Posted by: Qodarian Pramukanto | 13th May, 2017

| ARL 316 | PERENCANAAN LANSKAP |

 

K-12: PERENCANAAN LANSKAP KONSERVASI KAWASAN ALAMI
COVER K-12 ARL 316 PL KAWASAN ALAMI
Download Course Material: [Lecture Note]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 13th May, 2017

| ARL 215 |SURVEI DAN PEMETAAN TAPAK |

K-12: LAND COVER/LAND USE MAPPING
cover k-12 lclu mapping-s
Download Course Materials: [Lecture Note]
P-12: LAND COVER/LAND USE MAPPING
cover p-12 lclu mapping
Download Course Materials: [Practical Guide]
Posted by: Qodarian Pramukanto | 9th Apr, 2017

‘Berburu’ Bunga Rafflesia di Pananjung Pangandaran

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB | 

 pangandaran_nature_reserve1
Gambar 1.  Cagar Alam Pananjung Pangandaran dengan pemandangan hutan
dataran rendah, tebing pantai yang curam, gua karst, pantai pasir putih
dan biota perairan yang mempesona (Foto: Q. Pramukanto)

 

Pesona kawasan Pananjung Pangandaran, Kabupaten Ciamis sudah terkenal tidak saja karena keindahan pemandangan, hutan pantai dan hutan dataran rendah, tebing pantai yang curam, tetapi juga gua-gua karst, pantai pasir putih, air terjun dan terumbu karang di perairan teluknya (Gambar 1).  Kawasan semenanjung seluas 530 ha yang di zaman kolonial merupakan taman buru dengan objek sasaran buru banteng dan rusa ini, sejak tahun 1961 ditetapkan sebagai Cagar Alam (CA).  Penetapan status sebagai CA, berdasarkan penemuan salah satu tumbuhan endemik yang hanya tumbuh di Pulau Jawa, yaitu Bunga Rafflesia (Rafflesia patma Blume).  Sehingga sejak saat itu aktivitas perburuan di CA tidak diperkenankan.

Namun dengan bidik sasar yang berbeda bentuk baru ‘perburuan’  dengan alat bidik kamera di kawasan ini masih diperkenankan.  Peneliti, mahasiswa dan juga pelajar dapat menjadikan tumbuhan dan juga satwa menjadi objek yang dibidik dalam kegiatan ‘wisata’ ilmiah, termasuk tumbuhan endemik Bunga Rafflesia yang hanya terdapat di tiga Cagar Alam, yaitu Nusakambangan (Cilacap), Leuweung Sancang (Garut) dan Pananjung Pangandaran (Ciamis).

Walaupun demikian  untuk ‘memburu’ keluarga tumbuhan dengan ukuran bunga raksasa ini tidaklah mudah.   Sebab satu-satunya organ yang dapat dikenali adalah bunga.   Organ lain sebagaimana umumnya ada pada tumbuhan lain, seperti daun, batang/ranting dan akar tidak ada.  Hal ini karena tumbuhan tersebut merupakan parasit (holoparasit) yang mendapatkan sumber makanan untuk kebutuhan hidup sepenuhnya bergantung pada tumbuhan inang sejenis pemanjat yang bernama Ki Barera atau Tetrastigma sp.

‘Perburuan’ Bunga Rafflesia di kawasan CA Pananjung Pangandaran dapat dilakukan setelah mendapat Simaksi, yaitu Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi yang dikeluarkan oleh KPH Ciamis.  Surat ini merupakan kontrak antara pengunjung dengan pihak pengelola bahwa dalam kunjungannya, pengunjung akan mematuhi peraturan yang berlaku di dalam Kawasan Cagar Alam.  Setelah mendapat pengarahan dari petugas Jaga Wana (Polisi Hutan) yang memandu kegiatan ilmiah yang kami lakukan dimulailah petualangan menyusuri jalur pendakian yang berbukit, berlembah, kadang menanjak dan menurun serta jalan setapak yang licin karena hujan kemarin.  Setiap langkah yang dilalui dalam jalur pendakian yang cukup menantang tersebut, pandangan mata tertuju pada lantai hutan dimana tumbuhan parasit ini biasanya muncul pada akar tumbuhan inangnya (Gambar 2) .

