Posted by: Qodarian Pramukanto | 29th May, 2017

K-12: PLANNING & MANAGEMENT OF AGROTOURISM LANDSCAPE

K-12: PLANNING & MANAGEMENT OF AGROTOURISM LANDSCAPE
cover k-13 plann manag agrotourism landscape-s
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 29th May, 2017

K 13: PEMETAAN KOGNITIF, PERILAKU DAN AKTIVITAS

K 13: PEMETAAN KOGNITIF, PERILAKU DAN AKTIVITAS

COVER ARL 215 PEMETAAN KOGNITIF PERILAKU & AKTIVITAS-S
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
Download Course Material/Link to LMS: [Practical Guideline]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 25th May, 2017

BEDAH BUKU TERBITAN IALI

IALI (Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia) Jawa Barat menyelenggarakan acara bedah buku, untuk buku-buku yang disusun oleh anggota IALI dan beberapa pakar sesuai dengan bidang ilmu yang ditulis.  Buku-buku  yang diterbitkan oleh IALI ini merupakan serial Buku Pengetahuan Praktis.  Pada tahap awal diterbitkan 10 seri buku yang, Insya Allah, akan dilanjutkan dengan seri/judul lain.  Acara diselenggarakan, pada hari Sabtu 20 Mei 2017 (13.00-16.00) di P4W – IPB Baranangsiang, Bogor.  Selain bedah buku, kegiatan IALI Jabar, yang dikemas berupa Dialog Profesi 2017 ini juga menyelenggarakan Tour Kebun Raya Bogor dan VVA Sertifikasi.

18447389_1863120997276009_8503936096663401961_n
seri iali-1
bedah buku iali-1a
bedah buku iali-2a
Seri Buku Pengetahuan Praktis:
1. cover-01a Nurisyah, S. dan B. Nailufar.  2015.  Mengenal Tanaman Taman dan Ruang Terbuka Hijau Kota. Buku Pengetahuan Praktis Seri 01, 44 hal,  Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI).  ISBN 978-602-74293-2-1
2. cover-02a Adriani, H. dan S. Nurisyah.  2015. Tanaman Memanjat untuk Pergola.  Buku Pengetahuan Praktis Seri 02, 32 hal,  Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI).  ISBN 978-602-74293-3-8
3. cover-03a Nawangsih, A.A. dan H.P. Imdad.  2015.  Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman di Taman dan RTH Kota. Buku Pengetahuan Praktis Seri 03, 54 hal,  Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI).  ISBN 978-602-74293-4-5
4. cover-04a Nurisyah, S.  2015.  Pendugaan Nilai Pohon di Kota.  Buku Pengetahuan Praktis Seri 05, 23 hal,  Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI).  ISBN 978-602-74293-5-2
5. cover-05a Nurisyah, S. dan H. Adriani.  2015.  Pohon Tepi Jalan: Kriteria dan Penataan. Buku Pengetahuan Praktis Seri 05, 35 hal,  Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI).  ISBN 978-602-74293-6-9
6. cover-06a Nurisyah, S. dan A. Mardiastuti.  2015.  Tata Hijau Penarik Satwa Burung. Buku Pengetahuan Praktis Seri 06, 37 hal,  Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI).  ISBN 978-602-74293-7-6
7. cover-07a Nurisyah, S., Q. Pramukanto dan B. Nailufar.  2015.  Tata Hijau Bantaran Sungai di Perkotaan.  Buku Pengetahuan Praktis Seri 07, 37 hal,  Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI).  ISBN 978-602-74293-8-3
8. cover-08a Nurisyah, S.  2015.  Hutan Kota Perencanaan Praktis.  Buku Pengetahuan Praktis Seri 08, 41 hal,  Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI).  ISBN 978-603-74293-9-0
9. cover-09a Nurisyah, S. dan Q. Pramukanto.  20.15.  Penambalan Pohon di Taman dan RTH Kota.  Buku Pengetahuan Praktis Seri 09, Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI), 23hal.  ISBN 978-602-61341-0-3
10. cover-10a Nurisyah, S. dan Q. Pramukanto.  2015.  Pelestarian Pohon Tua di Perkotaan.  Buku Pengetahuan Praktis Seri 10, 37hal, Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI). ISBN 978-602-61341-1-0
Posted by: Qodarian Pramukanto | 25th May, 2017

