Posted by: Qodarian Pramukanto | 18th Jun, 2017

K-15 AGROTOUSIM MODEL FOR CONSERVATION OF TRADITIONAL AGRICULTURE AREA

COVER K-15 ARL 315
 
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
 
 
 
Posted by: Qodarian Pramukanto | 18th Jun, 2017

K-14: PERENCANAAN LANSKAP WILAYAH BERKELANJUTAN

K-14 ARL 316 PL WILAYAH
 
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
 
 
 
Posted by: Qodarian Pramukanto | 17th Jun, 2017

Kildong Saengtae Kongwon: Alam Terkembang Menjadi Guru*

 | QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB |

 

Setelah berjalan kaki sekitar 1.5 km dari stasiun subway di subdistrik Kildong, bagian
timur kota Seoul, tibalah kami di daerah lembah berawa yang rimbun dipadati tumbuhan air.  Pada lahan sekitar 24 000 pyong atau kira-kira sepuluh kali luas lapangan sepak bola ini terdapat bagian rendah tempat bermuara parit-parit kecil dan beberapa mata air yang keluar dari daerah agak berbukit di sekitarnya.  Tapak ini menjadi terkenal sejak dibangunnya taman ekologi yang berfungsi sebagai laboratorium alam oleh pemerintah
kota metropolitan Seoul.Kildong Saengtae Kongwon (Taman Ekologi Kildong) adalah nama Korea untuk taman ekologi ini.  Taman kota yang menjadi salah satu taman pendidikan lingkungan yang terbaik dari beberapa taman sejenis yang ada di Seoul adalah hasil restorasi dan perlindungan atas sumberdaya yang ada di kota.  Taman ini berfungsi mengakomodasi berbagai kegiatan ilmiah dalam bentuk pengamatan tumbuhan, satwa dan lingkungan alam.Wujud taman yang mengemban misi khusus tersebut, sangat berbeda dengan lazimnya taman kota atau ruang publik lainnya.  Gambaran akan keramaian pengunjung, kesibukan penjaja makanan dan sovenir tidak tampak sama sekali, kecuali hanya segelintir orang serta satu dua mobil terparkir di muka pintu gerbang.  Suasana ini dapat dirasakan saat tiba di pintu gerbang taman (Gambar 1).
Gambar-1 Gambar 1
Meskipun pada hari libur, pengunjung yang datang hanya sekelompok kecil rombongan keluarga yang terdiri orang tua dengan dua atau tiga anak (Gambar 2). Padahal untuk berkunjung ke taman ini terbuka bagi siapa saja dan tanpa dipungut biaya, namun hal itu hanya dapat dilakukan setelah mendaftar  minimal sepekan sebelumnya.  “Biasanya reservasi kunjungan pada akhir pekan dan hari libur selalu penuh”, kata petugas
pengelola taman.  “Dan pada waktu tersebut kunjungan dikhususkan bagi pengunjung umum yaitu keluarga dan peorangan.  Bagi pelajar atau pakar kunjungan hanya pada hari kerja”, lanjut petugas tersebut.
Gambar-2

Gambar 2

Pengunjung yang terdaftar akan dikategorikan kedalam kelompok umum dan khusus.  Kategori umum adalah pengunjung yang datang sekedar memanfaatkan taman tanpa memiliki latar belakang pengetahuan ekologi.  Sedangkan kelompok khusus berkunjung dengan tujuan untuk mengamati dan belajar ekologi.

Pada jadwal yang ditentukan, pengunjung berdasarkan kategori kelompoknya akan dipandu oleh seorang relawan terlatih.  Prosedur kunjungan yang diskrimintif ini diterapkan dengan alasan untuk memelihara suasana alami dan “keamanan” habitat secara lestari.  Lebih dari itu dengan sistem pemanduan, disamping aktivitas pengunjung lebih terkendali juga sangat membantu dalam interpretasi dan apresiasi lingkungan.

Setelah peserta dibekali leaflet panduan, dimulailah penjelajahan taman tersebut.  Pada leaflet panduan terdapat peta rute jalur jelajah, sebaran daerah bebas untuk melakukan pengamatan (free observation area) dan daerah terbatas untuk pengamatan (restricted observation area), fasilitas pengamatan, objek pengamatan, jenis habitat, atraksi dan fenomena alam, yang disertai serangkaian pertanyaan dan instruksi terkait.  “Aktivitas kunjungan  disamping dibedakan berdasarkan jenis pengunjung (khusus/umum), juga berdasarkan karakteristik daerah pengamatan (pengamatan bebas/pengamatan terbatas)” tutur petugas pengelola.

Untuk kelompok umum aktivitas pengamatan terpandu dibatasi hanya pada daerah yang telah ditentukan saja.  Sedangkan kelompok pengunjung khusus dapat melakukan berbagai aktivitas termasuk pada daerah pengamatan terbatas.  Tampaknya inilah yang membedakan taman ekologi dengan taman lain pada umumnya.  Pada taman-taman umum kegiatan dapat dilakukan secara bebas dengan suasana rekreatif lebih menonjol dibandingkan nuansa pendidikan yang serius seperti pada taman ekologi ini.