 03aa
 03bb
Gambar 2.  Jalan setapak menanjak dan menurun yang licin (atas).  Daerah lembah berlereng dengan tumbuhan pemanjat merupakan habitat bagi Bunga Rafflesia (bawah) (Foto: Q. Pramukanto)

 

Setelah melewati hutan pantai, jalur pendakian mulai memasuki hutan dataran rendah yang sejuk karena rapatnya tutupan kanopi hutan, sehingga walaupun berpeluh namun tetap terasa nyaman bagaikan berada di ruang berpendingin raksasa.  Sepanjang jalur pendakian tampak lantai hutan yang dilapisi oleh hamparan serasan dedaunan dengan aroma khas semakin menambah kesan sejuk suasana di bawah lindungan pepohonan.  Ketebalan lapisan serasah ini merupakan ‘reservoir’ alam yang membuat suasana menjadi terasa dingin, dan hal inilah yang menjadikan tempat tumbuh yang disenangi oleh Refflesia.

Setelah berjalan sekitar dua jam yang cukup menguras tenaga, tibalah pada jalur sempit dan menurun menuju dasar lembah dari sungai kecil.  Di bawah tajuk hutan nan rimbun dan batang-batang tumbuhan pemanjat ki Barea yang berseliweran, petugas jaga wana yang memandu kami menunjukan seonggok sisa-sisa bunga Raflesia bewarna coklatkehitaman diantara serasah dedaunan.  Bunga yang sudah layu beberapa hari yang lalu tersebut nyaris sulit dikenali karena warnanya serupa daun-daun mati yang melapisi ketebalan lantai hutan.  Selain Bunga Rafflesia layu yang ditemukan di tiga titik berdekatan, ditemukan pula satu bakal bunga yang belum mekar (kopula) berukuran sebesar corong microfon.  Menurut petugas, ukuran kopula sebesar ini akan mekar dalam waktu sekitar 5 – 6 bulan kemudian (Gambar 3).

 04a
Gambar 3.  Sisa Bunga Rafflesia yang sudah layu (kiri) dan kuncup (copula)
yang muncul pada permukaan akar Ki Barera dan diperkirakan akan mekar dalam waktu 5-6 bulan kemudian (kanan) (Foto: Q. Pramukanto)

 

Walaupun hanya sisa-sisa bunga sudah layu yang pertama kali ditemui,  namun perjumpaan tersebut tidak sekedar mengurangi rasa lelah, bahkan semakin memperkuat semangat  akan menemukan bunga-bunga lain yang masih segar.  Tidak jauh dari lokasi ditemukannya bunga yang layu tersebut, pada permukaan lahan yang berlereng dengan kelembaban tanah yang tinggi oleh serasah lantai hutan yang tebal di tepian aliran air sungai tibalah pada serangkaian penemuan yang menjadi sasaran kami.  Dimulai dengan ditemukan beberapa kopula bunga berukuran lebih besar berbentuk seperti kubis dengan diameter sekitar 20 cm yang akan mekar dalam 2-3 hari dan beberapa kopula lain yang masih kecil-kecil (Gambar 4.), hingga bunga Rafflesia patma mekar berukuran sekitar 30-40 cm yang sudah mekar sekitar 4 hari dan masih segar.

 05
Gambar 3.  Kuncup Bunga Rafflesia yang akan mekar dalam 2 – 3 hari (kiri) dan Kopula
yang akan mekar beberapa bulan kemudian (kanan) (Foto: Q. Pramukanto)

 

Temuan yang menjadi puncak ‘perburuan’, kami dokumentasikan dengan kamera dari beberapa sudut.  Tidak cukup dengan mengambil gambar visual, kami juga membuktikan rasa penasaran untuk mencium aroma bunganya seperti bangkai (Gambar 5.).  Aroma tidak sedap yang kerap juga menjadi sebutan bagi bunga ini sangat penting bagi kelestarian spesies ini.  Bau bangkai tersebut merupakan cara untuk menarik serangga penyerbuk (pollinator).  Melalui penyerbukan silang yang dilakukan jenis lalat sebagai pollinator inilah Rafflesia yang berumah dua dapat menghasilkan buah untuk meneruskan keturunannya.

 rafflesia_patma1
 06cc
 06bb
Gambar 5.  Bunga Rafflesia (Rafflesia patma Blume), muncul diantara serasah lantai hutan
pada akar tumbuhan inang Tetrastigma sp (Foto: Q. Pramukanto)

 

Namun yang menjadi pertanyaan bagaimana buah dan biji yang dihasilkan oleh Bunga Rafflesia ini menginfeksi tumbuhan inangnya.  Menurut Prof. Ervizal Zuhud dari Departemen Konservasi Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, mekanisme masuknya bagian tumbuhan ke dalam inang diduga oleh rayap hutan yang menginfeksi batang dari tumbuhan inang Tetrastigma sp.