K 11: PENGENDALIAN SKYLINE DALAM PENATAAN KOTA: STUDI KASUS KOREA

K11 cover PENGENDALIAN SKYLINE
Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 25th May, 2017

K 12: PENDEKATAN BIOREGIONAL: EVALUASI PEMANDANGAN

K 12 COVER PENDEKATAN BIOREGION
References:

Amidon, J. 2007. Grant Jones/ Jones & Jones, ILARIS: The Puget Sound Plan.
Princenton Architectural Press

Carlson, C., G. Jones, C. Truppi, and S. Oldham. 1996. Evaluating Scenic Resources. Scenic America, Tech. Inform. Series, 3(1): 1-20.

Jones, G. D.F. Sorey and C.G. Scott. 2007. Applying Visual Reources Assessment for
Highway. In: Landscape Architecture Graphic Standards (pp.130-139).   Hoboken, New Jersey: John Wiley & Sons.

Kim, K.G., Norindr, S., K.S. Park, G.R. Jones, I.Jones, S. Durrant, S.K. Lee,
A.K. Hardy and M.S. Atkinson. 1998. Paju Ecopolis. Ecosystem Management
Strategy. UNDP-Ministry of Science and Technology, Republic of Korea.

Download Course Material/Link to LMS: [Lecture Note]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 25th May, 2017

K 13: FIELDTRIP SURVEI & PEMETAAN TAPAK: KAWASAN LEMBANG, BANDUNG UTARA

 COVER fieldtrip lembang
 
 tangkuban parahu
 
 IMG-20170520-WA0009
 
Panduan praktikum dan form pemetaan (jaringan drainase, batas daerah tangkapan air, lereng, aspect, landform dan landcover/landuse) tersedia di LMS (lms.ipb.ac.id) atau link di bawah.  Demikian juga panduan penyusunan laporan tugas-tugas tersebut yang disusun mulai dari praktikum untuk klasifikasi (delineasi) di studio yang menghasilkan preliminary map yang dilanjutkan dengan fieldcheck/fieldwork di kawasan Lembang dan finalisasi peta-peta tematik.   Tugas dikumpulkan 1 (satu) pekan setelah pelaksanaan fieldtrip.

 

 Download Course Material: [Panduan Praktikum dan Form Survei/Pemetaan]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 16th May, 2017

| ARL 315 | LANDSCAPE OF AGROTOURISM |

UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)
NILAI UTS
DOWNLOAD COURSE MATERIALS: [Nilai UTS]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 13th May, 2017

| ARL 316 | PERENCANAAN LANSKAP |

 

K-12: PERENCANAAN LANSKAP KONSERVASI KAWASAN ALAMI
COVER K-12 ARL 316 PL KAWASAN ALAMI
Download Course Material: [Lecture Note]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 13th May, 2017

| ARL 215 |SURVEI DAN PEMETAAN TAPAK |

K-12: LAND COVER/LAND USE MAPPING
cover k-12 lclu mapping-s
Download Course Materials: [Lecture Note]
P-12: LAND COVER/LAND USE MAPPING
cover p-12 lclu mapping
Download Course Materials: [Practical Guide]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 9th Apr, 2017

‘Berburu’ Bunga Rafflesia di Pananjung Pangandaran

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB | 

 pangandaran_nature_reserve1
Gambar 1.  Cagar Alam Pananjung Pangandaran dengan pemandangan hutan
dataran rendah, tebing pantai yang curam, gua karst, pantai pasir putih
dan biota perairan yang mempesona (Foto: Q. Pramukanto)

 

