| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP,
FAKULTAS PERTANIAN, IPB |
Bentuk kerjasama antara Bappeda Kabupaten Banjarnegara dan Lembaga Pengabdian
kepada Masyarakat IPB diawali melalui kegiatan berupa penyusunan Pra Site Plan
Agrowisata Buah yang berupakan Tahap Inisiasi. Kegiatan ini berlanjut dalam
bentuk kegiatan mahasiswa dalam bentuk voluntari (non kredit SKS) dalam bentuk
program IGTF (IPB Goes to Fiend) sebagai bentuk kegiatan Tahap Inisiasi Lanjutan.
Paralel dengan berlangsungnya kedua kegiatan ini, masyarakat melaksanakan
beberapa kegiatan terkait berupa program penanaman buah-buah yang diharapkan
akan menjadi unggulan daerah, yaitu durian, pisang, pepaya dan manggis.
Tahap selanjutnya, Tahap Pembangunan, dan juga merupakan bagian dari tahap
selanjutnya berupa kegiatan pembangunan infrastruktur, seperti sarana pengairan
dalam bentuk instalasi sistem pengairan dan tenaga pembangkit, serta embung.
Sebagai tahap akhir adalah Tahap Pengembangan desa yang dilakukan melalui
pengembangan sumberdaya dalam berupa wisata alam.

I.  TAHAP INISIASI (PRA SITE PLAN): 2012

Tahap ini dilakukan dalam bentuk penyusunan Pra Site Plan
Agrowista Buah Durian pada tapak Pertapan (Blok Gandul).
Pengembangan agrowisata yang merupakan bentuk agro-based service
ini, dikembangkan sebagai bentuk pemanfaatan kawasan budidaya pertanian,
khususnya buah-buahan. Program pemerintah daerah Kabupaten Banjarnegara
mengarahkan program pelestarian buah-buah lokal, khususnya durian
jenis Simimang, si kirik, Sunan dan Kamun di Desa Glempang, Kecamatan
Mandiraja.Selain itu disusun juga arahan pengembangan budidaya pertanian dan
agrowisata pada blok-blok lainnya, seperti: Blok Glempang, Blok Kedung Pane,
Blok Kopen, Blok Kamal dan Adimulya dan Blok Karangtunon.
001 Konsep Tata Ruang
002 Zonasi
003 004

(Pra) Site Plan

II. TAHAP INISIASI LANJUTAN (IGTF): 2013
Tahap ini dilakukan melalui program IGTF (IPB Goes to Field)
yang dilakukan oleh mahasiswa IPB secara multidisiplin.
Program yang dilaksanakan dalam tiga minggu ini
menghasilkan, antara lain: peta dasar (peta kontur), peta batas lahan, dan desain tapak.
 tim IGTF 2013a

 

Tim IGTF 2013 di hari kedatangan
di depan Mesjid Agung Banjarnegara
tim IGTF 2013

Tim IGTF bersama tim monitoring
LPPM IPB


III.  TAHAP PEMBANGUNAN (PENANAMAN DAN INFRASTRUKTUR): 2010-2016
Tahap ini dilakukan oleh masyarakat setempat secara swadaya.
Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain: penanaman
buah unggulan (durian), jenis-jenis buah lain (seperti
jambu air, jambu kristal), tanaman sisipan dalam sistem
multiple cropping (sayuran, palawija), ternak dan ikan.
Pada tahap juga dilakukan penerapan inovasi teknologi
pembangkit listrik tenaga kincir air. Sumber listrik ini
digunakan untuk menggerakan pompa air untuk sebagai pemasok
air untuk pengairan di daerah berbukit di tapak Pertapan.
Selain itu di Blok Kopen, telah dibangun reservoir (embung),
sebagai sumber air untuk pengairan yang dialirkan secara
gravitasi di kawasan tersebut.
84d353d4-d752-47fc-aaf8-2e2262a213ac a038218b-cbb4-4fd7-900c-4c2a66c47dba

IV.  TAHAP PENGEMBANGAN (WISATA ALAM): 2017
Selain pembangunan budidaya buah dan agrowisata,
dalam program pembangunannya Desa Glempang juga
mengembangkan potensi sumberdaya alam dan masyarakat.
Salah satu program pengembangan yang dilakukan dengan
berkerjasama dengan Perhutani adalah mengembangkan
kawasan wisata alam di Bukit Watu Sodong. Kawasan wisata
alam ini menyajikan obyek dan daya tarik, berupa pemandangan
skyline (garis cakrawala) pegunungan sekitar, menikmatik
sunset, hicking, camping ground, piknik, motor cross
adventure trail, mountail biking (down hill) dan
gathering.