Pagi itu, saat matahari mulai beranjak bangkit, tampak sekelompok pengunjung pelajar tengah bersiap untuk mengawali rute jelajah berpola sirkulasi melingkar (looping) searah jarum jam.  Kehadiran “peneliti-peneliti” kecil bertopi dan tas gendong yang dilengkapi teropong, buku catatan dan alat tulis ini disambut kesejukan udara pagi musim panas yang berhembus dari kerimbunan pepohonan sekitar serta suara gemericik air mengalir pada parit-parit kecil.  Kenyaman serta jauh dari bising kota semakin memperkuat kesan nuansa alam tapak tersebut.  Dengan semarak iringan konser alam dari sinfoni tonggérét yang bersautan, derik jangkrik, kepak kupu-kupu, denging serangga kecil, sesekali senandung katak dan kicau burung merupakan sajian yang jauh dari gambaran suasana perkotaan.  Kunjungan pagi hari itu sungguh merupakan golden prime time, karena kebanyakan satwa bergiat di pagi hari, dan gerak geriknya menurun pada tengah hari.  Menurut pemandu, ramainya puncak kehidupan di pagi hari ini semakin memudar setelah lewat tengah hari.

Setiap titik pengamatan dilengkapi rambu (sign board) dan papan informasi.  Dengan bimbingan pemandu setiap peserta melakukan berbagai aktivitas apresiasi lingkungan secara terprogram.  Di awali dengan penyampaian informasi di ruang terbuka, dengan peraga berupa poster dan panel-panel specimen tumbuhan dan hewan, sampai pada pengamatan (observation) satwa, pengenalan berbagai bentuk ekosistem, baik di darat, padang rumput, hutan maupun perairan tidak luput dari kajian.

Di lokasi ekosistem rawa, misalnya, peserta diajak mengamati metamorfosis dalam siklus hidup aneka serangga (kupu-kupu, capung, kepik) dari telur, larva, kepompong, sampai menjadi serangga dewasa (Gambar 3).  Bahkan pada periode tertentu terdapat atraksi menarik berupa booming beberapa jenis serangga, seperti kupu-kupu dan capung yang telah menyelesaikan fase akhir dari metamorfosisnya.  Demikian juga pada saat yang lain, “tersaji kerlap-kerlip kunang-kunang menghiasi langit taman tersebut di malam hari”, ujar pemandu melengkapi informasinya.

Gambar-3a

Gambar 3

Aktivitas mengintai burung dilakukan pada shelter pengamatan atau menggunakan teropong (binokuler) yang diarahkan pada sasaran tertentu.  Target pengamatan adalah daerah rawa berlumpur yang menjadi tempat unggas mengais pakan (feeding ground), bersarang, atau sekedar beristirahat, renang dan bermain-main.  Apabila beruntung beberapa jenis unggas air (water fowel) seperti bebek, raja udang (king fisher) dan aneka jenis bangau sering tampak di perairan yang ditumbuhi cattail (Typa sp) geligi (Phragmites karka), padi liar (Oryza rufipogon) dan rumput liar (Paspalum sp) ini.  Perairan lahan basah seluas setengah lapangan bola ini merupakan tempat berbagi hunian antara unggas yang berstatus penghuni tetap dengan unggas pendatang musiman (Gambar 4).
Gambar-4a

Gambar 4

Berbagai bentuk sarang, baik yang alami dari serasah atau jerami maupun buatan
sebagai inisiasi dan stimulasi awal, untuk mengundang kehadiran satwa, kerap dijumpai disepanjang rute jelajah.  Mulai dari tumpukan serasah organik (mulsa) bagi sejenis kumbang kayu (Gambar 5), potongan kayu glondongan (woodpile) yang dilubang-lubangi untuk penggerek batang, sampai rumah lebah dengan bentuk yang unik (Gambar 6), sarang burung alami atau nest box (Gambar 7) dan rumah kelelawar yang digantung di dahan pohon merupakan kediaman yang nyaman bagi satwa-satwa tersebut.  Berdasarkan ragam model sarang ini, terdapat salah satu pertanyaan unik pada leaflet panduan yang membandingkan model sarang buatan dari dua satwa bersayap, yaitu unggas dengan kalelawar, satu-satunya hewan menyusui yang bersayap.  “Mengapa letak lubang pintu pada rumah kalelawar berada di bagian bawah, sedangkan burung umumnya berlubang pintu di samping ?”.
Gambar-5 Gambar-6 Gambar-7

