animasi Movie
PROGRES PEMBANGUNAN (KONSTRUKSI) TAMAN HERBAL
Kondisi Eksisting Tapak (Pra Konstruksi)
Kondisi Tapak Saat Konstruksi
Posted by: Qodarian Pramukanto | 27th Sep, 2020

Melestarikan “Paru-Paru” Hijau Jakarta

| Qodarian Pramukanto | Departemen Arsitektur Lanskap | IPB University |
.
Kota dapat diibaratkan sebagai suatu organisme dengan seperangkat organ yang mengendalikan kehidupannya. Sungai, saluran drainase primer, sekunder, dan tertier merupakan urat nadi yang mengalirkan limbah dan air hujan secara gravitasi dari daerah tinggi ke tempat rendah.

Ruang terbuka hijau, taman-taman kota, jalur hijau, greenbelt beserta komponen pohon atau jenis vegetasi lain merupakan paru-paru berperan menyejukan dan memproduksi udara bersih. Melalui mekanisme fotosintesis tumbuhan-tumbuhan menjadi “paru-paru” yang menyerap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi oksigen.  Sebagai produsen oksigen utama di alam, tumbuhan merupakan “pabrik” yang penyerapan emisi CO2 dan memanfaatkan air serta “memanen” energi matahari dalam proses fotositesis yang menghasilkan zat pati, seperti berikut:

H2O + CO2 –> (CH2O)n + O2

Oksigen (O2) atau zat asam merupakan salah satu unsur vital bagi kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia. Kiranya tidak perlu dijelaskan lagi, bahwa tanpa oksigen yang cukup dalam beberapa menit saja dapat berakibat fatal bagi kehidupan. Oleh karena itu kebutuhannya harus senantiasa terpenuhi dalam jumlah yang cukup.
Gas ini dipasok oleh dua tipe tumbuhan, yaitu tumbuhan tingkat tinggi dan tumbuhan tingkat rendah yang menyebar di daratan dan perairan laut. Dalam kondisi alami kedua jenis tumbuhan tersebut memasok oksigen dengan proporsi seimbang.

Tumbuhan tingkat tinggi –baik berupa pohon maupun jenis vegetasi lain– tumbuh di daratan pada berbagai tipe ekosistem hutan dan bentang lahan. Mulai dari bentang hutan dataran tinggi sampai hutan dataran rendah dan rawa; hamparan perkebunan, pertanian dan pekarangan; ruang terbuka hijau kota, taman kota dan taman rumah; sampai berbagai bentuk kelompok atau individu tumbuhan merupakan produsen setengah dari pasokan gas ini di alam.

Sedangkan setengah pasokan lainnya diproduksi di tangki air raksasa kawasan perairan laut yang kaya tumbuhan akuatik tingkat rendah golongan fitoplankton. Sebagai produsen utama di perairan laut, beberapa ilmuwan menyebutkan bahwa tanpa produksi oksigen oleh organisme tumbuhan mikro bersel tunggal ini, kehidupan yang kita kenal tidak akan ada. Hal ini terkait dengan besaran produksi gas oksigen yang proporsional dengan besaran gas karbon dioksida yang digunakan dalam proses tersebut.

Pada hakekatnya memelihara kedua infrastuktur alam sumber oksigen tersebut tidak sekedar mempertahankan jumlah pasokan ketersediannya bagi makhluk hidup termasuk manusia, namun sekaligus melestarikan bentuk-bentuk jasa lingkungan terkait lainnya.
Untuk kasus Jakarta, keberadaan kedua kawasan “hijau” tersebut mesti dilihat dalam perspektif regional yang saling kait dan tidak terpisahkan.

Secara fungsional kedua kawasan tersebut bagaikan sepasang organ “paru-paru”. Sebut saja, kawasan “hijau” di wilayah darat, yang membentang dari hulu sampai hilir sungai CiLiwung merupakan paru-paru sebelah kiri wilayah tersebut. Sedangkan kawasan “hijau” perairan teluk Jakarta menjadi belahan paru-paru kanannya.

Secara keruangan (spatial) hubungan antar kedua wilayah tersebut tidak terlepas dari mekanisme hubungan antara ekosistem darat dan laut.

Kota dengan berbagai aktivitasnya menghasilkan emisi melalui pembakaran bahan bakar oleh kendaraan bermotor, industri serta penggunaan peralatan tertentu di kawasan permukiman dan rumah tangga– akan menghasilkan gas antara lain CO2 yang akan “ditangkap” oleh paru-paru “hijau” kota dan wilayah sekitarnya dan diproses melalui fotosintesis sehingga dihasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh kehidupan di perkotaan.

