Posted by: Qodarian Pramukanto | 23rd Aug, 2016

RELUNG TERCIPTA DIANTARA DUA KONFLIK: FENOMENA BIOREGION DMZ, KOREA

| Qodarian Pramukanto | Departemen Arsitektur Lanskap |  Fakultas Pertanian | Institut Pertanian Bogor |

dmz

DMZ Map

Bioregion merupakan suatu konsep yang mengusung filosofi bahwa fenomena bioregion nampak jelas, khusunya konsep reinhabitation yang di kumandangkan oleh Berg (1978). Kehadiran unggas liar di kawasan segment perbatasan (border) dua Korea dan sekitarnya mengilustrasikan fenomena bioregion bagi satwa liar tersebut. Tersedianya areal sumber pakan (feeding ground) bagi satwa tersebut berupa lahan persawahan serta areal tempat beristirahat di malam hari pada areal semak-semak berawa di dalam benteng perbatasan pemisah merupakan domain bagi ruang hidup satwa tersebut  continue reading

Posted by: Qodarian Pramukanto | 15th Aug, 2016

Greenbelt Bandung Raya: Revitalisasi Jejaring Ruang Terbuka Hijau Regional

| Qodarian Pramukanto | Departemen Arsitektur Lanskap |  Fakultas Pertanian | Institut Pertanian Bogor |

Menyimak pengarahan almarhum Letjen TNI (Purn.) Mashudi —saat menjabat gubernur Jawa Barat, seperti ditulis Tjitroseowarno (Pikiran Rakyat anggal 25 Juni 2005), “Mashudi, Korbankan Kepalanya yang Botak”— mengenai fungsi ekologi hutan dan kawasan hijau sebagai pegendali bencana longsor dan banjir sangat
menarik.  Peragaan demonstratif yang beliau lakukan, seperti dikisahkan, dengan menuangkan segelas air di atas kepala beliau yang gundul mencerminkan kepedulian beliau yang tinggi terhadap permasalahan lingkungan.  Besaran akibat yang akan terjadi apabila pohon di gunung ditebang dan hutan digunduli menyebabkan air hujan yang jatuh tidak dapat “ditahan” namun langsung mengalir ke bawah menimbulkan banjir seperti meluncurnya air yang dituang di atas kepala beliau.

Kini, empat puluh tahun kemudian, apa yang beliau khawatirkan saat itu telah terbukti.    Musibah tanah longsor dan banjir merupakan berita yang kerap kita dengar dan saksikan.    Namun ironisnya, kerap pula kita dengar dan saksikan berita penebangan pohon, penggundulan hutan, perubahan kawasan lindung dan penyangga menjadi budidaya, kawasan budidaya menjadi kawasan
terbangun (permukiman, industri, kota dan jalan raya), serta peruntukan lain yang menyalahi fungsi dan melampaui kapasitas ekologi.  Sampai kapan ketidakpedulian ini terus terjadi ? Disadari atau tidak secara perlahan tapi pasti kita sama-sama sedang melakukan apa yang oleh J.O. Simonds … continue reading

Posted by: Qodarian Pramukanto | 9th Aug, 2016

Location Matters ! Using GIS in decission making process

General Lecture

By Canserina Kurnia
Solution Engineer, ESRI Global Asia Pasific

| Saturday 13nd August 2016 | 10.00 – 12.00 | Aula Ahmad Baehaqie | Center for Regional System Analysis, Planning and Development | P4W-IPB |
Kampus IPB Baranangsiang, Jl. Raya Pajajaran, Bogor


Location is important! Many decission are made based on locations, even day-to-day decissions laike “where to go for lunch?”.  Geographic Information Systems (GIS) connects people with locations, through maps and apps that are accessible to anyone, anywhere, anytime on various devices.  Attend this presentation and learn modern Web GIS and how the technology is used in various sector, such as natural resources, landscape planning, emergency management and commercial.