Pesona kawasan Pananjung Pangandaran, Kabupaten Ciamis sudah terkenal tidak saja karena keindahan pemandangan, hutan pantai dan hutan dataran rendah, tebing pantai yang curam, tetapi juga gua-gua karst, pantai pasir putih, air terjun dan terumbu karang di perairan teluknya (Gambar 1).  Kawasan semenanjung seluas 530 ha yang di zaman kolonial merupakan taman buru dengan objek sasaran buru banteng dan rusa ini, sejak tahun 1961 ditetapkan sebagai Cagar Alam (CA).  Penetapan status sebagai CA, berdasarkan penemuan salah satu tumbuhan endemik yang hanya tumbuh di Pulau Jawa, yaitu Bunga Rafflesia (Rafflesia patma Blume).  Sehingga sejak saat itu aktivitas perburuan di CA tidak diperkenankan.

Namun dengan bidik sasar yang berbeda bentuk baru ‘perburuan’  dengan alat bidik kamera di kawasan ini masih diperkenankan.  Peneliti, mahasiswa dan juga pelajar dapat menjadikan tumbuhan dan juga satwa menjadi objek yang dibidik dalam kegiatan ‘wisata’ ilmiah, termasuk tumbuhan endemik Bunga Rafflesia yang hanya terdapat di tiga Cagar Alam, yaitu Nusakambangan (Cilacap), Leuweung Sancang (Garut) dan Pananjung Pangandaran (Ciamis).

Walaupun demikian  untuk ‘memburu’ keluarga tumbuhan dengan ukuran bunga raksasa ini tidaklah mudah.   Sebab satu-satunya organ yang dapat dikenali adalah bunga.   Organ lain sebagaimana umumnya ada pada tumbuhan lain, seperti daun, batang/ranting dan akar tidak ada.  Hal ini karena tumbuhan tersebut merupakan parasit (holoparasit) yang mendapatkan sumber makanan untuk kebutuhan hidup sepenuhnya bergantung pada tumbuhan inang sejenis pemanjat yang bernama Ki Barera atau Tetrastigma sp.

‘Perburuan’ Bunga Rafflesia di kawasan CA Pananjung Pangandaran dapat dilakukan setelah mendapat Simaksi, yaitu Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi yang dikeluarkan oleh KPH Ciamis.  Surat ini merupakan kontrak antara pengunjung dengan pihak pengelola bahwa dalam kunjungannya, pengunjung akan mematuhi peraturan yang berlaku di dalam Kawasan Cagar Alam.  Setelah mendapat pengarahan dari petugas Jaga Wana (Polisi Hutan) yang memandu kegiatan ilmiah yang kami lakukan dimulailah petualangan menyusuri jalur pendakian yang berbukit, berlembah, kadang menanjak dan menurun serta jalan setapak yang licin karena hujan kemarin.  Setiap langkah yang dilalui dalam jalur pendakian yang cukup menantang tersebut, pandangan mata tertuju pada lantai hutan dimana tumbuhan parasit ini biasanya muncul pada akar tumbuhan inangnya (Gambar 2) .

 03aa
 03bb
Gambar 2.  Jalan setapak menanjak dan menurun yang licin (atas).  Daerah lembah berlereng dengan tumbuhan pemanjat merupakan habitat bagi Bunga Rafflesia (bawah) (Foto: Q. Pramukanto)

 

Setelah melewati hutan pantai, jalur pendakian mulai memasuki hutan dataran rendah yang sejuk karena rapatnya tutupan kanopi hutan, sehingga walaupun berpeluh namun tetap terasa nyaman bagaikan berada di ruang berpendingin raksasa.  Sepanjang jalur pendakian tampak lantai hutan yang dilapisi oleh hamparan serasan dedaunan dengan aroma khas semakin menambah kesan sejuk suasana di bawah lindungan pepohonan.  Ketebalan lapisan serasah ini merupakan ‘reservoir’ alam yang membuat suasana menjadi terasa dingin, dan hal inilah yang menjadikan tempat tumbuh yang disenangi oleh Refflesia.

