Posted by: Qodarian Pramukanto | 9th Apr, 2017

‘Berburu’ Bunga Rafflesia di Pananjung Pangandaran

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB | 

 pangandaran_nature_reserve1
Gambar 1.  Cagar Alam Pananjung Pangandaran dengan pemandangan hutan
dataran rendah, tebing pantai yang curam, gua karst, pantai pasir putih
dan biota perairan yang mempesona (Foto: Q. Pramukanto)

 

Pesona kawasan Pananjung Pangandaran, Kabupaten Ciamis sudah terkenal tidak saja karena keindahan pemandangan, hutan pantai dan hutan dataran rendah, tebing pantai yang curam, tetapi juga gua-gua karst, pantai pasir putih, air terjun dan terumbu karang di perairan teluknya (Gambar 1).  Kawasan semenanjung seluas 530 ha yang di zaman kolonial merupakan taman buru dengan objek sasaran buru banteng dan rusa ini, sejak tahun 1961 ditetapkan sebagai Cagar Alam (CA).  Penetapan status sebagai CA, berdasarkan penemuan salah satu tumbuhan endemik yang hanya tumbuh di Pulau Jawa, yaitu Bunga Rafflesia (Rafflesia patma Blume).  Sehingga sejak saat itu aktivitas perburuan di CA tidak diperkenankan.

Namun dengan bidik sasar yang berbeda bentuk baru ‘perburuan’  dengan alat bidik kamera di kawasan ini masih diperkenankan.  Peneliti, mahasiswa dan juga pelajar dapat menjadikan tumbuhan dan juga satwa menjadi objek yang dibidik dalam kegiatan ‘wisata’ ilmiah, termasuk tumbuhan endemik Bunga Rafflesia yang hanya terdapat di tiga Cagar Alam, yaitu Nusakambangan (Cilacap), Leuweung Sancang (Garut) dan Pananjung Pangandaran (Ciamis).

Walaupun demikian  untuk ‘memburu’ keluarga tumbuhan dengan ukuran bunga raksasa ini tidaklah mudah.   Sebab satu-satunya organ yang dapat dikenali adalah bunga.   Organ lain sebagaimana umumnya ada pada tumbuhan lain, seperti daun, batang/ranting dan akar tidak ada.  Hal ini karena tumbuhan tersebut merupakan parasit (holoparasit) yang mendapatkan sumber makanan untuk kebutuhan hidup sepenuhnya bergantung pada tumbuhan inang sejenis pemanjat yang bernama Ki Barera atau Tetrastigma sp.

‘Perburuan’ Bunga Rafflesia di kawasan CA Pananjung Pangandaran dapat dilakukan setelah mendapat Simaksi, yaitu Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi yang dikeluarkan oleh KPH Ciamis.  Surat ini merupakan kontrak antara pengunjung dengan pihak pengelola bahwa dalam kunjungannya, pengunjung akan mematuhi peraturan yang berlaku di dalam Kawasan Cagar Alam.  Setelah mendapat pengarahan dari petugas Jaga Wana (Polisi Hutan) yang memandu kegiatan ilmiah yang kami lakukan dimulailah petualangan menyusuri jalur pendakian yang berbukit, berlembah, kadang menanjak dan menurun serta jalan setapak yang licin karena hujan kemarin.  Setiap langkah yang dilalui dalam jalur pendakian yang cukup menantang tersebut, pandangan mata tertuju pada lantai hutan dimana tumbuhan parasit ini biasanya muncul pada akar tumbuhan inangnya (Gambar 2) .

 03aa
 03bb
Gambar 2.  Jalan setapak menanjak dan menurun yang licin (atas).  Daerah lembah berlereng dengan tumbuhan pemanjat merupakan habitat bagi Bunga Rafflesia (bawah) (Foto: Q. Pramukanto)

 

Setelah melewati hutan pantai, jalur pendakian mulai memasuki hutan dataran rendah yang sejuk karena rapatnya tutupan kanopi hutan, sehingga walaupun berpeluh namun tetap terasa nyaman bagaikan berada di ruang berpendingin raksasa.  Sepanjang jalur pendakian tampak lantai hutan yang dilapisi oleh hamparan serasan dedaunan dengan aroma khas semakin menambah kesan sejuk suasana di bawah lindungan pepohonan.  Ketebalan lapisan serasah ini merupakan ‘reservoir’ alam yang membuat suasana menjadi terasa dingin, dan hal inilah yang menjadikan tempat tumbuh yang disenangi oleh Refflesia.