IMG-20171224-WA0010
82f5edd2-f154-498e-b0c7-b470769c81b3
4d1e80ed-740c-4400-acb1-db44a43f1a5c 9f6af70c-5c77-46b7-854f-d9574d272478
 fe73874d-4fed-4da8-b1f6-5bbfbdd79db8 (1)

MEDIA NOTICE
 Suara Banyumas, 27 Desember 2017watu-sodong gelmpang banjarnegara

 

 Link: [html] [pdf]
Agrowisata Durian Desa Glempang Banjarnegara  Link: [html] [pdf]
Pengembangan Agrowisata Durian Glempang  Link: [html] [pdf]
Desa Glempang Banjarnegara Siap Menjadi Desa Wisata Agro  Link: [html] [pdf]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 26th Dec, 2017

ARL 310 – ANALISIS TAPAK

|  PRESENTASI AKHIR PRAKTIKUM ANALISIS TAPAK

 Dosen:
1.  Afra D.N. Makalew
2.  Qodarian Pramukanto
3.  Rosyidamayanti Twinsari Manningtyas

Asisten:
1.  Putri Anggraeni
2.  Srik Sukma
3.  Laksono

 

001A

|  LOKASI TAPAK

1.  Tapak Terminal Bubulak
2.  Tapak Perumahan Pakuan Regency
3.  Tapak Perumahan Darmaga Cantik
4.  Tapak Desa Cikarawang
 5.  Tapak Situ Gede

|  PERSIAPAN PRESENTASI
PERSIAPAN 002A
PERSIAPAN 003A
PERSIAPAN 004A

|  ASPEK ANALISIS TAPAK
1. Analisis Tanah
2. Analisis Hidrologi
3. Analisis Topografi (Lereng, Drainase, DTA, Aspect)
4. Analisis Iklim & Kenyamanan
5. Analisis User
6. Analisis Vegetasi & Satwa

|  PRESENTASI 10 KELOMPOK
009A Analisis Tapak Terminal Bubulak
007A
011A Analisis Tapak Perumahan Darmaga Cantik
012A Analisis Tapak Perumahan Darmaga Cantik
013A Analisis Tapak Desa Cikarawang
015A Analisis Tapak Situ Gede
 008A Analisis Tapak Perumahan Pakuan Regency
Posted by: Qodarian Pramukanto | 6th Dec, 2017

ARL 310 – ANALISIS TAPAK

K-11: ANALISIS DAYA DUKUNG TAPAK
COVER K-11 ARL 310 ANALISIS DAYA DUKUNG
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
Download Course Material/Link to LMS: [Practical Guideline]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 6th Dec, 2017

ARL 310 – ANALISIS TAPAK

K-10 ANALISIS VEGETASI & SATWA

 
cover2
 
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
Download Course Material/Link to LMS: [Practical Guideline]


Posted by: Qodarian Pramukanto | 22nd Nov, 2017

ARL 310 – ANALISIS TAPAK

K-8: ANALISIS USER
COVER K-08 ARL 310 ANALISIS USER-1

 

 

 

 

 

 

 

Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
Download Course Material/Link to LMS: [Practical Guideline]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 22nd Nov, 2017

K-09: ARL 310 ANALISIS TAPAK

K-09: ANALISIS IKLIM & KENYAMANANCOVER K-09 ARL 310 ANALISIS IKLIM & KENYAMANAN-ok

 

 

 

 

 

 

 

Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 11th Nov, 2017

Chulalongkorn University (CU) Centennial Park, Bangkok, Thailand

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB |
cu100_1
CU Centennial Park merupakan taman kota seluas 30-rai  atau sekitar 4.4 ha yang diresmikan tanggal 26 Maret 2017 oleh Ratu Maha Chakri Sirindhorn.  Karya ini merupakan bentuk inisiatif yang dipersembahkan oleh Universitas Chulalongkorn (CU) untuk menjedi oase di kawasasn jantung kota Bangkok dengan mengubahnya menjadi ruang terbuka hijau bagi warga Bangkok dan masyarakat sekitar yang ingin menghabiskan waktu luang yang berkualitas di lingkungan yang indah dan menyenangkan.  Sesuai dengan namanya, CU Centennial Park, peresmian taman yang bertepatan dengan hari jadi ke 100 tahun universitas tertua di negeri Gajah Putih ini, menjadi tonggak sejarah, tidak saja dalam melihat kipah universitas di masa lampau, tetapi juga dalam menentukan visi dan kontribusi bagi masyarakat pada kurun 100 tahun ke depan.  Desain lanskap taman yang digubah oleh Architectural Studio Landprocess, mengusung konsep melihat masa depan Bangkok dan dunia dalam 100 tahun ke depan, dan  tantangan yang akan kita hadapi, seperti perubahan iklim, untuk kemudian mengevaluasi kembali peran Chulalongkorn dalam berkiprah di masa depan.

Orientasi desain lanskap tidak hanya berkenaan dengan  memilih vegetasi yang tepat atau memberi  keindahan kota, tetapi lebih pada perancangan lingkungan baru yang sebagai kawasan retensi kota, yang mengandalkan adanya rain garden, lahan basah, kolam retensi dan detention lawn…..[Continue reading]

 

Posted by: Qodarian Pramukanto | 13th Sep, 2017

K-01 APLIKASI KOMPUTER UNTUK ARSITEKTUR LANSKAP (ARL 302)

K-01 PENDAHULUAN 
COVER K-01 PENDAHULUAN
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB |

FOCUS  GROUP DISCUSSION (FGD) “PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN EKOWISATA/WANA WISATA“ Studi Kasus Kawasan Ekowisata Nongko Ijo dan Selo Gedong, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, 23 -25 Agustus 2017.
 
 cover fgd-1a
 

fgd

 

Tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk memberikan wawasan, menggali permasalahan, mencari solusi dan implementasinya bagi seluruh pemangku kepentingan dalam mengembangkan Kawasan Ekowisata/Wana Wisata di Kabupaten Madiun, khususnya di kawasan Nongko Ijo, Desa Kare, Kecamatan Kare dan Selo Gedong Desa Bodag, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun.

Kegiatan dilakukan dalam bentuk FGD (Focus  Group Discussion) dengan fokus pada Pengembangan Kawasan Ekowisata/Wana Wisata/Agrowisata (Agro-eko-wisata) melalui Perencanaan dan Pengelolaan serta Implementasi-nya dalam rangka penyusunan Site Plan Ekowisata.  Penyusunan Site Plan difokuskan pada kawasan percontohan, yaitu Ekowisata/Wana Wisata Nongko Idjo dan Selo Gedong.  Selain kegiatan FGD, dilakukan peninjauan lapang ke kedua kawasan ekowisata.  Berdasarkan hasil FGD dan tinjauan lapang disusun konsep pengembangan yang akan dituangkan ke dalam site plan untuk kedua kawasan tersebut.

Kegiatan  ini terselenggara atas kerjasama Lembaga Pengabdian Kepada Masyrakat (LPPM)  Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Pemerintah Kabupaten Madiun pada tanggal 23 -25 Agustus 2017.  

 

Beberapa Obyek dan Daya Tarik Ekowisata Kawasan Nongko Ijo dan Selo Gedong, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun:

NI  

 

Hutan pinus sebagai obyek dan daya tarik kawasan ekowisata  Nongko Ijo melalui pola kemitraan dengan Perhutani

nongko ijo  

 

 

 

Fasilitas eksisting kawasan ekowisata Nongko Ijo

hutan pinus  

 

 

Pemandangan pegunungang, sebagai salah satu daya tarik ekowisata Nongko Ijo

puncak selo gedong  

 

 

Pemandangan ke arah puncak Gunung Wilis dari Selo Gedong (1045 m dpl)

sunset latar belakang puncak gunung lawu  

 

 

Sunset dengan latar belakang Pegunungan Lawu dari Selo Gedong (1045 m dpl)

kota madiun  

 

 

Pemandangan kota Madiun dari Selo Gedong (1045 m dpl)

air terjun selampir  

 

 