Hingga perjalanan pulang, kami beruntung menemukan beberapa bunga yang sedang mekar di beberapa lokasi.  Setidaknya dalam ‘perburuan’ tersebut kami menemukan empat lokasi, dengan 5 bunga yang layu, 5 kopula dan 3 bunga yang sedang mekar.

 

 

Posted by: Qodarian Pramukanto | 3rd Apr, 2017

PENATAAN TAMAN & LANSKAP: BELAJAR DARI KOREA

| QODARIAN PRAMUKANTO | DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP, FAKULTAS PERTANIAN, IPB |

cover presentation penataan lanskap belajar dari korea

.

[pdf] [ppt]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 3rd Apr, 2017

INTERNATIONAL SEMINAR INAKOS, MACH 30, 2017

Exploring Strategies For Social Empowerment Cooperation Between Korea-Indonesia

International Association  of  Korean  Studies  in  Indonesia  (INAKOS), March 30, 2017, Venue: Lantai 3, Gedung Notonagoro, Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada

poster INAKOS 2017a

INAKOS Seminar 2017

Presenter:
1. Collaborating For Social Empowerment In The Turbulent World (Mochtar Mas’oed)
2. Penataan Taman & Lanskap: Belajar Dari Korea (Qodarian Pramukanto) [pdf] [ppt]
3. Prototip Korpus Paralel Multi-Domain (Prihandono & Elsa)
4. Caharcter Recognition Dan Tokennization Bahasa Korea (Prihandono)
5. Kolektivism & Individualism Pada Masyarakat Korea-Selatan Kontemporer (Hwang Who Young)
6. Perbandingan Budaya Masakan Korea-Indonesia: Fokus Mengenai Cabai (Kang, Jhowoong)
7. Konsep Keluarga Dalam Kebudayaan Tradisi Jawa (Chang, Young-Min)
8. Menciptakan Hubungan Industrial (PT Changshin Reksa Jaya)
9. Pengembangan Agribisnis Berbasis Sosial Masyarakat (Anang Sutrsino)
10.Implementasi Konsep Saemaul Undong Korea Selatan (Donna Aisya Saraswati & Septyanto Galan P.)

Posted by: Qodarian Pramukanto | 16th Feb, 2017

Gam, KKachi dan Kearifan Lokal

Di akhir musih gugur (ga-eul) ini di bumi negeri kimchi masih menyisakan sajian keunikan alam. Salah satunya adalah booming buah persimon atau kalau di tanahh air kita dikenal sebagai kesemek. Kalau diamati tampak buah ini agak berbeda dari segi ukuran, warna, bentuk maupun rasanya dengan yang biasa kita lihat di tanah air. Sepintas bentuk dan warnanya mirip buah tomat lokal. Di tanah air buah serupa sering kita lihat umumnya berwarna kuningkehijauan sampai kuning, rasanya manis sedikit asam, berdaging buah agak keras dan kulitnya bergetah yang gatal, sehingga sebelum dimakan biasanya perlu di-“bedaki” dahulu dengan ditaburi powder, oleh karena itu sering disebut juga sebagai “buah genit”.

gamddaki

Sebenarnya dari segi warna, buah persimon yang di Korea disebut gam (감), pada saat masak tidak terlalu berbeda dengan kesemek kita. Gam mempunyai warna buah masak kuningkehijauan yang mirip dengan kesemek kita, tapi kulit buahnya tidak bergetah serta berdaging buah yang lebih lunak dibandingkan kesemek. Namun kalau kita lihat gam yang dijajakan tampak mempunyai corak warna dan ukuran yang berbeda-beda. Ada gam yang berwarna kuningkehijauan, ada yang merah, juga ukurannya ada yang kecil dan ada yang besar. Gam yang berwarna merah adalah gam yang dipanen sebelum masak dan telah melalui proses pengolahan pasca panen tertentu. Selain warna kulitnya berubah menjadi merah sepintas yang mirip tomat, juga daging buahnya menjadi sangat lunak. Untuk gam yang sudah melalui perlakuan khusus ini disebut hong-si (홍시, hong = merah, si=buah).