Gambar 5

Gambar 6

Gambar 7
Keragaman biologi yang hadir pada taman ini semakin diperkaya oleh aneka jenis flora,
baik vegetasi darat (terrestrial), epfifit maupun, vegetasi air.  Mulai dari tumbuhan tingkat rendah, seperti lumut, alga, dan jamur, sampai tumbuhan tinggi (macrophyte), seperti aneka jenis rerumputan, herbaceous, semak, sampai pohon membentuk suatu campuran yang unik.  Tercatat sekitar 31 000 individu pohon dan vegetasi rambat yang terdiri atas 64 species serta tumbuhan herbaceous dan semak liar sekitar 188 000 individu yang mewakili 138 species sebagai penghuni resmi taman ini.Dinamika sajian alam yang hadir tidak terbatas pada pentas satwa, tetapi juga pada aneka ragam vegetasi.  Mulai dari corak bentuk daun yang memanjang, bulat, oval, hati, dan menjari, sampai warna warni perubahan daun yang menyertai perubahan musim.  “Mengapa dedaunan berubah warna ?” merupakan salah satu pertanyaan dalam panduan yang menjadi kunci dalam memahami femomena alam dalam bentuk tanggap vegetasi terhadap perubahan lingkunganSebagian dari areal taman ini diperuntukan juga sebagai display aneka jenis pakan (feeding ground).  Petakan-petakan lahan yang ditanami jagung, jawawut, sorgum, barley dan padi sawah merupakan lumbung pakan bagi satwa pemakan biji-bijian (Gambar 8).  Pohon-pohon oaks yang tumbuh menjadi keranjang buah bagi beberapa satwa pemakan acorn.  Tidak ketinggalan aneka tumbuhan berbunga sebagai sumber nektar, sampai sumber selulose berupa bonggol-bonggol kayu.
Gambar-8

Gambar 8

Dengan bahasa sederhana serta disesuaikan dengan kapasitas peserta, pemandu memberikan arahan atas pertanyaan-pertanyaan kunci atau instruksi dalam leaflet panduan.  Jawaban atas misteri akan terungkap setelah melalui suatu produr ilmiah sederhana.  Dimulai dengan pertanyaan atau instruksi, pendugaan, serangkaian pengamatan atau melakukan tindakan tertentu yang disertai penalaran akan diperoleh kesimpulan sebagai jawabannya (Gambar 9).
Gambar-9a

Gambar 9

Diskusi interaktif antar peserta atau dengan pemandu selalu mewarnai nuansa ilmiah di setiap titik pengamatan (Gambar 10).  Beberapa bentuk pertanyaan dan instruksi lain yang tertulis pada panduan misalnya: “Coba cari dimana suatu jenis satwa bersembunyi?”, “Kalau buah kacang tanah berada di dalam tanah, pada saat berbunga dimana letak bunganya?”, “Apa fungsi perubahan warna kulit atau bulu yang terjadi pada hewan pada waktu-waktu tertentu?”, “Tunjukan ciri hewan pemakan ikan!”, “Mengapa cendawan disebut sebagai pembersih alam dalam rantai ekosistem?”, atau “Perhatikan perbedaan bentuk cendawan pada habitat yang berbeda !”.
Gambar-10

Gambar 10

Setelah menjelajah lebih dari dua jam dengan diselingi istirahat ditengah jelajahan tidak terasa tibalah di titik akhir jalur interpretasi alam.  Tempat yang dilengkapi dengan pergola dengan keteduhan kanopi tumbuhan rambat ini menjadi akhir dari rangkaian interpretasi alam.  Di tempat ini, sambil istirahat melepas lelah, pemandu mempersilahkan peserta untuk mengajukan pertanyaan atau hal-hal yang perlu penjelasan lebih lanjut, serta meminta kesan, saran, harapan dan komentar dari peserta.

Dari uraian di atas tampak adanya perhatian serius atas pentingnya kehadiran unsur alam di perkotaan.  Pembangunan tidak semata-mata membangun unit hunian serta fasilitas pendukung bagi masyarakat kota, tetapi juga mempertahankan dan menciptakan relung-relung habitat bagi hidupan liar dalam bentuk taman ekologi yang berdiri berdampingan.

Kehadirannya tidak saja menjadi media pendidikan lingkungan dengan menggali pengalaman langsung dari alam, tetapi juga menghadirkan ruang publik dengan prinsip-prinsip ekologi, yaitu ikut memperbaiki kualitas lingkungan kota, menciptakan relung hidupan liar dan meningkatkan keragaman biologi kota yang lestari.  Konsep taman ekologi ini sangat sesuai dan patut untuk diterapkan pada kawasan perkotaan di tanah air.  Sekedar menyebutkan, beberapa kawasan di ibu kota Jakarta seperti lahan rawa Kemanyoran, hutan kota Pesanggrahan, danau Sunter dan masih banyak lagi lahan basah yang potensial untuk dikembangkan taman sejenis ini.  Sehingga bagi masyarakat pada umumnya dan secara khusunya pelajar serta ilmuwan, kehadiran taman ekologi ini dapat dimaknai sebagai jendela untuk meneropong lingkungan alam di kota, seperti pepatah Minang yang menyebutkan “alam terkembang menjadi guru”.  Semoga gambaran yang melekat sebagai ”…nature is your best teacher” pada taman tersebut benar-benar terwujud tidak saja bagi masyarakat kota Seoul tetapi juga kota-kota serupa di tanah air kita.

