Posted by: Qodarian Pramukanto | 28th Jan, 2020

LEBAH HUTAN: INDIKATOR KUALITAS LINGKUNGAN

 

     Lebah hutan (Aphis dorsata) atau dikenal juga dengan giant bee
merupakan indikator kualitas lingkungan.  Kehadirannya
menggambarkan bahwa lingkungan hidupnya masih baik.
Lingkungan hidup yang baik tersebut menyediakan (resource
provider) kebutuhan hidup bagi lebah tersebut, seperti sumber
pakan (nektar) bagi lebah dewasa, polen, tanaman tempat membangun
sarang dan tanaman tempat berlindung.  Sumber untuk berbagai
kebutuhan hidup lebah tersebut tersedia sepanjang tahun.
Artinya pada sepanjang musim tersedia berbagai sumber kebutuhan
lebah di lingkungan sekitarnya.  Sering kali ketersediaan berbagai
sumber kebutuhan lebah tersebut berada pada jarak yang relatif jauh.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut koloni lebah melalukan migrasi
reguler untuk mendekati sumber tersebut.  Migrasi dillakukan dengan
pola dan periode tertentu.  Koloni (sarang) lebah hutan ini dengan
ukuran yang besar ini biasanya berada pada dahan-dahan pohon yang
tinggi seperti mangris (Koompassia excelsa).
     Koloni lebah ini biasa membuat sarang pada tempat-tempat terbuka,
dengan membangun sarang yang menggantung pada dahan-dahan pohon
besar dan tinggi,  dinding-dinding tebing yang curam, dahan-dahan buatan
dari kayu trembesu yang diletakan melintang pada pohon atau seringkali
pada struktur-struktur bangunan.  Setiap koloni membangun sarang tunggal
yang berbentuk sisir melengkung.
     Masyarakat di Sumatera Selatan menyebut pohon yang dihuni oleh koloni
lebah hutan sebagai “sialang”.  Dalam memanen madu dari pohon ini, terdapat
kearifan lokal yang mempertimbangkan kelestarian koloni lebah.  Biasanya satu
koloni sarang dibagi menjadi tiga bagian.  Sepertiga bagian pertama yang dipanen
biasanya dibuang ke lantai hutan sebagai pakan bagi satwa yang ada di hutan.
Porsi sepertiga bagian kedua yang dipanen akan diambil untuk dimanfaatan/
dikonsumsi.  Sedangkan sepertiga bagian terakhir dibiarkan tidak dipanen.
Porsi sepertiga bagian dari koloni sarang lebah yang terakhir ini dipertahankan
(tidak dipanen) dengan tujuan untuk menginisiasi terjadinya pemulihan
(recovery) koloni sarang lebah, sehingga keberadaan lebah tersebut dapat
dipertahankan.  Bagian koloni yang diambil/dipanen merupakan “kepala
madu” sedangkan bagian yang ditinggalkan merupakan “anak madu” dimana
terdapat anak lebah di dalamnya, sehingga populasi lebah dapat terjaga.
     Di Kalimantan pohon yang dihuni koloni lebah hutan dikenal sebagai lalau.
Keberadaan pohon tersebut dijaga dan dirawat oleh masyarakat dan dilindungi
oleh adat.  Di kawasan Danau Sentarum, koloni lebah hutan biasa berada pada
tikung yang dibuat merupa kayu yang diletakan melintang pada pohon.
Pada musim berbunga, koloni lebah hutan akan membangun sarang pada
tikung-tikung tersebut (qpr).

Comments are closed.

Categories