GAM

Gam disamping sebagai buah yang disukai oleh manusia, juga merupakan pakan dari burung pemakan buah, salah satunya adalah burung yang bernama kkachi ((까치) yang dipercaya oleh orang Korea sebagai fortune bird. Burung dapat dikenali dengan warna bulu pada bagian punggung dan kepala berwarna hitam, serta bagian dada dan sebagian ekornya yang panjang berwarna putih. Apabila di pagi hari terdengar kicau burung ini maka diyakini sebagai pertanda akan datang rezeki pada hari itu. Selain kachi ada jenis burung lain yang dipercaya sebagai penyebab ketidakberuntungan, yaitu burung yang berbulu hitam, mirip burung gagak yang namanya kamakwi(까마귀).

kka-chi

Di semenanjung Korea, kedua jenis burung ini dapat dijumpai dimana-mana, di pedesaan maupun di kota. Bahkan jenis kachi dengan kemudahannya beradaptasi, menyebabkan populasinya terus meningkat. Sehingga saat ini populasinya telah berlebih. Di beberapa tempat, seperti di perkebunan buah pear, jenis ini merupakan hama. Juga, sering kali jenis ini menimbulkan masalah di daerah perkotaan karena kerap membangun sarang pada jalur transmisi listrik, yang sangat membahayakan sistem instalasi.

Terlepas dari kepercayaan terhadap kehadiran kedua jenis unggas, serta
statusnya sebagai hama atau penggangu, namum keberadaannya sebagai bagian dari rantai ekosistem tetap mendapat tempat bagi masyarakat Korea. Kepedulian masyarakat dapat dilihat dalam hal menjamin ketersediaan pakan bagi makhuk bersayap ini. Salah satu bukti dapat ditemukan pada kebiasaan orang Korea dalam memanen buah gam. Kalau mereka mempunyai pohon gam yang sedang berbuah, maka mereka menerapkan etika, tidak akan memanen keseluruhan buah tersebut, tapi tetap membiarkan sebagian buah tersebut dipohon untuk disisakan sebagai pakan bagi burung pemakan buah, yang salah satunya jenis kachi tersebut. Sehingga pemandangan musim gugur yang terjadi di perkebunan gam, hanyalah guguran daun saja namun tetap menyisakan buah pada ranting-ranting pohonya.

Kearifan lokal serupa kerap kita jumpai dalam kehidupan di masyarakat tradisional di tanah air kita, seperti kita temukan di salah satu daerah di Jawa Barat. Etika lingkungan yang diterpakan oleh masyarakat tradisional tersebut dalam memetik buah dari suatu pohon atau memanen di hutan adalah hanya memetik buah-buah yang mampu dijangkau oleh galah dengan panjang tertentu saja. Buah yang berada lebih tinggi dari jangkauan panjang galah tersebut tidak boleh dipetik. Karena buah ini diperuntuknan sebagai jatah pakan bagi satwa lain, seperti burung, kalong, kera atau satwa pemakan buah lainnya.

Semoga saja bentuk kearifan lokal ini tetap terjaga di negeri kita, sehingga salah satu kasus raibnya Daerah Tujuan Wisata”-nya kalong (Pteropus vampirus) dari Kebun Raya Bogor yang mencari pakan di daerah penghasil buah Sukaraja, Gunung Geulis, Sentul, Babakan Madang, Ciawi dan sekitarnya tidak selalu berulang. Mereka bukan sekedar memanen habis buah, tetapi memanen habis pohon-pohon tersebut sampai batang-batangpun tak bersisa dan mengokupasi foraging area bagi satu-satunya mamalia bersayap ini serta menyebut daerah tersebut dengan Bogor Lake Side, Gunung Geulis Country Club, Sentul Highland, dan lain-lain sebutan yang indah-indah, namun jauh dari mengindahkan kearifan lokal.