*  Lembah Gwanak-San, Kampus SNU, Seoul, 22 Februari 2005

.
Download: [pdf]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 15th Jun, 2017

Gususan Pulau-Pulau Kecil Perairan Tual Nan Mempesona

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB |

baer-4 baer-10
baer-6 baer-8
 baer-9  baer-11
 
 
 baer-3a  baer-1a
Pulau Baer dengan pulau-pulau karang diantara kejernihan perairan dan ragam biota
karang
.
Aktivitas tektonik yang mengangkat lempeng benua di Banda tidak saja memunculkan
pulau-pulau kecil yang membentuk busur Banda (Banda Arc), namun juga
menenggelamkan palung laut hingga kedalaman 4500 m.  Gejala alam yang terbentuk karena aktivitas tektonik tersebut dapat kita saksikan di Tual.  Kota pesisir di tepian Pulau Kei Kecil yang berada di Kabupaten Maluku Tenggara ini kaya akan ragam sumberdaya perairan laut.   Salah satu yang menjadi daya tarik adalah gugusan pulau kecil berupa  pulau-pulau karang.   Pulau karang dan perairannya menjadi rumah bagi berbagai biota akuatik dan terestrial.  Asosiasi antara formasi terestrial vegetasi pulau karang dan biota aquatik perairan menjadikan kawasan semakin eksotik.  Fenomena alam dan aktivitas masyarakat menjadikan kawasan laut Banda semakin menarik sebagai destinasi wisata.Pulau Baer merupakan salah satu destinasi perairan yang kaya akan biota aquatik.  Gugusan pulau-pulau “kecil” situs Baer ini, tidak saja obyek selam dan snorkeling, tetapi juga journey melintasi celah-celah pulau karang dari atas speedboat.
kja1a rumput laut-1
Budidaya ikan karang (kerapu) dengan karamba jaring apung (KJA) dan bentangan long-line rumput laut di perairan

Selain menjadi lumbung ikan bagi nelayan tangkap dan budidaya perairan dan kerang mutiara, laut Banda merupakan kawasan yang kaya akan obyek dan daya tarik wisata.  Ragam biota terumbu karang yang oleh masyarakat lokal menjadi lahan buru biota karang, menjadi salah satu atraksi bagi wisatawan pendatang.  Demikian juga dengan rumput laut dan kerang mutiara yang dibentang di perairan merupakan daya tarik wisata bahari.  Kegiatan pengeringan ikan, pengolahan kerang mutiara, dan termasuk kuliner ikan laut menjadi pengalaman tersendiri bagi penikmat hidangan laut.

 

BAGAN BAGAN-2
Bagan apung sebagai platform penangkapan jenis-jenis ikan fototaksis (suka cahaya),
seperti cumi-cumi dan teri, pada malam hari dengan sumber penerangan lampu petromaks
atau sumber cahaya listrik (genset)
BUDIDAYA KERANG MUTIARA-1 BUDIDAYA KERANG MUTIARA-2
Pemeliharaan cangkang tiram mutiara dari organisma yang melekat pada cangkang
BUDIDAYA KERANG MUTIARA-6 BUDIDAYA KERANG MUTIARA-3
Pemasukan inti mutiara bulat pada cangkang di dalam matel tiram mutiara
Posted by: Qodarian Pramukanto | 12th Jun, 2017

K-13: AGROTOURISM DEVELOPMENT MODEL

COVER K-13 DEVELOPMEN MODEL
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 12th Jun, 2017

Anomali Mata Air Eremerasa, Kabupaten Bantaeng

 

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB |

Eremerasa merupakan nama kawasan dimana terdapat sumber air berupa mata air
yang terdapat di Kabupaten Bantaeng.  Mata air ini menjadi salah satu sumber air
bersih utama bagi masyarakat Bantaeng untuk memenuhi berbagai kebutuhan
hidup, mulai dari kebutuhan domestik, masak, mandi cuci, perikanan dan irigasi
pertanian, PDAM dan industri air mineral mineral kemasan, hingga pemanfaatan
kawasan sebagai obyek rekreasi pemandian (kolam renang).

Hal yang menakjubkan dari sumber air ini adalah mata air yang keluar diantara
celah-cekah permukaan lahan yang berbatu-batu dan diantara akar-akar pohon besar.
Dan yang lebih menakjubkan lagi, mata air ini tidak pernah kering sepanjang tahun.
Bahkan dimusim kemarau pasokannya justru bertambah besar dengan bertambahnya
sumber-sumber mata air baru yang muncul diantara bebatuan pada lereng-lereng
curam di sekitarnya.