Posted by: Qodarian Pramukanto | 26th Jul, 2016

PUNGSU: GEOMANSI LANSKAP KOREA

Microsoft Word - TATANAN_GEOMANSIF_LANSKAP_SEOUL.DOC

Geomansi Korea

ABSTRACT
Geomancy is form-recognized art of earth’s ki energy interaction with community
culture. Ki and its existence in a place can be identified because its linked to geographical
features of landscape. In Korea, this spatial perception and thought about geographical
environment is the pungsu. Pungsu is geomancy that examines and determines
the sites that favorable for town, village, house or tomb. There are two approaches
are applied in pungsu, i.e. compass school and form school. The compass school is developed from the basic idea/theory, while form school developed from systematic structure theory. This paper explain and discuss both approaches.

Keywords: Geomancy, pungsu, ki energy, compass school, form school, Korea

Pramukanto, Q. 2013. Pungsu: Geomansi lanskap Korea. J. Lanskap Ind., 4(2): 9 – 17. [pdf] [link]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 26th Jul, 2016

Geospatial dalam Pelestarian Lanskap Budaya dan Sejarah

poster seminar geospasial

Geospatial lanskap budaya dan sejarah

Abstrak:
Lokasi geografis merupakan informasi yang penting dalam disiplin ilmu geografi, perencanaan kota dan disiplin ilmu keruangan lainnya, termasuk arsitektur lanskap, antara lain dalam aktivitas pelestarian lanskap budaya/sejarah. Informasi spatial (geospatial) ini merupakan acuan bagi pemahanan terhadap apa, dimana dan kapan suatu interaksi alam dan budaya yang membentuk entitas lanskap budaya/sejarah terjadi.
Untuk memahami interaksi fenomena alam dan gejala budaya tersebut diperlukan tafsir (interpretation) terhadap aspek tempat (place), waktu (time) dan arti (meaning) dari entitas lanskap budaya/sejarah tersebut. Lanskap budaya berkaitan dengan tempat (dimana), sedangkan lanskap sejarah berkaitan dengan waktu (kapan). Selanjutnya pemahaman lanskap budaya dan sejarah dilakukan berdasarkan interpretasi terhadap arti (meaning) terhadap aspek tempat dan waktu tersebut.
Untuk memahami aspek place, time dan meaning dalam lanskap budaya dan sejarah, informasi geospatial mempunyai peranan yang berbeda-beda. Data geospatial dapat langsung digunakan untuk menafsirkan abstraksi obyektif atas suatu realitas fisik (tangible), seperti setting lanskap, tata letak dan spatial pattern. Namun tidak, untuk representasi yang bersifat simbolik subyektif (intangible), berupa nilai-nilai (values), ide, konsep, naratif dan filosofis. Untuk lebih memahami karakteristik data geospatial dalam Pelestarian Lanskap Budaya dan Sejarah diuraikan ilustrasi penerapan data geospatial tersebut dalam identifikasi dan analisis, implementasi tindakan pelestarian dan pemantauan.

Keyword: geospatial, place, time, meaning, abstraksi obyektif realitas fisik, simbolik subjektif, lanskap budaya, lanskap sejarah, interpretasi budaya.

Pramukanto, Q. 2015. Geospatial dalam Pelestarian Lanskap Budaya dan Sejarah. Seminar Teknologi Geospasial Dalam Pengembangan Bidang Arsitektur Lanskap.  Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), Bogor, 28 Maret 2015.  [pdf][ppt] [link]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 18th May, 2016

TATA RUANG DALAM PERSPEKTIF ARSITEKTUR LANSKAP

Kuliah Umum Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Pembicara:  Qodarian Pramukanto/Dept. Arsitektur Lanskap IPB
Waktu       :  Selasa, 17 Mei 2016
Pukul        :  10.00 – 12.00
Tempat     :  Ruang Al Bathoni, Fakultas Teknik UMJ
Topik        :  TATA RUANG DALAM PERSPEKTIF ARSITEKTUR LANSKAP

Arsitektur Lanskap


Link: [pdf]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 1st Mar, 2016

John Ziesel is keynote speaker at EDRA47Raleigh

THE ENVIRONMENTAL DESIGN RESEARCH ASSOCIATION (EDRA)

EDRA’s 47th Annual Conference, Raleigh, North Carolina on May 18-20, 2016 

John Zeisel, Ph.D., author of Inquiry by Design, founder and president of Hearthstone Alzheimer Care and the I’m Still Here Foundation will provide the keynote address to close to 500 architects, landscape architects, urban planners, designers, social ecologists, environmental psychologists, and urban anthropologists from around the world as they gather in Raleigh, North Carolina on May 18-20 for EDRA’s 47th Annual Conference.