Namun dengan keterbatasan kawasan “hijau” di wilayah daratan, tidak semua gas CO2 ini dapat ditransfer menjadi O2. Melalui mekanisme pergerakan angin darat dan laut, kelebihan CO2 kota ini pada saatnya akan dialirkan ke perairan laut. Oleh fitoplankton “pupuk” ini diubah menjadi oksigen melalui proses yang sama seperti pada tumbuhan tingkat tinggi.

Selanjutnya melalui mekanisme sebaliknya, adanya pergerakan udara dari perairan laut ke darat akan mengangkut produksi oksigen tersebut ke daratan.

Dalam kenyatannya mekanisme transformasi dan pertukaran oksigen dan karbon dioksida tidak selalu demikian. Berbagai bentuk gangguan dapat terjadi baik pada kawasan “hijau” daratan maupun perairan.

Jakarta dengan luas kota 66.000 ha menunjukan fenomenna terganggunya mekanisme transformasi dan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Hal ini terlihat pada tidak konsistennya alokasi ruang terbuka hijau (RTH) kota maupun implementasinya.
Perubahan alokasi peruntukan RTH senantiasa terjadi. Mulai dari Rencana Induk Djakarta 1965-1985 yang mengalokasikan RTH seluas 37,2 persen, berubah menjadi 25,85 persen dalam Rencana Umum Tata Ruang Jakarta 1985–2005 (Perda Nomor 5 Tahun 1985) sampai akhirnya hanya menyisakan target RTH sebesar 13,94 persen dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2000–2010 (Perda No 6 Tahun 1999). Namun, realitasnya pencapaian target RTH yang terakhir ini pun tampaknya “cukup sulit” terpenuhi.

Padahal perhitungan kebutuhan RTH berdasarkan fungsi pasokan kebutuhan oksigen kota (Lembaga Penelitian IPB, 2000) yang memperhitungakan berbagai bentuk penggunan oksigen —termasuk manusia, hewan ternak, kendaraan bermotor, pabrik dan lainnya– adalah sebesar 13 191 ha atau (19.94 %). Namun realitanya berdasarkan data tahun 2000 total RTH hanya mencapai 7 246 ha, masih jauh dari cukup.

Berdasarkan perhitungan pasokan oksigen oleh “paru-paru” hijau dataran yang ternyata masih kurang ini logikanya akan berakibat vital terhadap kehidupan, termasuk manusia. Namun kenyataannya tidak demikian. Dalam perspektif regional, fenomena ini setidaknya dapat dijelaskan melalui mekanisme transpor oksigen dari “paru-paru” hijau perairan yang selama ini
tidak kita perhitungkan, atau tidak menutup kemungkinan pula adanya posokan dari kawasan hijau sekitar kota Jakarta.

Oleh karena itu kelestarian kedua kawasan “hijau”—daratan dan lautan– ini mutlak perlu dipelihara, terkecuali kalau kita memutuskan untuk mulai menggunakan tabung oksigen untuk bernafas.

Disatu sisi pembabatan hutan, penggusuran lahan-lahan pertanian dan perkebunan menjadi kawasan terbangun, alih fungsi peruntukan RTH dan taman-taman kota, penebangan pohon pada koridor-koridor jalan merupakan kegiatan peniadaan mekanisme salah satu bentuk jasa lingkungan ini dari “paru-paru”hijau daratan.
Di lain sisi berbagai pencemar perairan, seperti limbah kota, aktivitas industri dan aktivitas pertanian yang terangkut melalui aliran limpasan (runoff) yang masuk ke sungai akan ?bermuara keperairan laut. Dalam keadaan tertentu senyawa-senyawa pencemar dari golongan urea organic ini mengakibatkan pengkayaan perairan (eutrofikasi) berakibat ledakan pertumbuhan fitoplankton dari jenis yang .

Sebagai bagian dari rantai makanan di perairan laut, dalam kandungan nutrient pencermar yang tinggi, akan terjadi ledakan tumbuhan bersel tunggal ini. Walaupun kebanyakan fitoplankton tidak berbahaya, namun sejumlah kecil spesies tumbuhan bersel satu ini mengandung zat beracun. Dalam kondisi tingkat pencemaran tertentu melalui pengkayaan senyawa urea organic, jenis-jenis plankton beracun, seperti dinoflagelata, dapat mengalami “ledakan” (booming) yang dikenal dengan “red-tide”. Toksisitas senyawa racun yang dihasilkan ini dapat membunuh golongan makhluk hidup yang lebih tinggi, seperti zooplankton, kerang, ikan, burung, mamalia laut, bahkan dengan mekanisme transfer rantai makanan pada saat dikonsumsi manusia dapat berakibat fatal.