Setelah berjalan sekitar dua jam yang cukup menguras tenaga, tibalah pada jalur sempit dan menurun menuju dasar lembah dari sungai kecil.  Di bawah tajuk hutan nan rimbun dan batang-batang tumbuhan pemanjat ki Barea yang berseliweran, petugas jaga wana yang memandu kami menunjukan seonggok sisa-sisa bunga Raflesia bewarna coklatkehitaman diantara serasah dedaunan.  Bunga yang sudah layu beberapa hari yang lalu tersebut nyaris sulit dikenali karena warnanya serupa daun-daun mati yang melapisi ketebalan lantai hutan.  Selain Bunga Rafflesia layu yang ditemukan di tiga titik berdekatan, ditemukan pula satu bakal bunga yang belum mekar (kopula) berukuran sebesar corong microfon.  Menurut petugas, ukuran kopula sebesar ini akan mekar dalam waktu sekitar 5 – 6 bulan kemudian (Gambar 3).

 04a
Gambar 3.  Sisa Bunga Rafflesia yang sudah layu (kiri) dan kuncup (copula)
yang muncul pada permukaan akar Ki Barera dan diperkirakan akan mekar dalam waktu 5-6 bulan kemudian (kanan) (Foto: Q. Pramukanto)

 

Walaupun hanya sisa-sisa bunga sudah layu yang pertama kali ditemui,  namun perjumpaan tersebut tidak sekedar mengurangi rasa lelah, bahkan semakin memperkuat semangat  akan menemukan bunga-bunga lain yang masih segar.  Tidak jauh dari lokasi ditemukannya bunga yang layu tersebut, pada permukaan lahan yang berlereng dengan kelembaban tanah yang tinggi oleh serasah lantai hutan yang tebal di tepian aliran air sungai tibalah pada serangkaian penemuan yang menjadi sasaran kami.  Dimulai dengan ditemukan beberapa kopula bunga berukuran lebih besar berbentuk seperti kubis dengan diameter sekitar 20 cm yang akan mekar dalam 2-3 hari dan beberapa kopula lain yang masih kecil-kecil (Gambar 4.), hingga bunga Rafflesia patma mekar berukuran sekitar 30-40 cm yang sudah mekar sekitar 4 hari dan masih segar.

 05
Gambar 3.  Kuncup Bunga Rafflesia yang akan mekar dalam 2 – 3 hari (kiri) dan Kopula
yang akan mekar beberapa bulan kemudian (kanan) (Foto: Q. Pramukanto)

 

Temuan yang menjadi puncak ‘perburuan’, kami dokumentasikan dengan kamera dari beberapa sudut.  Tidak cukup dengan mengambil gambar visual, kami juga membuktikan rasa penasaran untuk mencium aroma bunganya seperti bangkai (Gambar 5.).  Aroma tidak sedap yang kerap juga menjadi sebutan bagi bunga ini sangat penting bagi kelestarian spesies ini.  Bau bangkai tersebut merupakan cara untuk menarik serangga penyerbuk (pollinator).  Melalui penyerbukan silang yang dilakukan jenis lalat sebagai pollinator inilah Rafflesia yang berumah dua dapat menghasilkan buah untuk meneruskan keturunannya.

 rafflesia_patma1
 06cc
 06bb
Gambar 5.  Bunga Rafflesia (Rafflesia patma Blume), muncul diantara serasah lantai hutan
pada akar tumbuhan inang Tetrastigma sp (Foto: Q. Pramukanto)

 

Namun yang menjadi pertanyaan bagaimana buah dan biji yang dihasilkan oleh Bunga Rafflesia ini menginfeksi tumbuhan inangnya.  Menurut Prof. Ervizal Zuhud dari Departemen Konservasi Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, mekanisme masuknya bagian tumbuhan ke dalam inang diduga oleh rayap hutan yang menginfeksi batang dari tumbuhan inang Tetrastigma sp.

Hingga perjalanan pulang, kami beruntung menemukan beberapa bunga yang sedang mekar di beberapa lokasi.  Setidaknya dalam ‘perburuan’ tersebut kami menemukan empat lokasi, dengan 5 bunga yang layu, 5 kopula dan 3 bunga yang sedang mekar.

 

 

Leave a response

Your response:

Categories