The roster of keynote and plenary speakers are as follows:

1. Ming Kuo, Ph.D., University of Illinois Urbana-Champaign

Title: The Science of Nature and Health:  Discoveries and Design Recommendations from the Frontier

Summary: In recent years, progress in the science of nature and human health has been nothing short of spectacular.  The array of health outcomes tied to exposure to nature is frankly staggering.  We now know far more about what “doses” or forms of nature are needed and the magnitude of their effects on health.  And we even have a surprisingly rich and powerful conception of why and how contact with nature may promote health.
Perhaps just as exciting as these advances in basic science are their ramifications for design, policy, and practice. As we begin to grasp the specific mechanisms underlying the nature-health relationship, the implications for design become increasingly powerful and sophisticated.  The cumulative work in this area shows how great basic science can shape great environmental design.

2. John Zeisel, Ph.D., Hearthstone Alzheimer Care, Ltd.

Title: From Paradigm to Action in Environment-Behavior Research/Design
Summary: How a simple conceptual leap (the radical concept of environment-behavior) moved over half a century from pure concept to a national action agenda; the example of designing for Alzheimer’s and how partnering with the neurosciences has led to advances in both science and action.
 
At the first edra meeting, actually at a pre-edra edra meeting at MIT we were all searching for a definition of what we all—architects, psychologists, sociologists, designers, government officials, professors, students—intuitively knew was a yet undefined field.  Concepts, curricula, actions, and just a few designs were presented.  Over the years since then we have continued to search for relevance, and have often found it in application of e-b research to architecture, planning, landscape, and interiors. Today we are on the threshold of even greater relevance and application through partnering with other fields of science and action.

3. Catharine Ward Thompson, Ph.D., The University of Edinburgh

Title: Innovation, collaboration and cross-disciplinary working: shifting the ground of environmental design evidence
Summary: Policy-makers’ renewed interest in environmental design reflect its potential to help address current health crises that are issues not just for the developed and westernized world but, increasingly, for countries across the globe: cardio-vascular disease, rising levels of obesity, Type 2 diabetes, mental illness, etc. In addition, there are concerns about growing inequalities in health and wellbeing within, as well as between, countries. In this context, this presentation explores what kinds of approaches are needed if environmental design as health-enhancing (salutogenic) and reducing of health inequalities (equigenic) is to be taken seriously by public health policy-makers and planners. It considers the importance of working across and between disciplines, often in large-scale collaborative ventures, to research the implications of planning, design and management decisions for public open space and the outdoor environment. Innovative methods involving biomarkers of wellbeing or stress and neuroscience techniques will be considered. The particular challenges involved in longitudinal studies to research design interventions, and the opportunities that natural experiments offer, will also be explored. The presentation draws on research examples that consider all ages and life stages. It also shows examples of ways in which such research can feed into policy, from World Health Organization initiatives to Scottish Government and national health service programs with local communities.

4. Robin Moore, DiplArch, MCP, Hon. ASLA, NC State University College of Design

Title: Evidence-based design: Driver of social investments in early childhood environments
Summary: Prevalence of sedentary lifestyles has increased awareness about the importance of environments that children experience everyday, especially those where they spend significant time away from home. Thus, childcare centers have become a focus of research regarding indoor and outdoor design. The development of evidence-based projects is crucial to guide adequate design decision-making, support new environmental policies, and to attract funding to carry out interventions. Meanwhile, socially minded organizations are looking to support the development of sustainable programs whose impact is measurable. Responsible social investments and evidence-based programs are indissolubly connected by shared values of researchers, practitioners, and funders.