Obyek Air Terjun Seweru atau Serondo atau Kedung Malam, yang potensial dikembangan sebagai obyek dan daya tarik ekowisata di wilayah perkebunan kopi, Dusun Seweru, Desa Kare, Kec. Kare, Kab. Madiun

 

Link to download: [pdf] [ppt] [link]

MEDIA NOTICE

MADIUN,RI – Bappeda Gelar Forum Diskusi Untuk Pengembangan Pariwisata Kabupaten Madiun Radar Indonesia Agustus 31, 2017

sisdikasus
Link: [html] [jpg] [pdf]
 
RADAR MEJAYAN, Sabtu, 23 September 2017
Pengembangan Kawasan Selingkar Wilis
BERITA RADAR MEJAYAN
Link: [html] [pdf]
harus aktif munculkan hal baru
Link: [html] [jpg] [pdf]
radar_mejayan_23September2017
Link: [html] [jpg] [pdf]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 12th Jul, 2017

Transformasi Ekologi Ruang Terbuka Hijau Kota: Metamorfosis dari Seoul

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB |

Tapak 30 Hektar
Kota sebagai lingkungan binaan mengokupasi bentang alam untuk memenuhi kebutuhan manusia.  Sementara beban atas dominasi manusia tersebut  “dipikul” oleh lingkungan.  Evolusi penguasaan lahan kota ini, pada awalnya dicirikan oleh tingkat intervensi yang biasanya masih rendah, sehingga kota tersebut masih layak disebut “city in nature”.

Namun eskalasi pembangunan ini lama-kelamaan makin menanjak.  Okupasi lahan kota dengan peruntukan lain, yang menyalahi fungsi dan melampaui kapasitas ekologi sering kali terjadi.  Sampai akhirnya mengancam keberadaan relung-relung alam yang tersisa.  Bahkan “monster” pembangunan ini tidak mustahil melalap habis sumberdaya tersebut tanpa sisa.

Kecenderungan perubahan tatanan alam —ruang terbuka hijau dan kawasan alami— yang radikal tersebut kerap diberitakan dimedia masa.  Kita ketahui juga bahwa peran komponen alam tersebut dalam meremediasi lingkungan perkotaan yang bersifat tidak dapat digantikan itu tidak perlu diperdebatkan lagi.

Dengan keterbatasan lahan, keberadaan “nature in the city” di tengah kepungan hutan beton dan aspal tetap diperlukan.  Oleh karena itu komposisi ruang terbangun dan ruang terbuka hijau dalam porsi yang proporsional sangat penting peranannya —tidak saja bagi manusia tetapi juga— bagi kelestarian lingkungan hidup dengan memelihara keseimbangan lingkungan.

Sehingga untuk kota yang “sehat” kehadirannya mutlak diperlukan.  Bahkan lebih dari itu, seharusnya bisa menjadi barometer untuk mengukur seberapa besar tingkat kelestarian pembangunan yang dilakukan di perkotaan.

Menyadari akan pentingnya infrastruktur alam ini, upaya memulihkan dan mengembalikan tatanan ekosistem yang terganggu atau hilang sudah saatnya dilakukan.   Menghadirkan kembali betuk-bentuk ruang terbuka hijau dan relung-relung alami kota berarti menjamin keseimbangan ekologi kota.  Menguatnya fungsi kawasan “hijau” ini dapat medukung hadirnya organisme lain yang berasosiasi dengannya.  Sehingga kehadiran aneka jenis organisme tersebut akan meningkatkan keanekaragaman hayati kota (urban biodiversity).

Banyak cara untuk mempertahankan unsur alam di kawasan perkotaan ini.  Mulai upaya konservatif mempertahankan fungsi RTH dengan dukungan perangkat hukum yang tegas, merehabilitasi yang rusak sampai upaya radikal  membangun kembali (restore) tapak alami di kota.  Untuk yang terakhir disebut, kasus kelahiran kembali (re-born) kawasan Nanjido di Seoul, ibu kota Korea Selatan, patut untuk disimak.

Nanjido lama —merupakan salah satu dari beberapa pulau yang berada pada dataran banjir di hilir sungai Han— sesuai dengan namanya berarti pulau anggrek dan keranjang jamur.  Selain dikenal dengan dua komoditas tersebut, kawasan lahan basah yang ada di sekitarnya merupakan relung bagi hidupan liar jenis unggas —seperti itik liar, raja udang, kuntul dan ibis—baik yang menetap (resident) dan pengembara musiman (migratory bird).