Oleh karean itu upaya menyelamatkan dua infrastruktur alam berupa “paru-paru” hijau daratan dan lautan sangat penting bagi kehidupan.

Lembah Gunung Kwanak, 7 Juni 2005

* Staf Pengajar Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian IPB; Mahasiswa S3 Seoul National University, Korea

.
Link: [html-1] [html-2]
Banjir bandang yang terjadi di Sukabumi, (21/9) merupakan salah satu dari sekian bencana alam di Indonesia. Langkah awal yang dapat dilakukan dalam mencegah banjir bandang secara mendasar adalah melalui konsep penataan ruang daerah berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan menentukan arahan peruntukan untuk kawasan lindung dan budidaya.

Ir Qodarian Pramukanto, MSi, dosen IPB University dari Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian menyampaikan bahwa bisa diasumsikan, tata ruang existing di wilayah tersebut sudah benar, namun dalam implementasinya dapat terjadi perubahan. Baik karena faktor alam (kekeringan, kebakaran hutan dan faktor lain) atau adanya inkonsistensi dalam implementasi.

“Adanya perubahan tutupan lahan seperti menurunnya tutupan lahan dengan terbentuknya lahan terbuka/gundul disertai curah hujan yang cukup tinggi (sebelum dan saat kejadian),  berpengaruh pada lahan dengan jenis tanah tertentu serta berlereng curam atau terbentuk bidang-bidang gelincir pada lapisan batuannya dapat menyebabkan penurunan stabilitas (daya dukung) lahan yang tidak saja mengakibatkan erosi tetapi juga longsor/landslide (gerakan tanah),” terangnya.

Longsor-longsor yang terjadi di sepanjang aliran sungai dapat memicu terbentuknya struktur bendung-bendung alami yang akan menahan dan mengakumulasi aliran air sungai berupa kolam-kolam besar. Namun apabila kemampuan bendung alami untuk menahan aliran air  terlampaui karena curah hujan yang tinggi atau batang-batang kayu yang ikut membentuk struktur bendung alami tersebut melapuk, akan jebol.

“Jika bendung di bagian hulu ini jebol, akan menginisiasi peningkatan debit aliran sungai yang akan menjebol bendung-bendung alam di bagian hilirnya, sehingga secara akumulatif kekuatannya akan semakin meningkat.

“Apabila peningkatan debit aliran sungai ini melampaui dimensi saluran sungai yang ada, maka aliran sungai tersebut akan meluap dan membanjiri daerah di sekitar saluran sungai.  Besarnya kekuatan debit aliran sungai disertai berbagai material berupa kayu, tunggul pohon dan lumpur yang terbawa oleh arus sungai merupakan sumber kerusakan apabila menerjang properti (rumah, kendaraan, jalan, jembatan),” tambah Qodarian, candidate Doktor di Department of Landscape Architecture, Graduate School, Seoul National University, Seoul, Korea Selatan dengan topik penelitian “Bioregional-Based for Sustainable Landscape Planning” ini.

Dalam pemaparannya, Qodarian menerangkan bahwa penataan ruang yang baik adalah menetapkan arahan penggunaan lahan berbasis pada karakteristik sistem DAS (bentuk DAS, proses-proses hidrologis), seperti menetapkan kawasan lindung, kawasan tangkapan air (water recharging area), kawasan perlindungan setempat (jalur hijau sempadan sungai) dan kawasan pengembangan.

“Pemantauan secara reguler terhadap DAS perlu dilakukan, sehingga jika terjadi perubahan tutupan lahan dan perubahan topografi lahan, dapat dilakukan mitigasi dan adaptasi dalam berbagai bentuk respon. Semoga musibah yang terjadi menjadi peringatan bagi kita untuk segera introspeksi atas perilaku yang tidak selaras dengan alam,” tutupnya. (SM/Zul)

Published Date : 25-Sep-2020
Resource Person : Ir Qodarian Pramukanto, MSi
Keyword : Banjir bandang, DAS, Tata Ruang, Ahli Arsitekstur Lanskap, IPB University, dosen IPB
.
Link: [link-1] [link-2] [link-3] [link-4]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 25th Sep, 2020

Greenhouse Di Taman Rumah, Sarana Berkreasi Kegiatan Berkebun

Link: [pdf] [html]
LINK: [pdf] [html]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 16th Jul, 2020

WEBINAR – PEMANFAATAN BIG DATA UNTUK PERENCANAAN WILAYAH DI ERA VUCA

 
WEBINAR – PEMANFAATAN BIG DATA UNTUK PERENCANAAN WILAYAH DI ERA VUCA
SENIN, 20 JULI 2020
Pukul 10.00 – 12.00
Link Pendaftaran: ipb.link/webinarpwl1

Older Posts »

Categories