5. Nilda Cosco, Ph.D., NC State University College of Design

6. Jennifer Zuckerman MacDougall, MS, Blue Cross Blue Shield Foundation of North Carolina

Read more 

Posted by: Qodarian Pramukanto | 5th Apr, 2015

‘Berburu’ Bunga Rafflesia di Pananjung Pangandaran

Pesona kawasan Pananjung Pangandaran, Kabupaten Ciamis sudah terkenal tidak saja karena keindahan pemandangan, hutan pantai dan hutan dataran rendah, tebing pantai yang curam, tetapi juga gua-gua karst, pantai pasir putih, air terjun dan terumbu karang di perairan teluknya (Gambar 1). Kawasan semenanjung seluas 530 ha yang di zaman kolonial merupakan taman buru dengan objek sasaran buru banteng dan rusa ini, sejak tahun 1961 ditetapkan sebagai Cagar Alam (CA). Penetapan status sebagai CA, berdasarkan penemuan salah satu tumbuhan endemik yang hanya tumbuh di Pulau Jawa, yaitu Bunga Rafflesia (Rafflesia patma Blume). Sehingga sejak saat itu aktivitas perburuan di CA tidak diperkenankan.

       01

Gambar 1. Cagar Alam Pananjung Pangandaran dengan pemandangan hutan dataran
rendah, tebing pantai yang curam, gua karst, pantai pasir putih dan biota
perairan yang mempesona (Foto: Q. Pramukanto)

Namun dengan bidik sasar yang berbeda bentuk baru ‘perburuan’ dengan alat bidik kamera di kawasan ini masih diperkenankan. Peneliti, mahasiswa dan juga pelajar dapat menjadikan tumbuhan dan juga satwa menjadi objek yang dibidik dalam kegiatan ‘wisata’ ilmiah, termasuk tumbuhan endemik Bunga Rafflesia yang hanya terdapat di tiga Cagar Alam, yaitu Nusakambangan (Cilacap), Leuweung Sancang (Garut) dan Pananjung Pangandaran (Ciamis). Demikian juga halnya dengan kegiatan field work yang dilakukan oleh rombongan mahasiswa Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian IPB di kawasan ini pada bulan November 2012. Cagar Alam Pananjung Pangandaran menjadi salah satu kawasan yang dijadikan obyek praktikum dalam mata kuliah Perencanaan Lanskap, selain kawasan lain di wilayah Pesisir Pangandaran.

 02

Gambar 2. Rombongan Mahasiswa Arsitektur Lanskap yang melaksanakan praktikum di Cagar Alam Pananjung Pangandaran

Salah satu aspek tematik yang menjadi tugas kelompok mahasiswa tersebut adalah menyusun rencana lanskap kawasan cagar alam. Untuk menyusun rencana lanskap, kelompok mahasiswa yang bertugas harus melakukan analisis tapak/kawasan, termasuk habitat raflesia. Dari kegiatan field work di Cagar Alam ini banyak pengalaman dan pengetahuan diperoleh. Salah satunya adalah mengenai flora endemik ini. Walaupun untuk ‘memburu’ raflesia ini tidaklah mudah, namun kemungkinan ‘bertemu’ lebih tinggi karena kunjungan bertepatan dengan periode pembungaan ini si bunga raksasa ini. Kesulitan mengenali tumbuhan ini karena satu-satunya organ yang dapat dikenali adalah bunga. Organ lain sebagaimana umumnya ada pada tumbuhan lain, seperti daun, batang/ranting dan akar tidak ada. Hal ini karena tumbuhan tersebut merupakan parasit (holoparasit) yang mendapatkan sumber makanan untuk kebutuhan hidup sepenuhnya bergantung pada tumbuhan inang sejenis pemanjat yang bernama Ki Barera atau Tetrastigma sp.

‘Perburuan’ Bunga Rafflesia di kawasan CA Pananjung Pangandaran dapat dilakukan setelah mendapat Simaksi, yaitu Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi yang dikeluarkan oleh KPH Ciamis. Surat ini merupakan kontrak antara pengunjung dengan pihak pengelola bahwa dalam kunjungannya, pengunjung akan mematuhi peraturan yang berlaku di dalam Kawasan Cagar Alam. Setelah mendapat pengarahan dari petugas Jaga Wana (Polisi Hutan) yang memandu kegiatan ilmiah yang kami lakukan dimulailah petualangan menyusuri jalur pendakian yang berbukit, berlembah, kadang menanjak dan menurun serta jalan setapak yang licin karena hujan kemarin. Setiap langkah yang dilalui dalam jalur pendakian yang cukup menantang tersebut, pandangan mata tertuju pada lantai hutan dimana tumbuhan parasit ini biasanya muncul pada akar tumbuhan inangnya (Gambar 3) .