Anomali Mata Air Eremerasa: Rahmat dan Penjelasan Ilmiahnya
eremerasa-bantaeng
eremerasa
Fenomena ini merupakan bentuk anomali (keanehan) alam.  Fenomena anomali
yang merupakan rahmat dari Sang Pencipta Alam Semesta bagi masyarakat Bantaeng
ini merupakan berkah yang harus dijaga kelestariannya.  Untuk melestarikannya
diperlukan pemahaman atas fenomena ini. Bagaimana menjelaskan anomali ini ?
Mata air yang bersumber dari gunung Lampo Battang ini, menurut penulis, dapat
diduga merupakan bagian dari siklus hidrogeologi dalam sistem aquifer air bawah
tanah (ground water) yang muncul kepermukaan berupa mata air. Sumber air ini
berasal dari wilayah ‘pengisian’ (water recharging area) pada tempat lebih tinggi di
pegunungan Lompo Battang.  Posisi asal sumber air yang berasal dari wilayah dengan
elevasi yang lebih tinggi ini secara gravitasi menimbulkan tekanan pada “kolom”
air bawah tanah.  Selain tekanan “kolom” air dari tempat yang lebih tinggi, deposit
air bawah tanah ini juga mengalami tekanan oleh beban masa lapisan permukaan
bumi di atasnya, sehingga sumber air tersebut disebut sebagai aquifer air terkekang.
Gaya gravitasi pada “kolom” air dan tekanan pada deposit air terkekang (aquifer)
ini akan menggerakan massa air.  Pada posisi tertentu aliran massa air bawah tanah
dapat “menembus” permukaan tanah yang di kenal sebagai mata air.  Terkadang,
besarnya gaya dorong aliran massa air ini menyebabkan munculnya mata air yang
memancar berupa air mancur yang dikenal dengan mata air artesis.Anomali yang terjadi pada mata air Eremerasa, di musim kemarau, berupa
meningkatnya debit mata air dan munculnya mata air – mata air baru dapat diduga
karena ada jeda waktu dalam pergerakan aliran air bawah tanah dari sumber asal
di wilayah pengisian (recharging) hingga lokasi munculnya air ke permukaan
memerlukan waktu tempuh yang cukup lama.  Adanya perbedaan waktu (musim)
pengisian di musim hujan hingga munculnya air ke permukaan di musim kemarau
menggambarkan waktu tempuh aliran air bawah tanah tersebut yang menimbulkan
fenomena anomali pada mata air Eremerasa.  Demikianlan penjelasan ilmiah dibalik
fenomena mata air yang menjadi rahmat bagi kehidupan manusia. Wallahualam bissawab.

Download: [pdf]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 10th Jun, 2017

K-13: PERENCANAAN LANSKAP MITIGASI BENCANA (LANDSCAPE HAZARD)

K-13: PERENCANAAN LANSKAP MITIGASI BENCANA (LANDSCAPE HAZARD)

Tapak 12 Hektar
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 10th Jun, 2017

PENJURIAN SAYEMBARA DESAIN LANSKAP – IALI

HEAD
Dalam rangka membangun kepadulian terhadap lingkungan dan memberi kesempatan
pada mahasiswa untuk menuangkan ide, gagasan, konsep dalam pemberdayaan RTH
kota, khususnya di bantaran sungai sebagai habitat burung berkicau, Ikatan Arsitek
Lanskap Indonesia (IALI) telah menyelenggarakan sayembara desain lanskap. Kegiatan penjurian  sayembara desain lanskap dengan tema “RTH Bantaran Sungai
Kota untuk Habitat Burung Berkicau” untuk menentukan tiga pemenang telah dilakukan pada hari Sabtu, 10 Juni 2017 di P4W IPB pada pukul 09.00 – selesai.
Dari  karya yang masuk ke panitian sayembara, dipilih lima besar karya untuk
dinilai lebih lanjut.  Penilaian dari lima juri dengan kepakaran arsitektur lanskap,
ornitologist, pengelolaan DAS,  perencanaan wilayah dan kota dan Ruang Terbuka
Hijau, telah mementukan tiga pemenang, yang secara resmi akan diumumkan oleh
panitia. Menurut panitia penyelenggara, kegiatan sayembara ini diikuti oleh sekitar
tujuh perguruan, antara lain IPB, ITB, Universitas Gunadarma, Universitas Tribuana
Tunggadewi, Universitas Udayana dan Universitas Sumatra Utara, mengasilkan 24
karya desain lankap.
IALI RTH BANTARAN SUNGAI-1
IALI RTH BANTARAN SUNGAI-3
 IMG-20170610-WA0003-1A

 

Link: [IALI – Pengumuman Hasil Sayembara Desain Lanskap RTH Bantaran Sungai Kota Untuk Habitat Burung Berkicau]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 5th Jun, 2017