Lembah Gunung Kwanak, 11 Novermber 2004
Copyright(c)qodarian pramukanto

Posted by: Qodarian Pramukanto | 16th Feb, 2017

SAYEMBARA DESAIN LANSKAP IALI 2017

Sayembara Desain Lanskap RTH Bantaran Sungai Kota Untuk Habitat Burung Berkicau
[IALI, http://iali.or.id/]

flyer-sayembara-iali_REVISI-2-copy

 

Call for the Paper and Participation 

Acla 6th Sym Urban Land FEFU Vlad- 22-24 Jul 17 Fnl CircThe 6th ACLA International Symposium
‘Urban Cultural Landscape and Urban Regeneration’
22 ~ 24 July 2017, at Laboratory of Urban & Landscape Design
FEFU Far Eastern Federal University, Vladivostok, RUSSIA

Collaboration: IGU Commission – C16.25 ‘Landscape Analysis and Landscape Planning’

Preamble
Most of the ancient cultures, especially the Asians in the ancient past ordered the natural world on cosmological principles and shaped harmonious relation with nature, which ultimately resulted into formation of Urban Cultural Landscapes. Mountains and springs, plains and rivers, were sites and channels of sacred power from historical events and timeless sacred forces in evolving the cultural landscapes. And, geographical features were inscribed by human hands to mark their achievement and accomplishments in the frame of built structures and advanced culture of urban world. Such natural and constructed places commonly became centres of advanced human activities and interaction, serving as pivot of harmonizing the world through their inherent message and underpinning meanings ensembles in the Urban Cultural Landscapes, UCL. That is how they require special care for understanding and planning, and also care for maintaining them as nexus of visioning future and fulfilling the SDGs as envisioned by the UNO/ UNESCO.
The planned 6th ACLA Symposium 2017 will broadly examine the role of Urban Cultural and heritage Landscapes in harmonizing the world, with emphasis on awakening the deeper sense of regenerative strategies and measures and making policies, drawing upon the perspectives of multi-disciplinary and cross-cultural interfaces, within and beyond the world of Asia. The three broad themes are given below:
(A) Urban Cultural Landscape, UCL: Spirit of Place: Evolution of Urban Cultural Landscapes, UCL: historicity and cultural continuity; growth and representation of UCL: symbolism and archetype; cosmological principles: spatiality of time and temporality of space; UCL as nexus of global understanding and harmonizing the world; Assessment and appraisal of UNESCO Reports the issues of UCL and HUL, Historic Urban Landscape; Urban Cultural Landscape as System; Values and images of UCL: archaeological, architectural, historic, scientific, aesthetic, socio-cultural or ecological point of view.
(B) Historic Urban Landscape, HUL: Morphology of Urban Landscapes; attributes and representation: tangible and intangible heritages; Regulatory system of UCL and HUL; Ritual landscape as Urban Heritage: ritualisation process, cosmogram and complexity; Architectural approach to urban heritage and cultural landscapes; Sacred city and cosmic order: Issues of UCL and HUL; Strategies for Urban Development; Quality management.
(C) Regenerating Urban Cultural Landscape: Urban Conservation; Public Policy and Urban Conservation; Urban Heritage Management: Changing scenario; Approaches to Regenerating UCL; Greening the City: Urban Ecology & Urban Foresty; Management of Urban Environment; Issues of preserving heritage in Urban Century; Use of HUL and UCL in alternative cultural and heritage tourism and City planning; ‘Interfaces’ and cultural interaction: sharing the experiences of different groups from different parts of Asia, role of NGOs in mass awakening, and public participation in heritage regeneration programmes; ‘Interfaces’ among urban planners, policy makers, and integrated approach to fulfil SDGs, Sustainable Development Goals; issues of Habitat III and their linkages in planning HUL and UCL.

Keynote Speakers
Prof. Dr. Sung-Kyun Kim (President- ACLA); Seoul National University, Seoul, KOREA.
Prof. Maria E. Ignatieva (Urb-Rural Dev.), LaArk, Swedish Univ. Ag Sc, Uppsala, SWEDEN
Prof. Dr. Rana P.B. Singh (Vice-President- ACLA); Banaras Hindu University, INDIA.

Schedule:
2-days focal Symposium: 22~23 July 2017 (Six Sessions), 1-day Field study: 24 July 2017.