Sejak 1978, lahan seluas 272 ha ini diokupasi sebagai landfill sampah kota.  Namun aktivitas penimbunan dengan teknik non-sanitary yang mencemari lingkungan dan merusak ekosistem ini dihentikan setelah lima belas tahun beroperasi.  Melalui ”Landfill Recovery Project”, pemerintah metropolitan Seoul mentransformasi kawasan tersebut menjadi dua bukit kembar menyerupai piramid berpuncak datar setinggi lebih 90 meter (Pramukanto, Kompas, 30 April 2005).

Kehadiran dua bukit piramid tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Nanjido baru.  Menyadari kekeliruan kebijakan masa lampau yang merusak lingkungan, pemerintah Seoul menetapkan bukit Haneul —salah satu dari dua bukit piramid tersebut— untuk dikembangkan sebagai Taman Ekologi (Ecological Park).

Desain tapak pada bukit seluas dua puluh empat kali lapangan sepak bola (19.2 hektar) disusun berdasarkan konsep pendekatan ekosistem.  Pendekatan ini sejalan dengan kerangka kerja yang diamanatkan dalam konferensi “The Parties of the Convention on Biological Diversity” (UNESCO-MAB, 2000).

Setelah melalui prosedur standar proses reklamasi timbunan sampah —yang dilakukan melalui pengendalian aliran air lindi (leachate) dengan barrier pelindung vertikal, pengolahan limbah terkontaminasi, ekstraksi dan pengelolaan gas beracun, penutupan permukaan lapisan tanah, cut and fill, stabilisasi lereng dan pembentukan lahan— bukit piramid yang terbentuk menjadi awal dalam metamorfosis pembangunan taman ekologi tersebut.

Gagasan original dalam konsep desain taman ekologi ini menyebutkan, untuk  membangkitkan ekosistem alami ini diterapkan stimulasi minimal pada fase awal.  Untuk itu berbagai rekayasa lingkungan yang bersifat artifisial sebagaimana umumnya diterapkan dalam pembangunan taman harus dihindari.  Penerapan teknik persiapan lahan, pengolahan tanah, pemupukan, pemberantasan hama penyakit, bahkan penanaman tumbuhan tidak dilakukan.

Sesuai dengan fungsinya, konsep pembangunan struktur taman ini berusaha menerapkan prinsip-prinsip ekologi.  Rantai ekologi dibangkitkan dengan cara hati-hati dan sealamiyah mungkin.  Keterlibatan manusia —baik secara langsung dalam membangkitkan sistem ekologi, maupun tidak langsung dalam mengendalikan arah perkembangannya— dilakukan seminimal mungkin.  Bentuk intervensi dilakukan sejauh bersifat sebagai katalisator untuk terbentuknya cikal bakal relung-relung ekologi.  Perkembangan selanjutnya dibiarkan berjalan sendiri secara alami.

10214158
Sebagai kawasan restorasi, kehadiran taman ekologi ini diharapkan mampu menciptakan dan menarik “kembali” organisme tumbuhan dan satwa ke lingkungan kota.  Proses ini merupakan indikasi terbentuknya ekosistem di bukit piramid tersebut.  Tercipta hubungan dinamis baik antar kerabat organisme yang sama, antar jenis berbeda, maupun antar jenis dengan lingkungan abiotik, termasuk interaksi dengan komponen fisik dan kimia.

Proses ini memperlihatkan perspektif terjadinya restorasi bentang alam  ditengah-tengah kepungan hutan beton dan aspal perkotaan.  Berbagai faktor lingkungan dan kondisi sekitar secara alami berperanan sebagai “driving forces” dalam perubahan ekosistem yang dinamis di bukit piramid tersebut, “….the park isn’t fixed nature, but changing nature”.

Dinamika metamorfosis ini merupakan “big picture” yang sarat dengan tema-tema ekologi.  Medium tanah eksisting hasil reklamasi dan lingkungan sekitar secara alami akan menyeleksi kehadiran organisme yang sesuai dengan kondisi dan keterbatasan yang ada.