PROYEK AKHIR PERENCANAAN LANSKAP ARL 316

PERENCANAAN LANSKAP BEBERAPA KAWASAN LAHAN BASAH/WETLAND
CIBINONG RAYA, KABUPATEN BOGOR
P-05 COVER PL WETDLAND CR
Download Course Material/Link to LMS: [Practical Guideline]
Download Course Material/Link to LMS: [Data Sources]
RINCIAN TUGAS PROYEK AKHIR
PERENCANAAN LANSKAP BEBERAPA KAWASAN WETLAND CIBINONG RAYA
ARL 316 PERECANAAN LANSKAP
 

Dosen:  Qodarian Pramukanto (Penanggungjawab)
Afra D.N. Makalew
Rezky KhrisrachmansyahTugas dibuat pada 3 lembar poster dengan ukuran A3, berupa tekstual, sketsa,  gambar analog/manual, digital.  Tugas harus mencakup hal berikut ini:

T-1  PENGUMPULAN TUGAS TAHAP 1 (Upload LMS: 7 Juni 2017 Pukul 23.55):
1. Tentukan dan tuliskan tujuan perencanaan lanskap
2. Tentukan dan tuliskan konsep rencana lanskap yang akan dikembangkan,  jelaskan
dengan tipologi atau teori yang dijadikan acuan.  Sajikan berupa diagram,
flowchart atau ilustrasi lain

T-2  PENGUMPULAN TUGAS TAHAP 2 :
3.  Buat matrik hubungan yang menggambarkan fungsi, aktivitas, ruang atau fasilitas
yang dikembangkan (Upload LMS: 8 Juni 2017 Pukul 23.55)
4.  Lakukan analisis tematik dan sajikan peta tematik hasil analisis atas faktor-faktor
yang diperlukan, seperti visual, lereng, tanah, iklim, hidrologi dan penutupan/
penggunaan lahan.  Cari dan lengkapi data terkait yang belum tersedia.  Skala peta
mengikuti skala peta (terlampir) yang tersedia dan dapat disesuaikan sesuai dengan
keteresedian bidang pada kertas gambar. (Upload LMS: 12 Juni 2017 Pukul 23.55)

T-3  PENGUMPULAN TUGAS TAHAP 3 (Upload LMS):
5.  Sintesiskan hasil analisis tersebut (sehingga menghasilkan peta komposit)
dan lakukan pengembangan rencana (pengembangan konsep) untuk penyusunan
rencana lanskap

T-4  PENGUMPULAN TUGAS TAHAP 4 (Upload LMS):
6.  Buat rencana lanskap berdasarkan hasil sintesis . Rencana lanskap harus disertai
dengan rencana tematik, seperti: Rencana Struktur & Bangunan (Hardscape Plan),
Rencana Tata Hijau (Softscape Plan), Rencana Sirkulasi.  Selain itu lengkapi
rencana lanskap dengan ilustrasi pendukung, seperti: Gambar tampak, potongan,
perspektif dan bentuk ilustrasi lainnya.
7.  Selain berupa teks uraian/deskripsi, sketsa, diagram dan tabel, dokumen rencana
lanskap disajikan berupa gambar rencana lanskap, gambar rencana pendukung dan
ilustrasi lain.  Dokumen ini mencakup:

(1.) Gambar/Peta Orientasi Tapak
(2.) Gambar/Peta Kondisi Eksisting
(3.) Gambar/Diagram/Ilustrasi konsep yang akan dikembangkan
(3.) Gambar/Peta Analisis Tematik (visual lereng, tanah, vegetasi dsb).  Sajikan peta
secara proporsional dengan ruang yang tersedia pada bidang gambar/poster.
(4.) Gambar/Peta Sintesis (Block plan, zonasi)
(5.) Gambar Pengembangan Konsep  (Spasial)
(7.) Gambar Landscape Plan.  Sajikan gambar dalam porsi yang dominan
dan proporsional dengan buidang gambar/poster.
(8.) Gambar Potongan Tapak (minimal 2)
(9.) Gambar Tampak Tapak (minimal 2)
(10.) Gambar Rencana Struktur dan Bangunan (Hardscape Plan)
(11.) Gambar Rencana Tata Hijau (Softscape Plan)
(12.) Gambar Rencana Sirkulasi
(13.) Gambar Perspektif total tapak (minimal 1)
(14.) Gambar Ilustrasi (skematik) untuk bagian-bagian penting tapak

 SELAMAT BEKERJA TETAP SEMANGAT SEMOGA SUKSES,…… AAMIIN

Download Course Material/Link to LMS: [pdf] [link lms]

