Posted by: Qodarian Pramukanto | 15th Jun, 2021

PENGEMBANGAN EKOWISATA DESA KONSERVASI

 

KAMPUNG SUKAGALIH*

DESA CIPEUTEUY, KECAMATAN KABANDUNGAN, KABUPATEN SUKABUMI, PROVINSI JAWA BARAT
Oleh: A. Abdurahman, Herman, Indra, I. Nurjaman, dan P. Wijaya**
.
Sejarah
Sejarah dalam penamaan kampung Sukagalih, kata Sukagalih berasal  dari istilah bahasa Sunda terdiri dari 2 kata yaitu, suka yang  memiliki arti senang sedangkan galih memiliki arti hati yang paling dalam.  Dalam sejarahnya, kampung Sukagalih sebelum ditetapkan masuk dalam kawasan TNGHS, merupakan kawasan milik Perhutani. Pada saat itu masyarakat kampung Sukagalih hidup sebagai buruh perkebunan teh.

Pada tahun 1963 pihak perkebunan memindahkan permukiman warga Kampung Sukagalih ke kampung Pandan Arum yang merupakan wilayah kemandoran yang telah dihuni oleh 160 jiwa pada saat itu. Alasan pihak perkebunan memindahkan warga Sukagalih adalah agar lebih optimal dalam bekerja, karena kampung Pandan Arum daerah yang sangat dekat dengan kawasan perkebunan.

 Pada tahun 1964 mulailah warga kembali membuka atau menata kampung Sukagalih.  Warga yang membuka kembali kampung Sukagalih adalah keluarga Bapak Nim yang disebut warga kampung Sukagalih sebagai generasi pertama yang menempati kampung Sukagalih. Bapak Nim kembali membuka kampung Sukagalih bersama anaknya yang bernama Noeng dan Uneb.   Sebelummnya daerah kampung Sukagalih merupakan kawasan perkebunan teh yang ditinggalkan oleh PT. Inten Hepta.   Bapak Nim dibantu oleh kedua anaknnya dan Bapak Ajo mulai membuka lahan untuk dijadikan permukiman dan lahan pertanian. Sehingga pemerintah Desa Cipeteuy mulai menyadari adanya pembukaan lahan oleh warga tersebut, sehingga mengeluarkan surat berupa tanda pembayaran tanah atau nota pajak yang akan dikelola masuk kas desa. Kemudian pada tahun 1968 Badan Pertanahan Negara (BPN) mengeluarkan surat tanda pajak yang dikenal dengan istilah TUPI.

 Pada tahun 1972, warga yang masih mengelola perkebunan teh, tidak lagi mendapatkan permbayaran (gaji), sehingga sebagai imbalan pihak perkebunan memberikan lahan perkebunan teh tersebut kepada warga sebagai imbalan atas masa 15 tahun kerja. Sehingga BPN melakukan pengukuran ditahun tersebut untuk mengelurkan surat pemberitahuan pajak terhutang (SPPT). Dengan demikain selanjutnya warga kampung Sukagalih membuka lahan untuk dijadikan lahan garapan pertanian dan memulai bercocok tanam hingga sekarang.

Gambaran Umum Kampung Sukagalih
Kampung Sukagalih  merupakan dearah dataran tinggi karena berada di area gunung halimun dan termasuk dalam kawasan Resort Gunung Kendeng (TNGHS), sehingga memiliki iklim yang sejuk dan keindahan alam yang menawan dengan hamparan perbukitannya, dengan jenis tanah lempung baik itu sawah atau kebun. Secara administratif termasuk dalam kedusunan Pandan Arum desa Cipeteuy kec. Kabandungan Sukabumi.  Kampung Sukagalih memiliki luas permukiman sekitar 5 hektar dengan jumlah penduduk sebanyak 128 jiwa, 42 kepala keluarga (KK) dengan 40 rumah serta terdapat satu balai pertemuan.
Kondisi Sosial
Warga kampung Sukagalih masih memiliki hubungan persaudaraan antar warga yang bermukim sehingga dapat dikatakan warga kampung Sukagalih merupakan satu keluarga besar etnik suku sunda sehingga tidak wajar suasana dilingkungan sangat bersahabat dan erat dengan gotong royongnya. [….selanjutnya]

Comments are closed.

Categories