Pada awalnya kehadiran organisme dipelopori oleh beberapa jenis tumbuhan spontan (spontaneous vegetation) sebagai pionir di lingkungan yang baru.  Kehadiran jenis vegetasi perintis ini akan diikuti oleh vegetasi lain, sampai akhirnya terbentuk suksesi alami dilingkungan tersebut.  Keberadaan komunitas vegetasi tersebut memberi resonansi pada kehadiran satwa kecil —seperti cacing dan serangga— pemakan tumbuhan (herbivora).  Kemudian resonansi ini berlanjut dengan kehadiran satwa pemangsa serangga (karnivora), seperti reptil dan ampibi yang mulai berbagi tempat tinggal pada kawasan tersebut.  Dan seterusnya mengundang berbagai jenis karnivor pemangsa serangga, reptil dan ampibi —seperti burung hantu, elang dan gagak— yang ikut bergabung menjadi penghuni di kawasan ekologi tersebut.

Setiap organisme di atas menempati posisinya dalam level rantai makanan dan energi yang membentuk piramida ekologi.  Piramida ini menggambarkan kelimpahan populasi organisme —sebagai sumber makanan dan energi— dimana semakin tinggi levelnya semakin sedikit jumlahnya pada puncak piramida.

Piramida rantai makanan tersebut secara sederhana dimulai dari tumbuhan —sebagai produsen tingkat pertama yang menempati level terbawah dengan populasi yang “berlimpah”—yang menjadi santapan herbivor yang berada di level atasnya.  Herbivor ini menjadi mangsa dari karnivor tingkat pertama (pemakan daging)  yang ada di atasnya.  Seterusnya mengerucut pada level teratas ditempati oleh top carnivore dan akhirnya jasad dari organisme mati akan diurai bakteri pengurai (decomposer).

Jika scenario metamorfosis —mulai dari organisme “spontan” sampai terbentuk lingkungan alami— dalam taman ekologi tersebut berjalan lancar, keberhasilan tersebut dapat dibuktikan berdasarkan representasi tipe-tipe piramida ekologi yang terbentuk.   Bentuk, ukuran dan jumlah level rantai makanan piramida tersebut menjadi indikasi kekhasan yang komponen-komponen organisme yang membangun piramida ekologi di kawasan tersebut.

Apabila diteropong, proses okupasi oleh anggota hidupan liar tersebut merupakan “lembar catatan” yang perlu ditulis dan dilaporkan secara berkala perkembangannya.  Bentuk response alam yang terjadi di kawasan tersebut menjadi media pembelajaran ekologi kawasan terganggu (disturbed area) di kota.

Fenomena ekologi yang tersaji di taman tersebut merupakan topik kajian menarik berbagai kalangan, mulai dari murid taman kanak-kanak, sekolah dasar, pelajar sekolah menengah, mahasiswa, peneliti, termasuk masyarakat umum, pemerintah dan pengelola untuk terlibat dalam berbagai aktivitas.  Berbagai kegiatan mulai yang bersifat rekreatif, pengenalan dan apresiasi alam, studi, pengamatan, pemantauan sampai penelitian merupakan agenda kegiatan yang sangat penting, ”…nature is your best teacher”.

Walaupun dalam perkembangannya, pembangunan taman ekologi bukit piramid Haneul ini mengalami modifikasi dan beberapa penyimpangan dari konsep awalnya, namun setidaknya gagasan yang diusung patut menjadi pemikiran untuk diterapkan pada kasus serupa di tanah air.  TPA Bantar Gebang, TPA Leuwi Gajah atau tapak lainnya dapat dijadikan model percontohan serupa.

Semoga dalam metamorfosis tapak landfill menjadi taman ekologi ini terbentang pemahaman atas strukur dan fungsi ekologi yang melekat pada RTH sebagai kawasan alami.  Rentangan proses-proses dibalik fungsi dan struktur RTH tersebut merupakan topik pembelajaran atas pentingnya kehadiran organisme hidupan liar sebagai penyeimbang lingkungan.  Tidak mustahil wabah penyakit di kota —seperti ledakan nyamuk vektor deman berdarah— disebabkan oleh hilangnya musuh alami yang mengontrol populasi serangga ini.  Oleh karena itu sudah selayaknya kita galakan program “from city in nature to nature in the city” di perkotaan tanah air.

Lembah Gunung Kwanak, Seoul, Juli 2005
Link to download: [pdf]

Older Posts »

Categories