DAFTAR PEMBAGIAN PROYEK AKHIR KELAS PARALEL -1
PERENCANAAN LANSKAP BEBERAPA KAWASAN WETLAND CIBINONG RAYA
NO NAMA NIM TOPIK PERENCANAAN LANSKAP LOKASI
1 SALMA FADHILAH A44130063 Budaya/Sejarah Situ Citatah
2 ABYAN RAI F. MACHMUDIN A44130083 Permukiman Tinggi Situ Cikaret
3 NOVIA DILLA PUTRI MITHA A44140003 Konservasi Alami Situ Kemuning
4 BONITA ANGKY MAULIDA A44140004 RTH Perkantoran Situ Kebantenan
5 NURUL FEBRIZQA JEVANY A44140005 Wisata Alam Situ Cikaret
6 ALLYA AKMELINA A44140006 Agrowisata Situ Cibuntu
7 LALA NILA SARI A44140007 Rekreasi Situ Citereup
8 NURAINI INTAN SORAYA A44140012 Pertanian Situ Sela
9 RAHMI MAULINA A44140017 Permukiman Sedang Situ Tonjong
10 ELMA SYIFA ZACHRANI A44140018 Perdesaan Situ Kemuning
11 HAPSAH FARIDAH A44140020 RTH Industri Situ Citereup
12 APRILIA RIZKY SUBAGYA A44140023 Mitigasi Bahaya Situ Citereup
13 UTARI SEPTI AULIA A44140024 Budaya/Sejarah Situ Citatah
14 DEWI GALUH SUCIANI A44140025 Permukiman Tinggi Situ Cikaret
15 ECHA FADHILA RAHMAWATI A44140026 Konservasi Alami Situ Kemuning
16 NURFAJRIAH SALSABILA A44140028 RTH Perkantoran Situ Kebantenan
17 ANDIKA YUDIANTO A44140029 Wisata Alam Situ Cikaret
18 FAHREZA ARI RIZKYAWAN A44140031 Agrowisata Situ Cibuntu
19 WANDI MUHAMAD JAENI A44140035 Rekreasi Situ Citereup
20 LANI KUSUMAWATI A44140037 Pertanian Situ Sela
21 WISNU BEKTI ISTIANTO A44140040 Permukiman Sedang Situ Tonjong
22 ROBI RIJALUL FIKRI A44140041 Perdesaan Situ Kemuning
23 FEBYA MUTIARA EDISON A44140042 RTH Industri Situ Citereup
24 NEVIERA KHAIRUNNISAA A44140056 Mitigasi Bahaya Situ Citereup
25 SYARIFAH RIZQI R A44140057 Budaya/Sejarah Situ Citatah
26 MARISA GHASSANI A44140059 Permukiman Tinggi Situ Citatah
27 ZIPORA KRISTIANI A44140060 Konservasi Alami Situ Tonjong
28 INTAN DWI LESTARI A44140061 RTH Perkantoran Situ Kebantenan
29 FIKRI LAZUARDI F S A44140063 Wisata Alam Situ Cikaret
30 AQLIMA BOUPASSLINA S A44140065 Agrowisata Situ Cibuntu
31 RANTI NABILA D A44140066 Rekreasi Situ Citereup
32 DANAR PANJI WICAKSONO A44140069 Pertanian Situ Sela
33 DESYANA PUTRI S S A44140071 Permukiman Sedang Situ Tonjong
34 ADITYA PRADANA A44140072 Perdesaan Situ Kemuning
35 SALAMAH FARIDA A44140074 RTH Industri Situ Citereup
36 ANGGIA SEKAR NURULITA A44140077 Mitigasi Bahaya Situ Citereup
37 PUTI ZAHRA HADIAN RAUDAH A44140081 Budaya/Sejarah Situ Citatah

 