 03a
 03b

Gambar 3. Jalan setapak menanjak dan menurun yang licin (atas). Daerah lembah
berlereng dengan tumbuhan pemanjat merupakan habitat bagi Bunga Rafflesia
(bawah) (Foto: Q. Pramukanto)

Setelah melewati hutan pantai, jalur pendakian mulai memasuki hutan dataran rendah yang sejuk karena rapatnya tutupan kanopi hutan, sehingga walaupun berpeluh namun tetap terasa nyaman bagaikan berada di ruang berpendingin raksasa. Sepanjang jalur pendakian tampak lantai hutan yang dilapisi oleh hamparan serasan dedaunan dengan aroma khas semakin menambah kesan sejuk suasana di bawah lindungan pepohonan. Ketebalan lapisan serasah ini merupakan ‘reservoir’ alam yang membuat suasana menjadi terasa dingin, dan hal inilah yang menjadikan tempat tumbuh yang disenangi oleh Refflesia.

Setelah berjalan sekitar dua jam yang cukup menguras tenaga, tibalah pada jalur sempit dan menurun menuju dasar lembah dari sungai kecil. Di bawah tajuk hutan nan rimbun dan batang-batang tumbuhan pemanjat ki Barea yang berseliweran, petugas jaga wana yang memandu kami menunjukan seonggok sisa-sisa bunga Raflesia bewarna coklatkehitaman diantara serasah dedaunan. Bunga yang sudah layu beberapa hari yang lalu tersebut nyaris sulit dikenali karena warnanya serupa daun-daun mati yang melapisi ketebalan lantai hutan. Selain Bunga Rafflesia layu yang ditemukan di tiga titik berdekatan, ditemukan pula satu bakal bunga yang belum mekar (kopula) berukuran sebesar corong microfon. Menurut petugas, ukuran kopula sebesar ini akan mekar dalam waktu sekitar 5 – 6 bulan kemudian (Gambar 4).

 04

Gambar 4. Sisa Bunga Rafflesia yang sudah layu (kiri) dan kuncup (Kopula) yang muncul pada permukaan akar Ki Barera dan diperkirakan akan mekar dalam waktu 5-
6 bulan kemudian (kanan) (Foto: Q. Pramukanto)

Walaupun hanya sisa-sisa bunga sudah layu yang pertama kali ditemui, namun perjumpaan tersebut tidak sekedar mengurangi rasa lelah, bahkan semakin memperkuat semangat akan menemukan bunga-bunga lain yang masih segar. Tidak jauh dari lokasi ditemukannya bunga yang layu tersebut, pada permukaan lahan yang berlereng dengan kelembaban tanah yang tinggi oleh serasah lantai hutan yang tebal di tepian aliran air sungai tibalah pada serangkaian penemuan yang menjadi sasaran kami. Dimulai dengan ditemukan beberapa kopula bunga berukuran lebih besar berbentuk seperti kubis dengan diameter sekitar 20 cm yang akan mekar dalam 2-3 hari dan beberapa kopula lain yang masih kecil-kecil (Gambar 5.), hingga bunga Rafflesia patma mekar berukuran sekitar 30-40 cm yang sudah mekar sekitar 4 hari dan masih segar.