§ Abstract Submission Deadline:… 20th April 2017
>> Abstract (200 words + 5 keywords, with full affiliation and address), 12pt TNR ft.: MsWd.-Title, followed with Name, Position and affiliation, Full Address (Mobile, Email), Country.
§ Notification of Abstract Acceptance:… 31st May 2017
§ Final Paper (in Harvard style format; max. 6000 words with Abstract, MSWd):… 30th June 2017

§ Registration Fee:
US$ 300.- (will cover 4/5-nights stay: 21~25 July 2017, Hotel/ FEFU Guest House stay, all the meals, receptions, Symposium kits and publications, and full coverage of field trip).

Scientific Committee

Prof. Alessio Russo, Far Eastern Federal University, Vladivostok, RUSSIA
Prof. Evgeny Korzhov, Far Eastern Federal University Vladivostok, RUSSIA
Prof. Vladimir Pavlovskiy, Far Eastern Federal University, Vladivostok, RUSSIA
Prof. Petr Kuznetsov, Far Eastern Federal University, Vladivostok, RUSSIA
Prof. Sung-Kyun Kim, Seoul National University, Seoul, KOREA
Prof. Ismail Said, Universiti Teknologi Malaysia, Sekudai, Johor, MALAYSIA
Prof. Rana P.B. Singh, Banaras Hindu University, Varanasi, INDIA
Prof. Nodar Elizbarashvili, Chair IGU C16.25, Tbilisi State University, Tbilisi, GEORGIA
Prof. Shangyi ZHOU, Ins. Regional & Urban Planning, Beijing Normal University, CHINA

Contact: Convener & Secretary:

Prof. Dr. Alessio RUSSO, PhD; [Руссо Алессио]
Head of the Laboratory of Urban and Landscape Design, School of Arts,
Culture and Sports, Far Eastern Federal University, Building G,
Office G373, FEFU Campus, Russky Island, Vladivostok 690950, RUSSIA.
Tel. +7 (914) 710 93 82. E-mail: russo.a@dvfu.ru ; www.dvfu.ru/en/

 

[Pdf copy attached: Acla 6th Sym 2017, ACLA NsLetr- 6.1]

Posted by: Qodarian Pramukanto | 22nd Aug, 2014

Dukung Kota Sejuta Taman, IPB Inisiasi Taman Terapi Mandiri Diabetes

tamanres

.

 

Sejak tahun 2009, Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar Jum’at Keliling (Jumling) ke desa-desa lingkar kampus IPB. Tahun ini, IPB kembali menggelar Jumling perdana tahun 2014 di Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat (30/5).

IPB memaknai Jumling sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang Pengabdian kepada Masyarakat. Sejak awal digulirkan, Jumling IPB telah memberdayakan desa-desa disekitarnya mulai dari kegiatan penyuluhan, pendampingan, pemberdayaan masyarakat, posdaya, guru pemantau jentik nyamuk, pelatihan operator fogging, dan lain-lain.Salah satu upaya yang sukses dilakukan dalam kemitraan yang terjalin antara IPB dengan desa sekitarnya adalah dengan adanya posdaya. Posdaya yang ada di Kelurahan Situ Gede adalah Posdaya Kenanga. Di Posdaya Kenangan, warga bisa dengan mudah mengakses pelayanan posyandu bagi Balita dan Lansia, kurikulum PAUD, dan para gurunya pun mendapat pembinaan langsung dari IPB, produk-produk dari UMKM mendapatkan pelatihan pengurusan PIRT, pemetaan kesehatan warga, penanaman sayuran vertikultur, budidaya jamur tiram juga berbagai kegiatan lainnya.“Yang terbaru adalah adanya Taman Terapi Mandiri Diabetes di Posdaya Kenanga. Ini merupakan bentuk dukungan IPB terhadap program pemerintah Kota  Bogor yang mencanangkan Kota Sejuta Taman. Melalui Jumling dan Posdaya IPB berencana untuk mengembangkan taman serupa di desa-desa lainnya,” ujar Dr.drh. Rachmat Hidayat, selaku Koordinator Jumling 2014.
Taman ini didesain khusus bagi penderita Diabetes Melitus dimana tanaman yang dibudidayakan adalah tanaman obat untuk penderita diabetes. Adapun beberapa tanaman yang bisa ditanam dalam taman ini adalah Asam Kandis, Brotowali, Bawang Merah, Bawang Putih, Buncis, Daun Kari, Daun Sendok, Jagung, Jahe, Jambu Biji, Jeruk Purut, Jombang, Keji Beling, Kumis Kucing, Kunyit, Labu Parang, Lamtoro, Lidah Buaya, Mahoni, Maja, Mengkudu, Pare, Pulai, Rambutan, Salam, Sambiloto, Sirih dan Tapak Dara.Selaku Ketua Yayasan Damandiri, Prof. Haryono Suyono mengapresiasi keberhasilan posdaya yang dibina IPB, salah satunya Posdaya Kenanga di Situ Gede. “Melihat keberhasilan yang ada di Posdaya Kenanga ini, saya berani memberikan pelatihan bagi 16 kelurahan di Bogor Barat agar bisa mereplikasi Posdaya Kenanga binaan IPB ini,” ujarnya.
Hadir pula dalam kegiatan ini Rektor IPB, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, Sekretaris Camat Bogor Barat, Budiman, Lurah Situ Gede, Andi, S.IP, Kepala LPPM IPB, Dr. Ir. Prastowo, penggagas Taman Terapi Mandiri Diabetes dari Pusat Studi Biofarmaka IPB, Ir. Qodarian Pramukanto, MSi dan tim.(zul). [pdf] [doc]