DAFTAR PEMBAGIAN PROYEK AKHIR KELAS PARALEL -2
PERENCANAAN LANSKAP BEBERAPA KAWASAN WETLAND CIBINONG RAYA
NO. NAMA NIM TOPIK PERENCANAAN LANSKAP LOKASI
1 PUJI PANGESTI A44140001 Budaya/Sejarah Situ Cibuntu
2 EVI SILVIANA HERYANTI A44140002 Permukiman Tinggi Situ Citatah
3 KHAIRUL UMAM A44140008 Konservasi Alami Situ Citereup
4 NUR AINUN AFIFAH HARAHAP A44140009 RTH Perkantoran Situ Kebantenan
5 ALDI AHMAD RAINALDI A44140010 Wisata Alam Situ Citatah
6 INTAN NUR FATHONAH A44140011 Agrowisata Situ Cibuntu
7 NADIA FATIMAH AZZAHRAH A44140013 Rekreasi Situ Citereup
8 TAUFIK SEPTIYAN MAULANA A44140014 Pertanian Situ Tonjong
9 IDA BAGUS M. A. BURUANANTA A44140015 Permukiman Sedang Situ Tonjong
10 AMIRA SYAFRIANA A44140016 Perdesaan Situ Kemuning
11 SUCIA LESTARI DEWI A44140019 RTH Industri Situ Citereup
12 PUTTI ALYA HASSANI A44140021 Mitigasi Bahaya Situ Citereup
13 TSARA NUHA APSARI A44140022 Budaya/Sejarah Situ Citatah
14 FADLI NUR MAJID A44140027 Permukiman Tinggi Situ Cikaret
15 MUHAMAD SAYUTI A44140030 Konservasi Alami Situ Kemuning
16 ZAKIYA RAHMA A44140032 RTH Perkantoran Situ Kebantenan
17 LUPITA RACHMA A44140033 Wisata Alam Situ Cikaret
18 ANNISA FARAH AGUSTIN A44140034 Agrowisata Situ Cibuntu
19 MUTIA YOLANDHA A44140036 Rekreasi Situ Citereup
20 HENDRI SEPTIAN A44140038 Pertanian Situ Sela
21 KANNIA REFFRIZAL PUTRI A44140039 Permukiman Sedang Situ Tonjong
22 AJENG INDAH SYAFITRI A44140044 Perdesaan Situ Kemuning
23 MUHAMAD ABDURAHMAN A44140045 RTH Industri Situ Citereup
24 MUHAMMAD RAVI NOVYANDY A44140046 Mitigasi Bahaya Situ Citereup
25 MUHAMMAD REYHAN ANDRIAN A44140048 Budaya/Sejarah
26 BAGUS MUTTAQIN K R A44140050 Permukiman Tinggi Situ Cikaret
27 RIZZA MAHARANI A44140051 Konservasi Alami Situ Tonjong
28 ROBI R TAMBING A44140053 RTH Perkantoran Situ Kebantenan
29 SARAH AULIA SAHELNA A44140054 Wisata Alam Situ Citatah
30 RAJA SYAHRI DEMARA A44140055 Agrowisata
31 ADI RANGGA RUSMANA A44140067 Rekreasi Situ Citereup
32 URFA ADZKIA A44140070 Pertanian Situ Tonjong
33 INSAN FAHMI A44140073 Permukiman Sedang Situ Tonjong
34 REZA ISTAJIB YANAPUTRA A44140075 Perdesaan Situ Kemuning
35 RESIANA CHARTIKA A44140076 RTH Industri Situ Citereup
36 ROFIFAH AULIA SUYITNO A44140080 Mitigasi Bahaya Situ Citereup
37 AHMAD FAUZAN A44140082 Budaya/Sejarah Situ Cikaret
38 IRFAN AUFAR AZMI A44140084 Permukiman Tinggi Situ Cikaret

 

LINK RESOURCES
1. 200_01A Core Area of Lotus Lake
National Wetland Park
Landscape Planning
200_02A
200_06A
Data Sources: [Link]
2.  01a A Landscape Legacy –
Master Planning a
Cultural Landscape
for Future Generations
at Overlook Farm
Data Sources: [Link]
3. 040_01A Remodeling Paradise –
Landscape Renovation
Round West Lake
Region in Hangzhou
040_03A
040_04A
040_04A
 

040_05A

040_14A
Data Sources: [Link]
 4.  108-01 New Terrain for the
North Lake Region
of Chongming Island,
Shanghai, China
108-10
Data Sources: [Link]
 5.  01a
   02a Orange County Great
Park 
Comprehensive
Master Plan A Vision
of the Great Park of
the 21st Century
03a Data Sources: [Link]
6.

 

 

026_01A A Green Sponge for
a Water-Resilient
City: Qunli Stormwater
Park.
Data Sources: [Link]


7.  ASLA Honors & Awards.  Data Sources : [Link]
8. Marsh, W.M.  Landscape Planning. John Wiley and Sons. see Chapter. 9.6.
Land use Planning in Small Drainage Basin, p: 138-142. Download Link to LMS: [pdf]
9. Fang, C. 2011. Waterfront Landscapes. DesignMedia Publishing Limited.
Download Link: [pdf]
10. Dramstad, W., J.D. Olson and R.T.T. Forman.  1996.  Landscape Ecology Principles in Landscape Architecture and Land-Use Planning.  Island Press. Download Link: [pdf]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 1st Jun, 2017

Lisensi GRATIS ERDAS Imagine & GeoMedia GIS

hexagon
ERDAS-GEOMEDIA
 

Dear Sivitas Akademika ARL,

Kabar gembira, Hexagon Geospatial yang telah mengakuisisi beberapa perusahaan besar yang mengembangkan software image processing/GIS (ERDAS), CAD/GIS (Intergraph), photogrammetry/imaging sensor (Leica Geosystem) dan high resolution image sensor (Z/I Imaging) menawarkan lisensi gratis untuk menggunakan software ERDAS Imagine dan GeoMedia GIS bagi 500 orang dosen, peneliti dan mahasiswa IPB.
Bapak/Ibu dosen Departemen Arsitektur Lanskap dan mahasiswa bimbingan  (S1, S2, S3) yang berminat menggunakan produk tersebut dapat mendaftarkan diri untuk mendapatkan lisensi selama setahun. Pendaftaran dapat dilakukan dengan menginfokan alamat email yang berakun ipb dan mengirimkan ke qpramukanto@ipb.ac.id.

Link: [Hexagon Geospatial]

Older Posts »

Categories