 05
Gambar 5. Kuncup Bunga Rafflesia yang akan mekar dalam 2 – 3 hari (kiri) dan Kopula yang
akan mekar beberapa bulan kemudian (kanan) (Foto: Q. Pramukanto)

Temuan yang menjadi puncak ‘perburuan’, kami dokumentasikan dengan kamera dari beberapa sudut. Tidak cukup dengan mengambil gambar visual, kami juga membuktikan rasa penasaran untuk mencium aroma bunganya seperti bangkai (Gambar 6.). Aroma tidak sedap yang kerap juga menjadi sebutan bagi bunga ini sangat penting bagi kelestarian spesies ini. Bau bangkai tersebut merupakan cara untuk menarik serangga penyerbuk (pollinator). Melalui penyerbukan silang yang dilakukan jenis lalat sebagai pollinator inilah Rafflesia yang berumah dua dapat menghasilkan buah untuk meneruskan keturunannya.

 06a
 06b

Gambar 6. Bunga Rafflesia (Rafflesia patma Blume), muncul diantara serasah lantai hutan pada akar tumbuhan inang Tetrastigma sp (Foto: Q. Pramukanto)

Namun yang menjadi pertanyaan bagaimana buah dan biji yang dihasilkan oleh Bunga Rafflesia ini menginfeksi tumbuhan inangnya. Menurut Prof. Ervizal Zuhud dari Departemen Konservasi Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, mekanisme masuknya bagian tumbuhan ke dalam inang diduga oleh rayap hutan yang menginfeksi batang dari tumbuhan inang Tetrastigma sp.

Hingga perjalanan pulang, kami beruntung menemukan beberapa bunga yang sedang mekar di beberapa lokasi. Setidaknya dalam ‘perburuan’ tersebut kami menemukan empat lokasi, dengan 5 bunga yang layu, 5 kopula dan 3 bunga yang sedang mekar.

Qodarian Pramukanto
Staf Pengajar Departemen Arsitektur Lanskap
Fakultas Pertanian, IPB
qodarian pramukanto (c) Bogor, November 2013

Posted by: Qodarian Pramukanto | 3rd Apr, 2015

TEKNOLOGI GEOSPATIAL DALAM PENGEMBANGAN BIDANG ARSTEKTUR LANSKAP

Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) mengadakan Seminar Forum Diskusi IPTEK dengan tema TEKNOLOGI GEOSPATIAL DALAM PENGEMBANGAN BIDANG ARSTEKTUR LANSKAP pada tanggal 28 Maret 2015 di Aula Baehaqie, Kantor P4W IPB Kampus IPB Baranangsiang, jalan Raya Pajajaran Bogor

poster seminar geospasial

 

 

 

 

 

 

 

Link: https://www.facebook.com/pages/IALI-Ikatan-Arsitek-Lansekap-Indonesia/531163133629132

Posted by: Qodarian Pramukanto | 12th Feb, 2015

Gam, KKachi dan Kearifan Lokal

Di akhir musih gugur (ga-eul) ini di bumi negeri kimchi masih menyisakan sajian keunikan alam. Salah satunya adalah booming buah persimon atau kalau di tanahh air kita dikenal sebagai kesemek. Kalau diamati tampak buah ini agak berbeda dari segi ukuran, warna, bentuk maupun rasanya dengan yang biasa kita lihat di tanah air. Sepintas bentuk dan warnanya mirip buah tomat lokal. Di tanah air buah serupa sering kita lihat umumnya berwarna kuningkehijauan sampai kuning, rasanya manis sedikit asam, berdaging buah agak keras dan kulitnya bergetah yang gatal, sehingga sebelum dimakan biasanya perlu di-“bedaki” dahulu dengan ditaburi powder, oleh karena itu sering disebut juga sebagai “buah genit”.
Image hosted by Photobucket.com
Sebenarnya dari segi warna, buah persimon yang di Korea disebut gam (감), pada saat masak tidak terlalu berbeda dengan kesemek kita. Gam mempunyai warna buah masak kuningkehijauan yang mirip dengan kesemek kita, tapi kulit buahnya tidak bergetah serta berdaging buah yang lebih lunak dibandingkan kesemek. Namun kalau kita lihat gam yang dijajakan tampak mempunyai corak warna dan ukuran yang berbeda-beda. Ada gam yang berwarna kuningkehijauan, ada yang merah, juga ukurannya ada yang kecil dan ada yang besar. Gam yang berwarna merah adalah gam yang dipanen sebelum masak dan telah melalui proses pengolahan pasca panen tertentu. Selain warna kulitnya berubah menjadi merah sepintas yang mirip tomat, juga daging buahnya menjadi sangat lunak. Untuk gam yang sudah melalui perlakuan khusus ini disebut hong-si (홍시, hong = merah, si=buah).
 

