Posted by: Qodarian Pramukanto | 18th Jun, 2021

RICE ESTATE FARMING

.

Desain Persawahan di Desa Ujung Padang, Kecamatan
Aek Natas, Kabupaten Labura, Provinsi Sumatera Utara

Design Of Paddy Wet Field In Ujung Padang Village, Aek Natas Sub-District,
Labura District, North Sumatera Province
Gatot Pramuhadi*, Roh Santoso Budi Waspodo** dan Qodarian Pramukanto***
*Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fateta, IPB Kampus Darmaga, Bogor
**Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fateta, IPB Kampus Darmaga, Bogor
***Departemen Arsitektur Lanskap, Faperta, IPB Kampus Darmaga, BogorPenulis Korespondensi, Email: gpramuhadi@yahoo.com
.
ABSTRAK
Dalam rangka meningkatkan produktivitas padi sesuai dengan program pangan
nasional (intensifikasi dan diversifikasi), perlu dikembangkan metode budidaya padi
dan palawija yang modern dan mengurangi ketergantungan pada alam, serta dikelola secara scientific. Upaya seperti ini diharapkan akan dapat menarik minat investor dalam negeri dan dapat digunakan untuk menekan impor. Tujuan penelitian ini adalah membuat desain persawahan di Desa Ujung Padang, Kecamatan Aek Natas, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Provinsi Sumatera Utara, Indonesia yang secara geografis terletak pada 99.25.00 o – 100.05.00 o Bujur Timur dan 01 o 58’00’’ – 02 o 50’00’’ Lintang Utara. Areal lahan seluas +/- 300 ha di Aek Natas tersebut akan diubah menjadi areal lahan persawahan yang dikelola dengan model sistem pertanian mekanisasi penuh (full mechanized farming system) dan dapat diwujudkan menjadi suatu model “Rice Estate Farming” di kawasan tersebut sehingga bisa digunakan sebagai acuan untuk pengembangan (scaling-up) ke luasan yang lebih besar lagi. Penelitian dilaksanakan pada 11 Juni 2011 hingga 15 Maret 2012. Metode penelitian yaitu survey, kompilasi data primer hasil survey, studi pustaka, kompilasi data sekunder, digitasi peta asli, dan analisis. Hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa lokasi penelitian tersebut sangat cocok untuk budidaya tanaman padi dan palawija. Tanah di lokasi penelitian
bertekstur liat (kandungan fraksi pasir 16-38%, fraksi debu 12-32%, dan fraksi liat 4254%) dan mempunyai nilai tahanan penetrasi tanah sebesar 0.67 kgf/cm2 – 3.90 kgf/cm2 (kondisi kering) sehingga bisa dilumpurkan dan sesuai untuk aplikasi mesin-mesin, seperti bulldozer dan excavator, untuk mengembangkan areal ini menjadi rice estate. Di lokasi penelitian terdapat aliran air Sungai Kualuh yang sangat baik untuk irigasi dengan nilai SAR 1.89 (kelas sangat bagus), debit aliran air sungai cukup pada saat musim kering (kemarau), dan curah hujan bulanan rata-rata sebesar 151.4 mm (minimum pada bulan Februari) hingga 372.8 mm (maksimum pada bulan September).
Hasil analisa lapangan menunjukkan bahwa sistem budidaya padi dan palawija yang
tepat (ekonomis) di areal persawahan ini adalah multikultur dan rayonisasi (90
ha/rayon). Pola tanam “padi – padi – palawija” sangat sesuai di lokasi rice estate
tersebut, tanpa tergantung pada curah hujan. Rice estate ini diharapkan menjadi suatu model budidaya tanaman padi dan palawija modern dengan tingkat produktivitas tanaman yang tinggi sehingga dapat menjadi percontohan bagi petani-petani padi di sekitarnya.Kata kunci: pangan, padi, palawija, sawah, dan rice estate
.
ABSTRACT
In framework to increase paddy productivity that appropriate with national food program (intensification and diversification), so it was necesarry developed modern cultivation method of paddy and secondary crops, and to decrease nature independence, as well as it was scientifically managed. This effort was wished to attract national investor interest and it could be used to suppress import. The objective of the research was to design paddy wet field in Ujung Padang Village, Aek Natas Sub-district, Labuhanbatu Utara (Labura) District, North Sumatera Province, Indonesia that it was geographically located on 99.25.00 o– 100.05.00 o East Longitude and 01 o 58’ 00’’ – 02 o 50’ 00’’ North Latitude. The land area of +/- 300 ha in the Aek Natas District will be converted to become paddy wet field area that it will be managed with full mechanized farming system and it will be realized to be a “Rice Estate Farming” model in this area so that it can be used as a reference for scaling-up to be a greater area. The research was held on June 11, 2011 until March 15, 2012. Research method were field survey, compilation of primary data from field survey, library study, secondary data compilation, original map digitation, and analysis. The field research results showed that the research location was very suitable to cultivate paddy and secondary crops. Soil texture of the land in the research location was clay (sand fraction of 16-38%, silt fraction of 12-32%, and clay fraction of 42-54%) and it had soil penetration resistence of 0.67 kgf/cm2 – 3.90 kgf/cm2 (dry condition) so that it can be puddled and suitable for machines applications, such as bulldozer and excavator. It can be developed to be a rice estate area. In the research location existed of water stream of Kualuh River which was very good to irrigate the land area with SAR value of 1.89 (very good class), water stream debit was sufficient on dry season, and monthly average precipitation of 151.4 mm (minimum on February) up to 372.8 mm (maximum on September). Field analysis results showed that economically exact paddy and secondary crops cultivation system were multicultural crops and rayon systems (90 ha/rayon). Crop pattern of “paddy – paddy – secondary crop” was very suitable to apply in the rice estate area without any reliance from precipitation. The rice estate was wished to be a modern paddy and secondary crops cultivation model with a high crop productivity level so that it can be an example for paddy farmers in the around area.Key words: food, paddy, secondary crops, wet field, and rice estate

Key words: food, paddy, secondary crops, wet field, and rice estate.

.
PENDAHULUAN
Dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan yang meningkat seiring dengan
meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia, maka perlu ditingkatkan
produksi bahan pangan pokok nasional, seperti padi dan palawija. Apabila kebutuhan bahan pangan pokok nasional dapat terpenuhi maka ketahanan pangan nasional akan dapat terwujud. Untuk itu perlu upaya-upaya yang mengarah ke peningkatan produksi pangan nasional.
Upaya-upaya yang mengarah ke peningkatan produksi padi/beras dan peningkatan
pendapatan nasional perlu digalakkan, salah satunya adalah Rice Estate Farming.
Menurut Ruthenberg (1976) estate farming dapat didefinisikan sebagai sejumlah areal, baik yang terdiri dari satu maupun lebih hamparan (kawasan) pertanian dalam skala besar, yang dikelola secara profesional dengan sistem korporasi, baik yang berstatus milik swasta maupun yang berstatus milik negara. Estate farming lebih cenderung untuk menggunakan pola usaha monokultur dibandingkan dengan mengusahakan dua atau lebih komoditas.Estate farming harus dikembangkan dan dibudayakan dengan mendapat dukungan dari semua pihak serta ketersedian prasarana dan sarana produksi pertanian. Saat ini kebijakan pemerintah belum sepenuhnya terintegrasi secara utuh untuk mendukung usaha pertanian tersebut, terutama untuk tanaman padi dan palawija, seperti ….. [pdf-1] [pdf-2]

Comments are closed.

Categories