 

Link:
LIONMAG, Rabu 4 Juli 2014 [pdfACDSeePrint Job

 

 

 

 

Posted by: Qodarian Pramukanto | 22nd Apr, 2013

Deadlines extended  
ACLA 2013 International Symposium:
“Meanings & Aesthetics in Asian Cultural Landscape”

ACLA Asian Cultural Landscape Association

Date: October 12th (Sat.) ~ 15th (Tue.) 2013.
International Conference Hall, Seoul National University, Seoul, KOREA.
Organised by: SNU Urban Greening Institute
Call for Papers, International Symposium: 12 – 14 October 2013.

• For 20-25 minutes paper presentations, we invite participants to submit
abstracts and CVs related to the themed sessions:

§ 1) Heterogeneity vs. Homogeneity in Cultural Landscape Aesthetics;
§ 2) Exposing the Meanings and Spirit of Place;
§ 3) Making Harmonious Path through Integrity and Co-sharedness.

Deadline: The abstracts submission extended by e-mail up to 25th May 2013.
• Abstracts, maximum of 250 words in MSwd.doc file, and may include figure/s
and graphics.
• In the abstract, please include session topics, title, name of the authors
including complete mailing address and e-mail,  in one MSwd.doc file.
• Your abstract will be reviewed by Scientific Committee. Authors will be
notified about the decision regarding the acceptance or rejection of the
abstract via e-mail by 10th June 2013.
• Abstracts accepted for a paper presentation at the Symposium, should be
developed as papers (3,500 – 6,000max words in length; Harvard Manuel
of format strictly to be followed) to be published in the symposium
proceedings, and research anthologies.
• Deadline for submission of the full papers is 15th August 2013. A template
for full papers will be provided after acceptance as a presenter.


For further information and suggestion/s please contact:

Prof. Dr. Sung-Kyun KIM, Ph.D.
President & Executive Editor – ACLA (Asian Cultural Landscape Association)
Professor, Dept. of Landscape Architecture, College of Agriculture and
Life Sciences,Seoul National University, & Head, Urban Greening Institute,
599 Gwanak-ro, Gwanak-gu, Seoul, 151-921. KOREA.
Tel.: +82-2-880-4872. Fax: +82-2-873-5113. CP: +82-10-6700-2121.
E-mail: sung@snu.ac.kr

CC:
Prof. Dr. Rana P.B. SINGH, Ph.D.
Vice-President & Chief Editor – ACLA (Asian Cultural Landscape Association)
President: SHPEH (Society of Heritage Planning & Environmental Health)
Professor of Cultural Geography and Heritage Studies,
& Head, Dept. of Geography, Banaras Hindu University
# New F – 7, Jodhpur Colony, B.H.U. Campus, Varanasi, UP 221005. INDIA.
Cell: +091-9838-119474. E-mail: ranapbs@gmail.com

for details, see the ACLA Report and Circular, attached [pdf]

« Newer Posts - Older Posts »

Categories