Gam disamping sebagai buah yang disukai oleh manusia, juga merupakan pakan dari burung pemakan buah, salah satunya adalah burung yang bernama kkachi (까치) yang dipercaya oleh orang Korea sebagai fortune bird. Burung dapat dikenali dengan warna bulu pada bagian punggung dan kepala berwarna hitam, serta bagian dada dan sebagian ekornya yang panjang berwarna putih. Apabila di pagi hari terdengar kicau burung ini maka diyakini sebagai pertanda akan datang rezeki pada hari itu. Selain kachi ada jenis burung lain yang dipercaya sebagai penyebab ketidakberuntungan, yaitu burung yang berbulu hitam, mirip burung gagak yang namanya kamakwi (까마귀).

Di semenanjung Korea, kedua jenis burung ini dapat dijumpai dimana-mana, di pedesaan maupun di kota. Bahkan jenis kachi dengan kemudahannya beradaptasi, menyebabkan populasinya terus meningkat. Sehingga saat ini populasinya telah berlebih. Di beberapa tempat, seperti di perkebunan buah pear, jenis ini merupakan hama. Juga, sering kali jenis ini menimbulkan masalah di daerah perkotaan karena kerap membangun sarang pada jalur transmisi listrik, yang sangat membahayakan sistem instalasi.

Terlepas dari kepercayaan terhadap kehadiran kedua jenis unggas, serta
statusnya sebagai hama atau penggangu, namum keberadaannya sebagai bagian dari rantai ekosistem tetap mendapat tempat bagi masyarakat Korea. Kepedulian masyarakat dapat dilihat dalam hal menjamin ketersediaan pakan bagi makhuk bersayap ini. Salah satu bukti dapat ditemukan pada kebiasaan orang Korea dalam memanen buah gam. Kalau mereka mempunyai pohon gam yang sedang berbuah, maka mereka menerapkan etika, tidak akan memanen keseluruhan buah tersebut, tapi tetap membiarkan sebagian buah tersebut dipohon untuk disisakan sebagai pakan bagi burung pemakan buah, yang salah satunya jenis kachi tersebut. Sehingga pemandangan musim gugur yang terjadi di perkebunan gam, hanyalah guguran daun saja namun tetap menyisakan buah pada ranting-ranting pohonya.

Kearifan lokal serupa kerap kita jumpai dalam kehidupan di masyarakat tradisional di tanah air kita, seperti kita temukan di salah satu daerah di Jawa Barat. Etika lingkungan yang diterpakan oleh masyarakat tradisional tersebut dalam memetik buah dari suatu pohon atau memanen di hutan adalah hanya memetik buah-buah yang mampu dijangkau oleh galah dengan panjang tertentu saja. Buah yang berada lebih tinggi dari jangkauan panjang galah tersebut tidak boleh dipetik. Karena buah ini diperuntuknan sebagai jatah pakan bagi satwa lain, seperti burung, kalong, kera atau satwa pemakan buah lainnya.

Semoga saja bentuk kearifan lokal ini tetap terjaga di negeri kita, sehingga salah satu kasus raibnya Daerah Tujuan Wisata”-nya kalong (Pteropus vampirus) dari Kebun Raya Bogor yang mencari pakan di daerah penghasil buah Sukaraja, Gunung Geulis, Sentul, Babakan Madang, Ciawi dan sekitarnya tidak selalu berulang. Mereka bukan sekedar memanen habis buah, tetapi memanen habis pohon-pohon tersebut sampai batang-batangpun tak bersisa dan mengokupasi foraging area bagi satu-satunya mamalia bersayap ini serta menyebut daerah tersebut dengan Lake Side, Country Club, Highland, dan lain-lain sebutan yang indah-indah, namun jauh dari mengindahkan kearifan lokal.

Lembah Gunung Kwanak, 11 Novermber 2004
Copyright(c)qodarian pramukanto

Older Posts »

Categories