Setelah berjalan sekitar dua jam yang cukup menguras tenaga, tibalah pada jalur sempit dan menurun menuju dasar lembah dari sungai kecil.  Di bawah tajuk hutan nan rimbun dan batang-batang tumbuhan pemanjat ki Barea yang berseliweran, petugas jaga wana yang memandu kami menunjukan seonggok sisa-sisa bunga Raflesia bewarna coklatkehitaman diantara serasah dedaunan.  Bunga yang sudah layu beberapa hari yang lalu tersebut nyaris sulit dikenali karena warnanya serupa daun-daun mati yang melapisi ketebalan lantai hutan.  Selain Bunga Rafflesia layu yang ditemukan di tiga titik berdekatan, ditemukan pula satu bakal bunga yang belum mekar (kopula) berukuran sebesar corong microfon.  Menurut petugas, ukuran kopula sebesar ini akan mekar dalam waktu sekitar 5 – 6 bulan kemudian (Gambar 3).

 04a
Gambar 3.  Sisa Bunga Rafflesia yang sudah layu (kiri) dan kuncup (copula)
yang muncul pada permukaan akar Ki Barera dan diperkirakan akan mekar dalam waktu 5-6 bulan kemudian (kanan) (Foto: Q. Pramukanto)

 

Walaupun hanya sisa-sisa bunga sudah layu yang pertama kali ditemui,  namun perjumpaan tersebut tidak sekedar mengurangi rasa lelah, bahkan semakin memperkuat semangat  akan menemukan bunga-bunga lain yang masih segar.  Tidak jauh dari lokasi ditemukannya bunga yang layu tersebut, pada permukaan lahan yang berlereng dengan kelembaban tanah yang tinggi oleh serasah lantai hutan yang tebal di tepian aliran air sungai tibalah pada serangkaian penemuan yang menjadi sasaran kami.  Dimulai dengan ditemukan beberapa kopula bunga berukuran lebih besar berbentuk seperti kubis dengan diameter sekitar 20 cm yang akan mekar dalam 2-3 hari dan beberapa kopula lain yang masih kecil-kecil (Gambar 4.), hingga bunga Rafflesia patma mekar berukuran sekitar 30-40 cm yang sudah mekar sekitar 4 hari dan masih segar.

 05
Gambar 3.  Kuncup Bunga Rafflesia yang akan mekar dalam 2 – 3 hari (kiri) dan Kopula
yang akan mekar beberapa bulan kemudian (kanan) (Foto: Q. Pramukanto)

 

Temuan yang menjadi puncak ‘perburuan’, kami dokumentasikan dengan kamera dari beberapa sudut.  Tidak cukup dengan mengambil gambar visual, kami juga membuktikan rasa penasaran untuk mencium aroma bunganya seperti bangkai (Gambar 5.).  Aroma tidak sedap yang kerap juga menjadi sebutan bagi bunga ini sangat penting bagi kelestarian spesies ini.  Bau bangkai tersebut merupakan cara untuk menarik serangga penyerbuk (pollinator).  Melalui penyerbukan silang yang dilakukan jenis lalat sebagai pollinator inilah Rafflesia yang berumah dua dapat menghasilkan buah untuk meneruskan keturunannya.

 rafflesia_patma1
 06cc
 06bb
Gambar 5.  Bunga Rafflesia (Rafflesia patma Blume), muncul diantara serasah lantai hutan
pada akar tumbuhan inang Tetrastigma sp (Foto: Q. Pramukanto)

 

Namun yang menjadi pertanyaan bagaimana buah dan biji yang dihasilkan oleh Bunga Rafflesia ini menginfeksi tumbuhan inangnya.  Menurut Prof. Ervizal Zuhud dari Departemen Konservasi Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, mekanisme masuknya bagian tumbuhan ke dalam inang diduga oleh rayap hutan yang menginfeksi batang dari tumbuhan inang Tetrastigma sp.

Hingga perjalanan pulang, kami beruntung menemukan beberapa bunga yang sedang mekar di beberapa lokasi.  Setidaknya dalam ‘perburuan’ tersebut kami menemukan empat lokasi, dengan 5 bunga yang layu, 5 kopula dan 3 bunga yang sedang mekar.

 

 

« Newer Posts - Older Posts »

Categories